Ribuan Umat Katolik Berziarah ke Gua Maria Tritis, Gunung Kidul

    1322
    0
    Ribuan umat Katolik memadati Gua Maria Tritis Gunungkidul untuk mengikuti misa dan ziarah, Minggu (27/10/2019). Foto : Philipus Jehamun/ Bernasnews.com

    BERNASNEWS.COM — Ribuan umat Katolik dari berbagai wilayah di DIY maupun luar DIY melakukan ziarah ke Gua Maria Tritis, Kabupaten Gunung Kidul, DIY, Minggu (27/10/2019). Dengan menggunakan bus umum, mobil pribadi maupun sepeda motor, mereka mendatangi Gua Maria Tritis yang terletak di Dusun Bulu, Desa Giring, Kecamatan Paliyan, Kabupaten Gunung Kidul.

    Setelah turun dari kendaraan yang diparkir di sepanjang tepi Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) itu, mereka berjalan kaki naik dan turun bukit karst di bawah terik panas matahari menuju Gua Maria Tritis. Sebagian umat langsung menuju gua alami tempat Patung Bunda Maria berada, dan sebagian lagi mengikuti prosesi jalan salib sebelum masuk ke gua untuk berdoa di depan patung Bunda Maria yang terbuat dari batu hitam itu.

    Sejumlah umat berjalan kaki menuju Gua Maria Tritis Gunungkidul, Minggu (27/10/2019). Foto : Philipus Jehamun/ Bernasnews.com

    Dari pengamatan Bernasnews.com, Minggu (27/10/2019), untuk mencapai gua tempat patung Bunda Maria berada, sebagian besar peziarah berjalan kaki menyusuri jalan mendaki melewati lereng bukit karst lalu menapki jalan menurun terjal hingga pelataran parkir sekitar 100 meter sebelum memasuki gua atau tempat istirahat yang dilengkapi fasilitas kamar mandi. Sementara sebagian lagi, terutama ibu-ibu dan bapak-bapak yang sudah sepuh, memilih menggunakan jasa tukang ojek sepeda motor yang merupakan warga setempat dengan tarif Rp 10.000 sekali jalan.

    Dengan demikian, keberadaan Gua Maria Tritis membawa berkat bagi warga setempat. Sebab, selain memanfaatkan jasa tukang ojek, para peziarah juga berbelanja aneka kebutuhan, terutama makanan dan minuman, yang dijual warga setempat di warung-warung di tepi jalan ke luar kawasan gua menuju tempat parkir kendaraan. Di sisi kiri kanan jalan keluar kawasan gua terdapat puluhan warung yang menyediakan makanan dan minuman murah dan sehat yang dijual warga desa setempat.

    Ratusan kendaraan pengangkut ribuan peziarah parkir di tepi Jalan Jalur Lintas Selatan Paliyan, Gunungkidul, Minggu (27/10/2019). Foto : Philipus Jehamun/ Bernasnews.com

    “Dengan membeli makanan dan minuman maupun oleh-oleh dari para pedagang di kawasan gua, umat membagi berkat bagi warga setempat sekitar gua,” kata Susi, salah seorang peziarah asal Semarang, yang ditemui Bernasnews.com di sebuah warung tepi jalan ke luar kawasan Gua Maria Tritis, Minggu (27/10/2019).

    Kompleks Gua Maria Tritis yang berada di balik sebuah bukit dengan Patung Bunda Maria berdiri tegak di dalam sebuah gua alami di bawah batu raksasa itu, kini sedang dalam proses renovasi secara besar-besaran. Sebagian besar jalan di kawasan itu sudah dibangun dengan corblok atau konstruksi beton sehingga sangat nyaman, baik bagi pejalan kaki maupun menggunakan kendaraan bermotor. Namun, saat ini hanya sepeda motor milik tukang ojek yang boleh masuk mendekati Gua Maria, sementara kendaraan peziarah belum diperbolehkan karena pembangunan jalan-jalan di dalam kompleks gua belum selesai 100 persen.

    Gua Maria Tritis Paliyan, Gunungkidul, Minggu (27/10/2019). Foto : Philipus Jehamun/ Bernasnews.com

    Untuk masuk ke dalam goa, para peziarah yang melewati jalur biasa bisa berjalan sekitar 30 menit atau sekitar 500 meter dari tempat parkir bus sampai di mulut gua. Sementara bagi peziarah yang melakukan jalan salib harus berjalan memutari bukit karst dengan 14 pemberhentian. Selama perjalanan terdapat diorama kisah sengsara Yesus dan tepat pada stasi ke-12 ada tiga salib di bawah bukit yang menggambarkan penyaliban Yesus bersama 2 orang lainnya.

    Saat berjalan menuju gua akan menikmati keindahan alam khas Gunungsewu yang terdiri dari perbukitan dan kebun jati yang meranggas saat musim kemarau. Di Gua Maria Tritis yang juga disebut Gua Perantara Wahyu Tritis, terdapat meja altar untuk misa, sementara Patung Bunda Maria berada di sisi kanan agak ke dalam. Suasana tenang sangat terasa karena gua itu berada jauh dari pemukiman warga.

