Home Opini River View

River View

439
0
Bakti Wibawa, SE, MSi, Perekayasan BPPT Cabang Yogyakarta & Wakil Ketua 4 ISEI Cabang Yogyakarta. (Foto: Dok. Pribadi)

BERNASNEWS.COM — Potensi sumberdaya air di kota Yogyakarta dan sekitarnya (bahkan DIY) sebenarnya sangat besar. Jika sumber-sumber air dan sungainya dapat dikelola dengan baik dan benar pasti akan memberikan nilai tambah ekonomi yang luar biasa. Untuk mewujudkan itu semua sangat dibutuhkan adanya suatu kerjasama yang erat dan bahu membahu antar warga masyarakat, pemerintah dan pihak-pihak terkait lainnya.

Air sungai yang selalu ada sepanjang musim, dengan debit yang berbeda-beda tergantung pada  musimnya bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Bisa dimanfaatkan untuk air baku dari air bersih,  bisa juga untuk irigasi pertanian dengan segala sistem jaringannya.  Pada kegiatan pertanian yang digarap, dikelola dan ditampilkan dengan baik oleh petani, maka akan memberikan eksternalitas positif yang besar, sehingga bisa dinikmat pihak lain tanpa pengorbanan khusus dari petani/penggarapnya. Eksternalitas positif tersebut dapat terlihat  seperti pemandangan yang indah dan asri dari ladang dan persawahan atau perkebunan di sekitar sungai, selokan/saluran irigasi sekunder dan tersier yang bisa dinikmati oleh para penggowes dan semua orang yang lewat di situ.

Di sisi lain, di beberapa  titik sepanjang bantaran sungai selama masih diijinkan oleh Dinas Pengairan/ skpd terkait, maka dengan air yang  terjamin keberadaannya tersebut berbagai tanaman hijauan/ rumput-rumputan, bunga-bungaan dan  tanaman hortikultur yang layak bisa ditanam secara berjenjang dan berlapis. Sistem pertanian terpadu  bisa dikembangkan dan dikelola dengan baik. Hasilnya merupakan program penghijauan yang menghasilkan oksigen berlimpah dan gratis. Pada gilirannya unsur alami bagi daerah tersebut tentu akan menambah kesejukan, ketenteraman dan kenyamanan baik bagi warga yang tinggal maupun yang melewati daerah tersebut.

Jika tanaman penghijauan yang diusahakan dan tumbuh subur di sekitar daerah aliran sungai (DAS) tersebut dapat dimanfaatkan untuk peternakan dengan segala penerapan teknik beternak yang ramah lingkungan pasti akan memberikan hasil yang bagus sekali. Nanti sistem recycle bisa diterapkan, misalnya, penghijauan dimanfaatkan untuk pakan ternak,  kotoran ternaknya diolah menjadi biogas dan sisanya dimanfaatkan untuk pupuk kandang, dikembalikan pada tanaman penghasil hijauan.   Tanamannya senang, ternaknya senang,  yang menanam tanaman dan yang memelihara ternak senang, yang melihat juga senang. Dimana-mana hatinya senang, kok seperti lagu. 

Tanaman sejenis buah-buahan musiman seperti pepaya, mangga, pisang, jambu (kok seperti lagu juga ya), ada pula nangka, srikaya, alpukat, sirsat, dan buah-buahan lainnya bisa ditanam secara rapih dan teratur di sepanjang bantaran. Diperlukan payung hukum atau aturan yang menjamin tidak akan terjadi tumpang tindih aturan atau konflik kepentingan, semua kegiatan bertujuan untuk kepentingan bersama tentu hasilnya akan sangat bermanfaat dan menjamin ketersediaan bahan pangan bagi warga sekitar daerah aliran sungai atau infrastruktur pengairan.  

Di sungainya sendiri, apalagi di sekitar bendungan yang airnya tenang bisa dimanfaatkan oleh para penambang pasir untuk berkegiatan produktif, sekaligus menjaga kedalaman sungai, sudah dikeruk secara periodik, ada simbiosis mutualitik. Hasil pasirnya bisa untuk bahan bangunan, bisa juga langsung dimanfaatkan untuk pembuatan pavling block dan batako, yang tentu juga punya nilai tambah tersendiri. Bisa juga untuk bermain perahu dayung atau tambang penyeberangan yang bisa mengefisienkan waktu jika jembatan penyeberangan dirasa cukup jauh.

