Home News Di Tengah Pandemi Covid-19, Masih Ada Warga yang Hibahkan Tanah

Di Tengah Pandemi Covid-19, Masih Ada Warga yang Hibahkan Tanah

265
0
Umat Katolik Dusun Gayam, Desa Gayamharja, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman bergotong-royong membersihkan lahan calon tempat pembangunan kapel. Foto : Istimewa

BERNASNEWS.COM – Di tengah masa pandemi Covid-19 tidak sedikit orang menguras tabungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari karena bisnis atau usaha/sumber mata pencahariannya berhenti bergerak. Bahkan tidak sedikit yang menjual harta benda, rumah dan tanah, untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Namun, tidak demikian bagi keluarga Aloysius Daliman, warga RT 05/RW 07 Dusun Gayam, Desa Gayamharja, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman. Mereka justru menghibahkan tanah warisan orangtuanya, Kramawiharja, seluas 275 meter persegi.

“Keluarga kami sebenarnya tidak kaya, namun kami menghibahkan tanah kami untuk kepentingan masyarakat yang lebih luas, khususnya umat Katolik yang membutuhkan tempat ibadah,” kata Aloysius Daliman melalui layanan pesan whatsapp kepada Bernasnews.com, 5 November 2020.

Tokoh umat Katolik DIY Hendricus Mulyono atau Mbah Mul (tengah) foto bersama umat setempat saat meninjau lokasi. Foto : Istimewa

Niat tulus untuk menghibahkan tanah milik keluarga tersebut berawal dari keprihatinan melihat umat Katolik dari 3 lingkungan yakni Lingkungan Santo Yusup Gayam, Lingkungan Santo Atanasius Benda dan Lingkungan Santo Fransiskus Pangkah, semuanya di wilayah Paroki Dalem (Sawit, Gantiwara, Klaten) yang tidak memiliki tempat untuk berkumpul dan beribadah. Untuk beribadah, umat Katolik yang berjumlah sekitar 150 orang dari 3 lingkungan tersebut harus berjalan cukup jauh ke gereja paroki.

Namun, dengan adanya kesepakatan dan niat baik keluarga, maka mereka menghibahkan tanah seluas 275 meter persegi itu untuk dibangun kapel. Saat ini, secara gotong-royong umat membersihkan lahan, meratakan tanah sambil menunggu izin pembangunan.

Lahan calon lokasi pembangunan kapel. Foto : Istimewa

“Sekali seminggu umat bergotong-royong membersihkan lahan sambil menunggu izin pembangunan dan bantuan dana untuk biaya pembangunan. Kami mengharapkan uluran tangan dari mana pun untuk memperlancar pembangunan kapel ini,” kata Daliman.

Beberapa waktu lalu, salah satu tokoh umat Katolik DIY, Hendricus Mulyono yang lebih dengan panggilan Mbah Mul, mengunjungi lokasi tersebut. Mbah Mul berusaha membantu mengurus izin pembangunan kapel tersebut.

“Kalau melihat jarak tempat tinggal umat Katolik dengan gereja di sana memang sangat jauh. Sehingga pembangunan kapel sangat mendesak untuk direalisasikan,” kata Mbah Mul. (lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here