Home Opini Relevansi G20 dan COP26 dengan Presidensi Indonesia

Relevansi G20 dan COP26 dengan Presidensi Indonesia

52
0
Yustinus Prastowo, Staf Khusus Menteri Keuangan RI. Foto : Dok Pribadi

BERNASNEWS.COM – Melanjutkan kabar gembira dari Forum KTT G20 di Roma dan COP26 di Glasgow, mari kita simak sekelumit info menarik dari dua konferensi strategis itu. Kenapa penting? karena pada KTT kali ini peran Indonesia cukup kuat dan membawa misi reformatif bagi presidensi tahun depan.

Pada Presidensi G20 Indonesia dengan tema revocer together, recover stronger, kita mengajak negara lain bekerja sama demi terciptanya pemulihan dan kebangkitan bersama yang semakin kuat. Indonesia akan andil besar dalam kesepakatan strategis atas berbagai permasalahan global.

Pengalaman Indonesia menghadapi pandemi Covid-19 akan menjadi fokus yang menarik perhatian dunia. G20 sepakat membangun mekanisme pencegahan pandemi, yang bergantung pada 3 hal: kesepakatan protokol kesehatan antar negara, tata kelola dan enforcement serta ketersediaan pendanaan.

Presidensi G20 juga memberi kesempatan Indonesia untuk menunjukkan contoh kebijakan yang telah dilakukan untuk memperkuat fondasi pemulihan nasional, di antaranya melalui reformasi struktural seperti UU Cipta Kerja, SWF/LPI, Sistem OSS Berbasis Risiko serta UU HPP.

Selain keikutsertaan delegasi Indonesia di KTT G20 dipimpin PresidenJokowi, Indonesia juga berpartisipasi dalam COP26, yaitu konferensi perubahan iklim yang mengumpulkan ratusan pemimpin dunia dan menjadi agenda penting untuk penetapan target dan komitmen pengurangan emisi.

Menkeu Indonesia dan Menkeu Finlandia berperan sebagai Co-chair Koalisi Menkeu Dunia terkait Iklim (2021-2023). Aksi kolektif Menkeu berbagai negara dalam COP26 utk mendukung percepatan implementasi Paris Agreement melalui pemanfaatan kebijakan fiskal dan kerja sama ekonomi.

Di sisi lain, agenda COP26 yang berfokus pada antisipasi perubahan iklim juga sangat krusial karena menjadi pertemuan tingkat tinggi pertama untuk mengevaluasi komitmen dan kemajuan yang telah dilakukan sejak disetujuinya Paris Agreement. Komitmen nyata Indonesia dibuktikan dengan menjadi salah satu negara berkembang pertama yang menyampaikan target nasionalnya sebagai bentuk komitmen sukarela di tingkat internasional yaitu penurunan emisi sebanyak 26 persen hingga 41 persen pada 2030 melalui Perpres 98/2021.

Di KTT COP26 Presiden menyampaikan pengesahan Perpres tentang Nilai Ekonomi Karbon (NEK). Hal ini menjadikan Indonesia penggerak pertama (first mover) penanggulangan perubahan iklim berbasis pasar (market) di tingkat global untuk menuju pemulihan ekonomi yang berkelanjutan.

Dengan memanfaatkan first mover advantage, Indonesia akan menjadi acuan dan tujuan investasi rendah karbon di berbagai sektor pembangunan baik di sektor energi, transportasi, maupun industri manufaktur. Industri berbasis hijau akan menjadi primadona investasi masa depan.

Jadi cukup jelas, Presidensi Indonesia di G20 sangat penting dan strategis karena kita bisa mendorong agenda dan isu penting untuk perubahan kebijakan global demi kebaikan bersama. Saatnya kita berpikir strategis dan bersatu mengadvokasi banyak hal penting.

Banyak jalan menuju Roma. Kita bersyukur, benih yang ditabur di Osaka, disemai di Roma, akan tumbuh mekar bersemi di Bali tahun depan. Semoga ini jadi momen pembuktian Indonesia untuk membawa maslahat bagi dunia. Terima kasih, semangat. (Prastowo Yustinus, Staf Khusus Menteri Keuangan RI)

Sumber: [email protected]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here