Home Opini Resiko Pembayaran dalam Belanja Online

Resiko Pembayaran dalam Belanja Online

2154
0
Dosen STIM YKPN Retno Hartati
Dosen STIM YKPN Retno Hartati

BERNASNEWS.COM – Jual beli secara online (e-commerce) di Indonesia semakin meningkat seiring dengan semakin meningkatnya pengguna internet di Indonesia. Menurut data Bank Indonesia, transaksi toko online (e-commerce) yang dikumpulkan dari sekitar delapan pemain utama e-commerce sepanjang tahun 2018 mencapai Rp 77,766 triliun atau naik 151 persen dibanding tahun sebelumnya yang hanya sebesar Rp 30,942 triliun.

Meskipun transaksi e-commerce meningkat namun pengguna internet di Indonesia yang berjumlah lebih dari 132 juta orang, yang melakukan transaksi di e-commerce hanya sekitar 11,5 persen.

Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Google dan Temasek (November 2018) yang bertajuk ’e-Conomy SEA 2018’, Indonesia memimpin dalam gross merchandise value (GMV) di kawasan Asia Tenggara dengan memperoleh kenaikan hingga 94 persen GMV pada tahun 2018, yakni dari 1,7 miliar dollar AS menjadi 12,2 miliar dollar AS dan diprediksi pada tahun 2025 Indonesia bisa mendapatkan sekitar 53 miliar dollar AS atau setara dengan Rp 745,2 triliun dari bisnis e-commerce.

Peningkatan signifikan transaksi penjualan online di Indonesia mengidentifikasikan mulai ada perubahan kebiasaan masyarakat Indonesia dari belanja offline ke belanja online. Belanja online menghadapi berbagai resiko dalam melakukan transaksi pembayarannya seperti pembeli sudah membayar produk yang dibeli tetapi barang tidak dikirim atau barang yang dikirim ternyata tidak sesuai dengan gambar dan deskripsi produk yang ada katalog mereka.

Kekecewaan pembeli lainnya adalah kadang waktu pengiriman barang memakan waktu yang cukup lama. Resiko lainnya adalah penipu bisa mengambil informasi pembelian dan melakukan pembelian atas nama anda atau website penjual memiliki kebocoran data. Metode pembayaran yang dipilih pembeli juga memiliki berbagai resiko. Adanya resiko dalam metode pembayaran yang digunakan pembeli membuat pembeli akan memilih metode pembayaran yang dirasa aman bagi mereka.

Berdasarkan survei yang dilakukan Katadata insight (KIC) terhadap 20 ribu responden di 34 provinsi selama 27 Agustus – 9 September 2018, menunjukkan 76,08 persen responden menggunakan metode pembayaran non tunai dalam pembayaran transaksi online dan 23,92 persen melakukan pembayaran secara tunai. Metode pembayaran non tunai yang digunakan dalam transaksi online adalah transfer melalui ATM (31 persen), mobile banking (19,1 persen) , internet banking (13,3 persen), Virtual account (11,03 persen) dan digital payment atau fintech hanya 1,66 persen.

Hasil survei KIC ini memperkuat hasil survey yang dilakukan oleh Daily Social pada tahun 2016 yang menunjukkan bahwa metode pembayaran dalam transaksi di e-commerce yang banyak digunakan adalah transfer bank atau lewat ATM 49,01 persen, internet banking 21,43 persen, virtual account 1,79 persen, mobile banking 0,6 persen dan digital payment sebesar 0,6 persen.

Adapun sebesar 26,77 persen masih menggunakan pembayaran tunai dengan melalui jaringan waralaba dan metode pembayaran di tempat (Cash on Delivery/COD). Dari kedua survey tersebut terlihat bahwa pembayaran non tunai dengan cara transfer melalui ATM yang paling banyak digunakan dalam pembayaran belanja online, diikuti dengan pembayaran tunai dengan cara COD. Metode pembayaran dengan kartu kredit terbilang sangat rendah dalam transaksi penjualan online.

