Sunday, August 14, 2022
spot_imgspot_imgspot_img
spot_img
HomeOpiniRusuh Suporter Sepak Bola, Salah Siapa?

Rusuh Suporter Sepak Bola, Salah Siapa?

bernasnews.com – Kerusuhan suporter sepak bola kembali terjadi, antara pendukung Persis Solo dengan warga Yogyakarta pada Senin (25/7). Padahal bukan pertandingan antara Persis Solo melawan klub asal Yogyakarta. Tetapi, pendukung Persis Solo berencana ke Magelang menonton klub kesayangannya melawan Dewa United. Namun dalam perjalanannya diduga suporter Persis Solo melakukan aksi provokasi saat melintas di kawasan Gejayan dan Tugu Pal Putih Yogyakarta. Akhirnya, pada malam harinya warga melakukan sweeping Plat AD Solo. Suasana mencekam, dan semua ini karena sepak bola.

Seringnya kerusuhan yang terjadi hanya berujung pada tindakan hukum bagi suporter yang melakukan pelanggaran dan permintaan maaf dari pejabat. Belum ada upaya yang cerdas dari federasi olahraga ini. Padahal, PSSI memiliki departemen khusus suporter. Wajar jika kemudian Akmal Marhali, koordinator Save Our Soccer (SOS) dalam wawancaranya dengan harian Kompas (26/7) mengatakan bahwa departemen khusus suporter itu hanya formalitas tidak pernah terjun ke lapangan mengurai masalah mencari solusi. “Jadi membunuh itu menjadi hal biasa, karena tidak ada regulasinya. Bahkan anarkisme dijadikan budaya” jelasnya.

Kenapa kerusuhan suporter sepak bola sering terjadi? Nils Havemann, ilmuwan politik berkebangsaan Jerman memberikan jawaban yang pas. Karena sepakbola membantu orang untuk merasa menjadi bagian yang lebih sesuatu yang lebih besar dari dirinya. Ini yang disebut proses identifikasi. Perasaan menjadi bagian dari kelompok membuat orang merasa kuat menghadapi tantangan kehidupan dan melepaskannya dari kesepian hidup. Terbukti, lihatlah para suporter jika sendirian terlihat lucu-lucu dan sopan. Tetapi begitu mereka bergabung dengan kawannya semuanya bisa berubah. 

Persis yang dikatakan filsuf Jean Paul Sartre “manusia perlu menunjukkan eksistensinya untuk mendapatkan esensinya sebagai manusia” Eksistensi ini yang ditunjukkan melalui kekuatan fisik untuk mendapat pengakuan dirinya sebagai manusia. Karena kekerasan secara individual sulit diekspresikan, akhirnya wadah suporter dianggap sebagai organisasi yang pas.

Proses identifikasi dirinya sendiri sebagai kelompok pada akhirnya memunculkan fanatisme ekstrem. Mencintai kelompoknya dan memandang kelompok lain sebagai musuhnya dengan alasan yang tidak masuk akal. Sampai pada titik ini, sepak bola berubah menjadi sumber konflik, membelah dan memisahkan masyarakat. Sangat wajar jika kemudian, Havemann menegaskan bahwa sepak bola telah menjadi sebuah kultur, cara hidup. Termasuk kultur hooliganisme, perilaku agresif dan brutal dari kelompok suporter. Sampai Margaret Thatcher lantang berkata, “hooliganisme adalah aib bagi masyarakat beradab.”

Sepak bola memang tidak hanya sekedar olahraga, jauh melampaui batasan itu, sudah menjadi urusan hidup atau mati. Jim White, penulis dan presenter Inggris menulis dalam bukunya Manchester United, The Biography, “sepakbola memang tidak bisa dipisahkan dari persoalan sosial. Apa yang terjadi di antara suporter adalah fenomena sosial yang komplek.” Di Italia, derby Inter Milan melawan AC Milan disebut sebagai perang kaum miskin (Milan) melawan kaum kaya (Inter). Di Turki ada Fenerbache (kaum miskin) melawan Galatasaray (aristokrat). Bahkan di Skotlandia sentimen agama dibawa, Glasgow Celtic melawan Glasgow Rangers. Celtic membawa panji Katolik dan sekaligus pembebasan dari kerajaan Inggris. Sedang Rangers membawa panji Protestan dan sekaligus bentuk kesetiaan pada kerajaan Inggris.

Kesimpulannya, kerusuhan suporter, suka tidak suka, merupakan cermin kondisi situasi sosial masyarakat. Kelompok suporter menjadi tempat pelarian individu karena dirinya terasing (teralienasi) dari struktur sosial ekonomi masyarakat. Terlebih, sepak bola sudah menjadi industri. Uang menciptakan ketidakadilan terutama bagi mereka yang tidak memilikinya. Sekelompok anak muda “Sultan” membeli klub bola untuk menunjukkan eksistensinya, sementara dalam jumlah besar, anak muda lain bergabung menunjukkan eksistensinya melalui kelompok suporter. Saat klub RANS Nusantara milik Raffi Ahmad bertanding dan kalah dari Persija (16,7.), suporter Persija menyanyikan yel-yel, “Rafatar nangis,,,Rafatar nangis….” jadi bukti awal dari kekerasan dalam sepak bola dalam bentuk ejekan.

Jika PSSI tidak segera berbenah mengatur pembinaan kelompok suporter, maka kerusuhan seperti ini diyakini akan terus terjadi. Akhirnya kita akan membenarkan apa yang dikatakan Lord Baden Powel, Bapak Pramuka Dunia, “sepak bola hanya baik untuk pemainnya, bukan penontonnya.” (O Gozali)

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments