Home Opini Sadumuk Bathuk Sanyari Bumi

Sadumuk Bathuk Sanyari Bumi

130
0
Ben Senang Galus, penulis buku “Hermeneutika Filsafat Jawa dan Kosmologi Jawa”, tinggal di Yogyakarta

BERNASNEWS.COM – Akhir-akhir ini banyak pengamat berkomentar Indonesia berada dalam zona bahaya atau zona merah dari sebuah negara bangsa lemah (Failed State) yang bergerak menuju negara gagal, dengan menunjuk beberapa indikator negara lemah diantaranya: perekonomian yang lemah dan tingginya eskalasi konflik sosial (antaragama, antaraetnis, antarpendukung partai politik-ingat kasus Partai Demokrat), tingginya angka korupsi, lemahnya penegakan hukum. Apabila hal itu tidak segera ditangani, para pengamat pun khawatir kelak Indonesia akan mengalami nasib yang sama dengan Uni Soviet.  

Fenomena kegagalan negara bukan hal yang baru di dunia. Setelah keruntuhan Uni Soviet, dari jumlah 192 negara yang berada dalam transisi demokrasi, di antaranya banyak yang lemah dan menghadapi bahaya menuju kegagalan. Gagal dan di antaranya telah gagal pada tahun 1990 dan beberapa di antaranya telah runtuh.

Sejak periode itu konflik dalam negeri sangat banyak terjadi yang mengakibatkan jutaan meninggal dan mengungsi di negaranya sendiri. Ini merupakan ancaman bagi tertib dunia. Dalam keadaan sekarang dunia tidak dapat lagi mengambil jarak terhadap kebersamaan negara yang lemah atau gagal. Kegagalan negara berdampak tidak hanya pada situasi keamanan dan kedamaian di negara bersangkutan, tetapi juga negara-negara tetangga dan tertib dunia secara keseluruhan. Karena itu merupakan sesuatu yang imperatif bagi masyarakat internasional dan organisasi-organisasi multinasional untuk mencegah suatu negara menjadi negara lemah dan negara gagal.

Kelemahan atau kegagalan negara bangsa, bisa karena faktor-faktor fisik geografis, faktor sejarah akibat kesalahan-kesalahan pada masa kolonial, kebijakan luar negeri atau kesalahan lainnya, misalnya kesalahan kebijakan dan strategi pembangunan untuk sebuah daerah, sebut saja misalnya Papua atau Aceh.

Namun, faktor utama kegagalan suatu negara lebih karena faktor lemahnya kompetensi pemimpin negara, baik kompetensi individu, kompetensi fungsional, maupun kompetensi sosial. Lemahnya kompetensi itu akan membawa resiko keputusan-keputusan yang salah dan merusak dari para pemimpin memberikan kontribusi yang besar terhadap kegagalan negara.

Meminjam bahasa Robert I, Rotberg, indikator negara yang kuat antara lain tingkat keamanan dan kebebasan yang tinggi, perlindungan lingkungan untuk menjadi pertumbuhan ekonomi, sejahtera dan damai, yang kesemuanya bisa dimungkinkan kalau ada pemimpin yang kuat dan didukung rakyat.

Sebaliknya negara-negara yang gagal cenderung menghadapi konflik yang berkelanjutan, tidak aman, kekerasan komunal, maupun kekerasan negara sangat tinggi, permusuhan karena etnik agama ataupun bahasa, teror, jalan-jalan atau infrastruktur fisik lainnya dibiarkan rusak. Seolah rakyat hidup tanpa pemerintahan, tanpa keamanan, tanpa infrastruktur fisik untuk masyarakatnya.

Buruknya kinerja sistem politik tentu sangat merncemaskan bagi kelangsungan hidup bangsa dan negara dalam sebuah era globalisasi ini. Untuk bisa survive, dan sekaligus tidak menjadi negara gagal (failed state) dalam pengertian memiliki power and wealth.

Namun dalam kenyataannya, Indonesia telah menjadi negara yang sangat lemah (a very weak state), padahal mempunyai sumber daya alam yang sangat melimpah. Ini karena buruknya kinerja sistem politik dalam memecahkan persoalan-persoalan bangsa dan negara. Agar Indonesia tidak menjadi atau menuju negara gagal, hendaknya para pemimpin bangsa belajar kepada tiga tokoh wayang.