Menurut data survey dari APJII dan Mastel tahun 2016, kartu kredit yang digunakan hanya 2,4-6 persen dari total pembelian e-commerce. Mengapa masyarakat Indonesia lebih menyukai melakukan pembayaran dengan menggunakan transfer melalui ATM dibanding dengan metode transfer pembayaran lainnya seperti internet banking atau SMS banking? Untuk memilih metode pembayaran dalam transaksi belanja online memang diperlukan berbagai pertimbangan. Menurut hasil studi APJII dan Mastel tahun 2016, selain mempertimbangkan kepraktisan, faktor kebiasaan dan kepercayaan berpengaruh dalam memilih metode pembayaran yang digunakan.

Pembayaran dengan transfer melalui ATM meskipun tergolong kuno dan merepotkan karena proses pembayaran melalui rekening harus dilakukan secara manual oleh pembeli dan ada tambahan biaya transfer bila rekening penjual di bank yang berbeda.

Selain itu, penjual juga harus melakukan cek saldo rekeningnya untuk memastikan transferan sudah masuk, namun cara transfer malalui ATM disukai pembeli online dengan berbagai pertimbangan, antara lain aman, konsumen sudah terbiasa menggunakannya atau mereka tidak memiliki kartu kredit. Biasanya metode pembayaran ini akan memberi batas waktu tertentu untuk membayarnya. Apabila batas waktu yang diberikan habis dan pembeli belum melakukan pembayarannya maka dianggap transaksi tersebut batal. Konsumen biasanya akan memanfaatkan tenggang waktu pembayaran ini untuk memutuskan melanjutkan transaksi atau membatalkannya. Kelemahan metode ini adalah adanya tambahan biaya admin.

Metode pembayaran terpopuler kedua di Indonesia adalah COD. Cara pembayaran ini adalah yang paling aman karena pembayaran dilakukan bersamaan dengan penerimaan barang pesanannya, namun bagi beberapa orang yang mobilitasnya tinggi tidak cocok karena sulitnya mencari kesesuaian waktu dengan kurir yang mengantar barang pesanannnya.

Pembayaran secara online dengan kartu kredit sebenarnya merupakan cara pembayaran yang paling praktis dan mudah, namun di Indonesia pembayaran dengan kartu kredit tidak populer. Hal ini kemungkinan karena masyarakat merasa tidak aman dalam melakukan transaksi pembayaran dengan kartu kredit.

Dari laporan Bank Indonesia pada tahun 2018, dari 2.819 pengaduan konsumen, 70 persen terkait dengan kartu kredit. Kartu ATM/D 14 persen, transfer dana 7 persen, uang rupiah 3 persen dam uang elektronik 3 persen. Kasus yang sering terjadi adalah penggunaan kartu kredit oleh orang lain yang tidak tercantum dalam kartu.

Kelemahan pembayaran dengan kartu kredit adalah karena penyedia layanan berbayar ini hanya meminta tiga informasi yaitu nomor kartu kredit, tanggal expire, dan nomor Cardholder Verification Value (CVV). Dengan 3 data yang diminta tersebut siapa saja yang memegang kartu atau memiliki ke tiga informasi yang diminta bisa melakukan transaksi pembelian aplikasi berbayar.

Pembayaran transaksi online dengan melalui layanan internet banking, meskipun dipandang banyak orang relatif aman, namun ada kelemahannya pada tempat fisik saat melakukan transaksi pembayaran. Apabila transaksi internet banking dilakukan dengan menggunakan layanan hotspot gratis/berbayar ataupun layanan internet di tempat umum, akan memungkinkan pelaku kejahatan mengintersepsi jaringan perantara pada saat terjadi transaksi penggunaan internet banking tersebut.

Penggunaan uang elektonik (e-money) untuk belanja online juga kurang populer di Indonesia meskipun pembayaran dengan e-money ini lebih cepat dibandingkan dengan cara transfer. E-money ini akan digunakan sebagai kartu prabayar atau e-walet dimana untuk bisa melakukan belanja online pembeli harus membayar terlebih dulu. Dimasa yang akan penggunaan e-money ini diperkirakan akan semakin tumbuh berkembang di Indonesia.

Metode pembayaran apa yang akan dipilih dalam melakukan transaksi pembelian secara online tergantung dari pertimbangan pembeli sendiri karena masing masing jenis metode pembayaran memiliki kelemahan. Selama yakin suatu metode pembayaran adalah aman dan sesuai dengan yang dibutuhkan maka alat pembayaran tersebut bisa digunakan. (Dra Retno Hartati MBA, Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen YKPN Yogyakarta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here