Home Pendidikan Revolusi Industri 4.0: Manusia Dituntut Mampu Mendesain Masa Depan

Revolusi Industri 4.0: Manusia Dituntut Mampu Mendesain Masa Depan

600
0
Rektor UWMProf. Dr. Edy Suandi Hamid, MEc usai seminar foto bersama dengan dosen dan pimpinan UWM dan UMB. (Foto: Dok. Humas UWM)

BERNASNEWS.COM — Berdisiplin terhadap waktu menjadi aspek penting yang harus diperhatikan dalam kaitan pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) pada era revolusi industri 4.0. Harus straight dengan tepat waktu dalam setiap aktivitas. Hal ini disampaikan Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, MEc Rektor Universitas Widya Mataram (UWM) dalam Seminar Akademik dengan mengangkat tema Tantangan Sumber Daya Manusia Perguruan Tinggi dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0, Jumat (21/11/2019), di Pendopo Agung Kampus UWM, Yogyakarta.

Rektor Universitas Widya Mataram (UWM) Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, MEc (Foto: Dok. Humas UWM)

“Terkait dengan tema seminar, maka dibutuhkan kompetensi yang mencakup hardskills dan softskills. Aspek lain yang sangat krusial pada era big data ini diantaranya artificial intelligence, autonomous robotic, dan  internet of things,” terang Edy Suand Hamid.

Selain merespon masa depan, lanjut mantan Ketua Forum Rektor Indonesia (FRI) itu, kita juga harus bisa mendesain masa depan. Tidak hanya dengan kemampuan yang pas-pasan, karena dituntut untuk menciptakan produk yang memiliki perbedaan dan keunikan, sehingga diperlukan inovasi-inovasi.

Para nara sumber seminar dari Universitas Widya Mataram (UWM) dan Universitas Muhammadiyah Bengkulu (UMB). Foto: Dok. Humas UWM.

Seminar Akademik diikuti para mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Bengkulu (UMB) dan mahasiswa UWM. Hadir pula dalam acara para petinggi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) UMB dan Fisipol UWM. Beberapa narasumber acara diantaranya Dr. (cand) As Martadani Noor, MA Dosen Fisipol UWM yang menyampaikan materi tentang Sky Campus. Industri 4.0 ditandai dengan adanya bentuk-bentuk super-computer, robotic, big data, outomatic, artificial intelegency, Cartel multi level and  new tecnology. Sedangkan dari sisi karakteristiknya, perubahan sangat fundamental dan memiliki lompatan-lompatan, adanya kondisi human minimization dan technological regulation.

Dekan Fisipol UWM Suwarjo, SIP, MSi menyambut hangat kedatangan rombongan dari Bengkulu di kampus kerakyatan UWM. Kunjungan Fisipol UMB dalam rangka seminar akademik dan menjalin kerjasama dua lembaga pendidikan. “Ini merupakan kunjungan kedua dari UMB, semoga memberikan kemanfaatan baik bagi Fisipol UWM maupun Fisipol UMB,” kata Suwarjo.

Penandatanganan MoU kerja sama UWM dan UMB. (Foto: Dok. Humas UWM)

Di tengah acara juga dilakukan penandatanganan kerjasama antara Fisipol UWM dan Fisipol UMB dalam bidang kepakaran. Penandatangan dilakukan Suwarjo, SIP, MSi Dekan Fisipol UWM dan Drs. Apandi, MSi Wakil Dekan II UMB dengan disaksikan Rektor UWM.

Narasumber kedua, Matheus Gratiano Mali, SSos, MPA Dosen Fisipol UWM memberikan pemaparan Internasionalisasi Kampus dalam Menghadapi Era Revolusi Industri 4.0. Menurutnya, internasionalisasi perguruan tinggi haruslah menyentuh semua sivitas akademika perguruan tinggi. Seluruh sivitas harus mencapai standar global dan internasional untuk tetap dapat berkompetisi di era 4.0.

Sementara itu Dr. Ledyawati, MSos Dosen Fisipol UMB melihat tantangan SDM ini lebih dikerucutkan pada pola penanaman nilai-nilai gender di sekolah dasar. Hal itu mengingat bahwa SDM harus melewati jenjang pendidikan dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga Perguruan Tinggi. “Pola penanaman nilai-nilai gender sangat diperlukan dalam menyiapkan SDM berkualitas untuk menghadapi era 4.0,” ungkapnya.

Sebagai pembicara terakhir Dr. Titi Darmi, M.Si Dosen Fisipol UMB, menyampaikan aspek-aspek yang membedakan era revolusi industri 4.0 dengan era sebelumnya. Isu-isu dan formula untuk bertahan pada era sekarang juga dipaparkan dengan jelas. (nun/ ted)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here