    Gua Maria Tritis sendiri merupakan tempat ziarah umat Katolik yang berada di wilayah Paroki Wonosari. Menurut beberapa sumber, awalnya Paroki Wonosari dipimpin Rm Arcadius Donywahjana SJ yang bertugas sejak tahun 1963 hingga 1973. Romo Dony-sapaan akrab Romo Arcadius Donywahjana SJ-bersahabat dengan seorang tokoh Agama Buddha bernama S Hadisumarta. Keduanya sering datang ke makam Ki Ageng Giring dan gua (saat itu belum diberi nama Goa Maria Tritis) untuk melakukan meditasi.

    Ribuan wisatawan memadati Pantai Sadranan Gunungkidul, Minggu (27/10/2019). Foto : Philipus Jehamun/ Bernasnews.com

    Dan menjelang Natal tahun 1974, pastor Paroki R Al Hardjasudarma SJ mendengar cerita seorang anak SD tentang keindahan gua, yang tak jauh dari ladang orangtua anak tersebut. Setelah diketahui bahwa Rm Dony sering datang bersama sahabatnya, Hadisumarta, ke sana, lalu muncul ide agar umat Katolik berdoa di sana.

    Dan pada tahun 1977, Gua Maria Tritis resmi dibuka dan diberkati oleh Rm Siegfried Zagnweh SJ yang juga merupakan pastor Paroki Wonosari. Kemudian, dibuat patung Bunda Maria dari batu putih. Nama Tritis diberikan karena adanya tetesan air dari atas melalui stalaktit yang ada. Tahun 1992 patung batu putih diganti lebih kecil yang terbuat dari semen. Namun, pada tahun 2011 Romo Paroki Wonosari Rm Sp Bambang Ponco Santosa SJ mengganti patung Bunda Maria dengan bahan batu hitam dan diberkati oleh Mgr Yoh Pujasumarta yang saat itu sebagai Uskup Agung Semarang dan diberi nama ‘Maria Perantara Wahyu’ hingga sekarang.

    Sebagian peziarah hilir mudik di arena dekat Gua Maria Tritis, Minggu (27/10/2019). Foto : Philipus Jehamun/ Bernasnews.com

    Setelah berziarah di Gua Maria Tritis, sebagian besar atau bahkan hampir semua peziarah melanjutkan perjalanan dengan berwisata ke pantai-pantai yang ada di Kabupaten Gunung Kidul. Seperti yang dilakukan rombongan mantan Muda-mudi Katolik (Mudika) Lingkungan Brayat Minulyo Nologaten yang kini menjadi dua lingkungan yakni Lingkungan St Agustinus Nologaten dan Lingkungan FX Ambarukmo, Minggu (27/10/2019), setelah berziarah ke Gua Maria Tritis, mereka melanjutkan berwisata ke Pantai Sadranan.

    Setelah istirahat sejenak untuk makan siang dan pembagian kado silang dengan sedikit pengarahan dari Ketua Lingkungan FX Ambarukmo Titik Walujanti tentang rencana kegiatan selanjutnya, di tempat peristirahatan Sakuntala, mereka menikmati keindahan Pantai Sadranan bersama ribuan wisatawan lainnya.

    Elisabeth Setyaningsih, yang memimpin rombongan mantan Muda-mudi Katolik (Mudika) Lingkungan FX Ambarukmo dan Lingkungan St Agustinus Nologaten, Paroki St Yohanses Rasul Pringwulung, mengatakan, pihaknya berziarah ke Gua Maria Tritis sebagai salah satu bentuk penghormatan kepada Bunda Maria, Ibu Yesus. Sebab, selama bulan Oktober yang merupakan Bulan Rosaria dalam tradisi Agama Katolik, selain melakukan doa Rosaria secara rutin setiap malam baik menetap di satu tempat maupun berpindah-pindah atau bergilir di rumah-rumah umat, umat Katolik juga diharapkan berziarah ke Gua Maria yang diinginkan.

    Ribuan umat Katolik dengan khusuk mengikuti misa di Gua Maria Tritis, Minggu (27/10/2019). Foto : Philipus Jehamun/ Bernasnews.com

    “Ziarah ke Gua Maria Tritis ini sebenarnya juga sebagai ajang reuni bagi teman-teman mantan Mudika Nologaten yang saat itu masih berada dalam satu lingkungan dengan nama Lingkungan Brayat Minulyo Nologaten. Dan kesempatan ini juga sebagai awal untuk mengaktifkan kembali teman-teman mantan Mudika dalam berbagai kegiatan agar hubungan persaudaraan tetap terjalin,” kata Mbak Ning-sapaan akrab Elisabeth Setyaningsih.

    Hal yang sama disampaikan Ketua Lingkungan FX Ambarukmo Titik Walujanti. “Ini merupakan awal yang baik untuk mengaktifkan kembali teman-teman yang dulu aktif di Mudika. Dan diharapkan akan menjadi penggerak dan memotivasi para remaja dan pemuda agar aktif dalam berbagai kegiatan gerejani, baik di lingkungan, wilayah maupun tingkat paroki,” kata Titik Walujanti. (lip)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here