Belajar pada Tiga Tokoh Wayang

Dalam Babat Giyanti terungkap ucapan Pangeran Mangkubumi Sadumuk Bathuk, Sanyari Bumi dan Lakoni Taker Pati Pecahing Dada Wutahing Ludira. Ungkapan tersebut ingin menegaskan bahwa kehormatan diri dan tanah air bagi bangsa Indonesia merupakan sesuatu yang sangat penting. Bahkan orang sanggup membelanya dengan taruhan nyawa. Makna lain dari ungkapan ini sesungguhnya bagaimana mengukur semangat nasionalisme kita saat ini.

Semangat nasionalisme bangsa kita bisa kita telusuri dari Serat Tripama (Sri Mangkunegara IV). Serat ini menceritakan tentang tiga tauladan utama keprajuritan dan warga negara yang total mengabdikan hidup dan perjuangannya di garisnya masing-masing.

Pertama, Patih Suwanda, dalam keteladanan pertama yang dipersonifikasikan oleh Patih Suwanda terkandung makna bahwa seorang prajurit haruslah memiliki tiga hal, yaitu guna, kaya, dan purun. Ketiga hal ini tidak boleh tidak harus melekat pada jiwa seorang prajurit. Manusia tidak tergiur oleh kemakmuran duniawi yang berada dalam genggamannya. Ia tidak pernah berpikir berjuang hanya untuk kepentingan pribadi, kelompok atau golongannya.

Patih Suwanda ketika masih kecil bernama Bambang Sumantri, putra Begawan Suwandagni. Sesudah dewasa ia mengabdikan diri kepada Prabu Sasrabahu, Raja Maespati. Sebagai abdi negara ia telah menunjukkan loyalitasnya dengan mengorbankan jiwa dan raganya.

Pada suatu ketika Patih Suwnada diiutus oleh rajanya, ia kembali memperoleh harta rampasan perang yang berlimpah-limpah. Banyaknya hasil rampasan itu tidak disimpan sendiri, tetapi diserahkan kepada negara. Purun berarti pemberani, bersemangat, dan dinamis sebagai pemuka negara. Suwanda selalu tampil dengan semangat menyala-nyala tanpa disertai pamrih. Bahkan bila perlu jiwa raganya pun dikorbankan. Hal ini terbukti ketika ia berperang melawan Dasamuka, raja Alengka dan ia gugur di medan laga.

Kedua, Kumbakarna. Kumbakarna adalah seorang prajurit yang berwajah raksasa tapi berhati kesatria, yang hidup di tengah-tengah negara yang dipimpin oleh seorang diktator yang angka murka. Sifat ksatria ini tampak ketika Kumbakarna harus mempertahankan bangsa dan negara yang diserang musuh. Ia adalah sosok berjiwa nasional yang tinggi, karena ia memiliki pendapat bahwa “right or wrong is my country”. Selain berjiwa ksatria ia juga figur yang patut diteladani dalam hal bela negara.

Untuk itu Kumbakarna dengan kesadaran dan kebebasan yang ia miliki harus tetap mengambil suatu keputusan apapun resikonya. Kebimbangan eksistensi ini dapat terjawab dengan melihat bahwa ia (Kumbakarna) adalah seorang senopati yang bertugas mempertahankan tanah air kelahirannya. Sebagai senopati yang bersumpah menepati darma haruslah siap diterjunkan ke medan perang sewaktu-waktu ketika negara membutuhkan dan inilah sumpah kesetiaan seorang senopati yang harus tetap dijunjung tinggi.

Selain sebagai panglima, teristimewa Kumbokarno adalah seorang bangsawan, sehingga bisa saja ia mengelak dari tugasnya tersebut. Namun hal tersebut tidak dilakukan dikarenakan ia bukan seorang pecundang, hal ini tertanam dalam diri Kumbokarno yang sejak kecil selalu melakukan olah kesatria baik fisik maupun batinnya.

Nasehat-nasehat dari orang-orang terdekat lambat laun membentuk suatu pandangan hidup bagi diri Kumbokarno. Pandangan hidup yang selalu dipegang teguh oleh Kumbokarno itu adalah sadumuk bathuk sanyari bumi ditohi pati yang secara harfiah dapat diartikan bahwa perkara yang menyangkut tanah air, jika diganggu maka akan dibela atau diperjuangkan sekalipun nyawa sebagai bayarannya.