Jika kebersihan sungai dan keamanan dari limbah berbahayanya terjaga tentu juga bisa untuk program ekstensifikasi dan intensifikasi perikanan. Aliran air di saluran sekunder atau tersier yang diambil dari intake kali besar yang cukup, bersih dan bisa diatur dapat dimanfaatkan untuk memelihara ikan, baik yang sifatnya untuk konsumsi seperti nila, gurameh, patin dan lele, ataupun ikan-ikan untuk peliharaan, seperti ikan hias dan koi. Coba bayangkan, seandainya ada CSR dari suatu perusahaan besar, menebar bibit ikan sebanyak-banyaknya dari hulu-hulu sungai, biarkan menjadi ikan liar dan makan apa yang ada di kali, pakan herbal dan alami. Berbagai jenis ikan seperti  nila, tambra, palung, gabus, lele, dan lain lain. Asal sudah ada peraturan dan hukum yang ditegakkan.

Semua warga dari hulu sampai arah hilir mustinya sudah sadar hukum dan sadar lingkungan. Sampah-sampah tidak dibuang sembarangan ke dalam sungai, melainkan sudah terkelola dengan baik oleh warga. Tanggul kuat dan pagar-pagar pengamannya dibuat rapi dan indah karena dicat warna-warni. Jalan inspeksinya bisa diperkuat dengan pavling block atau diaspal, rumah-rumah di bantaran sungai rapi dan dicat warna-warni seperti pelangi, tentu perlu dilengkapi juga dengan lampu penerangan di malam hari tentu akan memperindah pemandangan yang sangat bisa dinikmati. Ditambah lagi sikap para penghuni sekitar bantaran kali yang ramah dan peduli, tentu akan menambah suasana hati yang nyaman bagi semua.  Pokmen, bisa mewujudkan Yogyakarta berhati nyaman, yakni Yogyakarta yang bersih, sehat, indah dan nyaman. Kok seperti judul gendhing ya?

Ambillah contoh pada kawasan Bendung Lepen Mrican di wilayah Giwangan, yang dulu kumuh sekarang menjadi asri. Sebenarnya sudah eksis sebelum pandemi, namun sempat sepi, sekarang mulai ramai dikunjungi orang kembali. Awalnya para pemuda Karang Taruna berinisiatif untuk membuat kawasan yang dulunya kumuh dan digunakan untuk kandang ternak digunakan untuk dirubah menjadi destinasi wisata. Inisiatif yang brilian, didukung semua warga juga bisa memanfaatkan situasi dan kondisi tersebut untuk kompak bekerja bersama-sama BUMDes/ Unit usaha kelurahan untuk membuat destinasi kreatif dan produktif. Orang-orang yang tinggal di sekitar bantaran sungai saat ini sudah bisa menikmati perubahan lingkungan rumahnya, bahkan bisa menambah penghasilan dengan menyulap tempat menjadi destinasi wisata lokal yang asyik.

Nyicil ayem, ada informasi bahwa Pemerintah Kota Yogyakarta juga sudah berniat akan lebih menggencarkan dan menggarap kawasan wisata alternatif. Kampung-kampung di pinggiran sungai, akan menjadi arah baru bagi bangkitnya wisata pascapandemi Covid-19, semoga terealisir. Ada beberapa paket jalur wisata bersepeda yang bisa dikembangkangkan. Nantinya bisa dengan menyusuri jalur bantaran sungai Winongo, sungai  Code, atau sungai Gajah Wong. Bisa dibuat jalur-jalur sepeda wisata dengan cara menyusur berbagai sungai, tergantung jarak yang ditentukan.

Di sini perlu keterlibatan para pengurus kampung, pelaku wisata, pemandu wisata, bekerja sama dengan hotel, agar menyiapkan paket-paket gowes bagi tamu yang rutenya ke arah sungai dan melewati kampung-kampung wisata. Pada kawasan sepanjang jalur sepeda di bantaran sungai itulah masyarakat bisa membuka berbagai usaha, khususnya kuliner dan sovenir ketika para wisatawan bersepeda melewati kampung tersebut. Tentu akan mengungkit perekonomian sekitar dan akan terjadi multiplier effect.

Saya membayangkan, jika kali Boyong yang kemudian menjadi kali Code ketika hampir masuk wilayah kota Jogja itu, juga kali Gajahwong, kali Winongo, kali Bedog, kali Tambakbayan, kali Opak, Selokan Mataram dan selokan-selokan itu bisa terawat dengan  baik dan diberdayakan tentu menjadi sentra ekonomi yang luar biasa. Sekarang baru beberapa titik di bantaran sungai yang dimanfaatkan. 

Mudah-mudahan semakin banyak titik-titik yang bisa dikembangkan. Tentu harus melibatkan berbagai pihak, pemerintah – non pemerintahan, termasuk perusahaan-perusahaan besar yang mempunyai kewajiban sosialnya lewat CSR. Akan semakin banyak warga yang merubah menghadapkan rumahnya dari semula membelakangi sungai menjadi menghadap ke sungai (river view).  Semoga! (Bakti Wibawa, SE, MSi, Perekayasan BPPT Cabang Yogyakarta & Wakil Ketua 4 ISEI Cabang Yogyakarta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here