Home Opini Rumah Hantu

Rumah Hantu

549
0
Bakti Wibowo, SE, MSi, BPPT Yogyakarta & Wakil Ketua 4 ISEI Cabang Yogyakarta. (Foto: Dok. Pribadi)

BERNASNEWS.COM — Saya dulu sering membayangkan, bahwa kantor-kantor dan mall yang megah itu suatu saat bisa menjadi “rumah hantu”, karena ditinggalkan para penghuninya. Dulu dulu sekali, awal-awal saya mulai bekerja, sekitar tahun 1989. Karena suatu keperluan penyiapan pekerjaan besuk harinya, saya pernah bekerja lembur sampai larut malam, sendirian di kantor.

Tentu setelah ijin para Satpam yang menunggu di lantai bawah, saya naik lagi dan mulai mulai bekerja di lantai 7. Saya baru belajar mengetik dengan komputer, setelah bisa mengetik dengan mesin ketik elektrik. Ketika baru  asyik bekerja saya terkejut bukan kepalang, tidak ada suara langkah orang, tiba-tiba ada suara “kletek…krit-krit-krit”, saya terhentak sebentar dan takut karena ada suara tak ada wujud.

Setelah mata menyapu keliling ruangan satu sayap lantai tidak ada orang, saya berpikir, mungkinkah itu suara tikus? Bukan. Dengan memberanikan diri saya hampiri arah suara. Ah, ternyata suara dari mesin facsimile/ fax di ruang komputer-telepon yang masih asing sekali bagi saya waktu itu. Maklum cah ndesa.

Paginya, sebagai student relation officer (SRO), saya baru menerima tembusan surat laporan itu yang merupakan laporan studi triwulanan dari seorang karyasiswa gradute dari USA yang ditujukan kepada ketua steering comitee OFP. Karyasiswa itu satu-satunya dari 50 orang karyasiswa yang saya kelola administrasinya (yang kebetulan beliau sekarang menjadi kepala badan di kantor saya). Saya masih tergumun-gumun.

Waktu itulah saya mulai membayangkan, sebenarnya nanti suatu saat tidak perlulah orang datang ke kantor, cukup dari rumah masing-masing memanfaatkan mesin cetak teleuntuk membuat laporan kerja, hasil riset, konsep surat dan lain-lain. Kecuali pabrik-pabrik sandang, pabrik pangan, pelabuhan, bandara, stasiun, pembangunan fisik memang harus banyak orangnya, meskipun sebagian juga sudah diganti mesin/robot.

Bank-bank meskipun semakin banyak pengguna jasanya nanti juga mengurangi teller-nya wong sudah banyak mesin ATM (Ambil Tendili Money-nya). Kantor pos, akan mengurangi mengirim surat, tapi bertambah mengirim barang saja. Nggak tahu telegramnya. Kalau telepon mungkin akan lebih sibuk dengan perkembangannya.

Setelah era selanjutnya, yakni 1990-an mulai terjadi penggunaan internet yang semakin meluas. Surat kabar tidak harus dicetak dari ibukota dan dibawa pesawat/ kereta/ truk ke kota lain, cukup dengan telewriter dari jauh, sehingga mengurangi biaya distribusi koran. Kemudian pada era selanjutnya berkembang banyak koran online. Wartawan dan penulis tak harus datang ke kantor. Era digital dimulai.

Lha sekarang malah ada sebagian koran tak perlu dicetak, cukup dengan online. Oplah berkurang drastis. Uang juga tak perlu dicetak banyak-banyak, wong sudah ada uang digital, hanya mindah rekening saja. Era 2000, Handphone (HP) semakin banyak digunakan, meskipun masih generasi 2. Era 2010 HP semakin ngembrah hingga Black Bery (BB).

Menuju era 2020 an era digital semakin total. Bayangan saya tentang “rumah hantu” semakin nyata dan banyak  terjadi pada masa pandemi Covid-19 ini. Kantor saya menjadi sepi sekali ketika  diberlakukan karyawan hanya boleh masuk 25 % – 50 %, di saat pandemi ini, untuk alasan mengurangi penularan Covid-19.

Terminal, stasiun, bandara sepi. Sarana angkutan sebagian rehat, sak operatornya. Pasar-pasar sepi, tidak temawon (ramai) lagi,  pembeli cukup pesan dari rumah, ada ojek online (ojol) atau kurir yang bisa diminta batuannya. Kalau datang juga tak perlu bawa uang sekarung, cukup bawa hapé yang ada QRIS dan Quota saja. Mall-mall ditutup, cukup sebagian untuk showroom produk, belinya dengan sistem online saja. Rumah makan juga cukup dengan sistem dalam jaringan/daring.

Sekolahan dan kampus juga jadi “rumah hantu”, ditinggal penghuninya, guru – murid, dosen – mahasiswa harus membuka hapé atau laptopnya untuk kegiatan belajar mengajar. Begitu juga bisa sebenarnya, kalau terpaksa. Tentu juga ada plus minusnya belajar dengan sistem daring, di era normal baru. Banyak bangunan megah yang akan menjadi rumah hantu ….. hiiii. (Bakti Wibowo, SE, MSi, BPPT Yogyakarta & Wakil Ketua 4 ISEI Cabang Yogyakarta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here