Tanah adalah harta pusaka yang melambangkan harga diri, terlebih jika tanah itu adalah tanah warisan para leluhur yang selalu dipuja-puja. Harta yang harus dipertahankan dari kekuasaan pihak lain, karena tanah tersebut tempat kita dilahirkan, tempat kita mencari penghidupan dan kehidupan; tanah tumpah darah.

Sikap Kumbokarno ini sejalan dengan Jean Paul Sartre, dalam The Transcendence of the Ego (2004), mengatakan, “mengenai kecemasan bahwa keputusan seseorang ambil adalah tepat, ketika seseorang memilih untuk ikut serta dalam perang membela negerinya, dan membayangkan bahwa pilihan tersebut adalah yang tepat dan dengan demikian mengharapkan manusia lainnya juga mengambil pilihan yang sama”.

Kecerahan akan keyakinan sikap akan maju ke medan perang ini seakan disetujui pula oleh pemikiran Karl Jaspers, dalam General Psychopathology (1997), yang menilai bahwa dengan keyakinan, manusia dapat menghayati suatu persoalan dan menghayati siapa dirinya. Keyakinan adalah hal penting berdasarkan refleksitas manusia dalam memandang persoalan dan manusia rela mati dalam keyakinannya tersebut dikarenakan keyakinan dihayati sebagai kehadiran dari yang transenden.

Ketiga, Adipati Karna. Adipati Karna adalah seorang ksatria harus tahu membalas budi, bahkan kalau perlu dibawa sampai mati. Tokoh ini juga merupakan simbol keteguhan hati, karena jika tidak, seorang akan menjadi prajurit yang lemah dan mudah dibujuk oleh berbagai macam godaan berupa kenikmatan duniawi yang mengakibatkan jatuh ke dalam dosa.

Ketika itu Adipati Karna dibujuk agar berpihak kepada Pandawa karena ia saudara kandung Pandawa, namun karena tetap beriman kuat dan lebih memilih menjadi benteng dari negara yang telah membesarkannya. Akhirnya ia menjadi pahlawan bagi bangsa Kurawa yang dipimpin pula oleh seorang yang berjiwa jahat dan serakah. Seperti halnya Kumbakarna, ia adalah mutiara di tengah lumpur kejahatan yang menjadi sifat dari hampir semua warga negara Astina.

Karna dilahirkan di luar kehendak ibunya, Kunti. Bahkan kelahirannya tidak melalui pintu rahim sebagaimana layaknya seorang bayi, tetapi melalui lubang telinga. Setelah lahir Kunti tambah bingung. Apa yang harus diperbuatnya dengan anak Dewa Surya itu. Untuk menghindarkan kutuk dan malu, bayi itu akhirnya dimasukkan ke dalam kendaga lalu dihanyutkan ke dalam sungai.

Tak tahulah bagaimana perasaan bayi Karna pada waktu itu. Ia hanya bayi yang dapat menangis saja. Inilah awal penderitaan yang dialami oleh Karna di dunia. Menurut seorang ahli ilmu jiwa, Otto Rank, kelahiran adalah suatu pengalaman pedih pertama yang menjadi dasar bagi penderitaan manusia sepanjang hidupnya. Lahir ke dunia berarti “dikeluarkan dari Taman Firdaus”, terlempar menjadi seorang pengembara yatim piatu di dalam dunia.

Pendapat Otto Rank ini menjadi nyata dalam kehidupan Karna. Penderitaan Karna semakin nyata dalam sebagian hidupnya bersama Ki Adirata dan Nyi Nanda, seorang kusir kereta Astina. Sebagai seorang anak kusir Karna harus membantu pekerjaan orangtuanya dari mencari rumput sampai memandikan kuda-kuda. Karna benar-benar menjalani masa mudanya dalam penderitaan kaum Sudra.

Jika kehidupan Karna direnungkan dari penderitaannya maka kelahiran Karna tak dapat dipisahkan dari kematiannya dalam perang besar Bharata. Kelahiran Karna sudah mengandung misteri Bharatayudha. Sebagai seorang anak ia telah berbakti kepada orangtuanya, sebagai ksatria ia telah melakukan kewajibannya dalam membela negara. Tetapi nasib begitu malang merenggutnya. Nasib telah lebih dulu menentukan ia harus mati dalam Bharatayudha.

Karna bukan tidak tahu akan nasib yang bakal menimpa dirinya, tetapi dengan kesadaran penuh akan tanggung jawabnya (sebagai pribadi dan sebagai senopati Korawa) ia terima nasib itu dengan lapang dada. Oleh karena itulah ajakan Kunti dan juga Kresna agar ia menyeberang memihak Pandhawa ditolaknya dengan halus.

Kepada Kresna Karna berkata, “Saya tahu Kurawa pasti akan lebur walaupun dibantu dengan kekuatan militer bagaimana pun kuatnya. Saya pun tahu artinya Suradira Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti, tetapi saya juga tahu apa kewajiban seorang prajurit sejati. Akulah yang menghendaki perang Bharatayudha segera terjadi, agar angkara murka di muka bumi ini segera lebur. Dengan inilah berarti aku telah menjalankan dharma dan karmaku.”

Karna telah merelakan dirinya sebagai tumbal bagi kemenangan saudara-saudaranya, Pandawa. Maka kejayaan Karna sebagai adipati hanyalah setitik embun di padang gersang. Kejayaan dan kelimpahan harta adipati itu tak kuasa menghapuskan penderitaan Karna, bahkan justru mempertajam kontradiksi antara penderitaan sebelumnya dan ketragisan sesudahnya.

Ketika Karna harus berhadapan dengan Arjuna dalam perang tanding, Bathara Indra menjadi gelisah. Bathara Indra tahu bahwa Karna memiliki perisai di dada yang sangat sakti, hadiah Dewa Surya. Tiada senjata lain yang dapat mengalahkan perisai Karna itu. Maka Bathara Indra datang dengan menyamar sebagai pendeta tua untuk meminta perisai Karna. Tetapi sebelum satu patah kata pun terucap dari bibir Bathara Indra, Karna telah memberikan perisai pusaka itu.

Kepada Bathara Indra Karna berkata, “Biarlah saya yang mati, sebab jika Dinda Arjuna yang mati akan sangat sedihlah hati Bunda Kunti. Dinda Arjuna begitu dekat di hati Bunda sedangkan aku, memang sejak kecil tidak bersatu dengan Bunda.”

Mendengar kata-kata Karna itu sangat kagumlah Bathara Indra, maka ia segera berubah ke wujud semula, dan serta-merta memeluk Karna. Di sinilah kebesaran Karna semakin tampak, ia tidak dapat dikalahkan dalam keadaan apapun.

Nyatalah bahwa makna hidup bukan terletak pada status, gengsi dan struktur, tetapi pada bagaimana hidup itu dijalani. Bagaimana pengorbanan, kegagalan yang terpaksa harus dijatuhkan, dan tumbal yang harus diadakan itu dihayati sebagai keberadaan hidup dan kehidupan itu sendiri ( Aloysius Indratmo, 2007)

Indonesia yang dilanda multi krisis dewasa ini memerlukan kepemimpinan nasional yang ikhlas dan komit untuk berkorban dalam semangat jihad (menurut keyakinan Islam) untuk membangkitkan spirit, aktivisme dan intelektualisme beserta segenap sumber daya rakyat dalam menyelamatkan reformasi total yang pada hakekatnya adalah menyelamatkan bangsa dan negara.

Para pemimpin generasi tua terbukti telah menyia-nyiakan kesempatan sejarah (historical opportunity) untuk mengimplementasikan enam visi reformasi yang sudah dipertaruhkan jutaan rakyat, mahasiswa dan kaum muda dengan darah dan airmata.

Generasi tua ini ternyata sangat lembek, penuh intrik, saling sikut dan sarat pertarungan kepentingan (conflict of interest). Ujungnya adalah perebutan kekuasaan dan uang, dengan cara mendayagunakan ”konstitusionalisme” sebagai senjata legal formal untuk mempertahankan atau menjatuhkan kekuasaan. (Ben Senang Galus, penulis buku “Hermeneutika Filsafat Jawa dan Kosmologi Jawa”, tinggal di Yogyakarta)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here