Home News Rektor UIN Sunan Kalijaga: Menangkal Radikalisme Sejak Pendidikan Dasar

Rektor UIN Sunan Kalijaga: Menangkal Radikalisme Sejak Pendidikan Dasar

390
0
Rektor UIN Suka Prof Al-Makin (kiri) dan Ketua For You Indonesia Subkhi Ridho. Foto : kiriman Widihasto Wasana Putra

BERNASNEWS.COM – Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN Suka) Prof Dr.Phil Al Makin S.Ag MA mengatakan bahwa upaya untuk menangkal paham radikal harus dilakukan sejak pendidikan dasar. Karena itu, kurikulum pendidikan nasional seyogyanya disempurnakan dengan menambahkan materi pendidikan lintas iman, khususnya di lingkup pendidikan dasar, sehingga terbangun sikap inklusif sejak dini.

“Siswa perlu diajari mengenal agama-agama lain termasuk aliran kepercayaan agar terbiasa menghadapi keberagaman, bukan sebaliknya diarahkan pada pola pikir dan perilaku ekslusivisme yang mengunci daya kritis dan sikap moderat,” kata Prof Al Makin dalam diskusi a virtual (meeting zoom) bersama 9 rektor perguruan tinggi negeri dan swasta DIY pada Rabu (21/4/2021).

Selain Rektor UIN Suka, juga tampil dalam diskusi yang digelar dalam rangka sosialisasi gerakan Indonesia Raya Bergema yang diinisiasi Forum Rakyat Yogyakarta untuk Indonesia (For You Indonesia) itu adalah Rektor UGM, UII, UPNVY, UWM, UAD, ISI, USD dan UAJY.

Gerakan Indonesia Raya Bergema merupakan kampanye berkelanjutan untuk menjaga dan merawat nasionalisme dengan mengumandangkan lagu kebangsaan Indonesia Raya secara kontinyu di ruang-ruang publik seperti lembaga pendidikan, instansi pemerintah, perkantoran swasta, pusat perbelanjaan dan tempat lainnya.

Menurut rencana, Gerakan Indonesia Raya Bergema akan dicanangkan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X di Yogyakartapada Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2021.

Menurut Prof Al Makin, saat ini nilai kebangsaan merosot, intoleransi dan radikalisme meningkat. Oleh karena itu, perlu menjadi perhatian bersama untuk menanam nila-nilai kebangsaan, sikap toleransi dan mencegah radikalisme. Upaya tersebut tidak sekadar simbolik, sebagai jika sekadar simbol akan sangat sulit diterima ole generasi milenial. Namun aksi konkrit bersama-sama seluruh pemangku kepentingan, termasuk perguruan tinggi.

Dikatan berdasarkan hasil penelitiannya di seluruh Indonesia, pengetahuan para siswa maupun mahasiswa Indonesia tentang tradisi agama, budaya yang tidak dipunyai oleh dirinya itu, sangat minim. Para pemuda Muslim tidak mengenal apa itu Hindu, apa itu Kristen, Katolik, Kong Hu Cu, aliran kepercayaan, dan sebaliknya.

“Seyogyanya masing-masing iman itu saling mengenal satu dengan yang lain dan mereka mendapatkan pengetahuannya valid, tidak kira-kira. Jadi orang Islam mengenal yang lain bukan berasal dari terminologinya sendiri, seperti ahli kitab, “kafir”. Sebaliknya orang Hindu, Budha, Kristen mengenal Islam juga dari orang Islam langsung” ungkap Pof Al-Makin.

Menurut Prof Al-Makin, dalam kurikulum pendidikan kita tidak ada upaya saling mengenali agama satu dengan yang lain. “Sayang sekali itu.Oleh karena itu penting dipikirkan perombakan kurikulum nasional tentang pendidikan antariman,” kata Prof Al-Makin sepeti dikutip Humas For You Indonesia Widihasto Wasana Putra dalam rilis yang dikirim kepada Bernasnews.com, Kamis (22/4/2021).

Dikatakan, perlunya pendidikan kritis, sehingga pengajaran Pancasila tidak lagi sebagai doktrin, tidak sekadar hafalan, tetapi Pancasila sebagai cara berpikir. “Bagaimana menjadi Pancasilais: berBhinneka Tunggal Ika, berpersatuan Indonesia, berkeadilan, mensejahterakan, ini harus dikuasai cara berpikirnya. an harus dimulai sedini mungkin, dari pendidikan anak usia dini hingga perguruan tinggi,” ujar Al-Makin.

Sementara Ketua For You Indonesia Subkhi Ridho mengungkapkan, pihaknya telah mempersiapkan berbagai program kegiatan untuk memperkuat ideologisasi Pancasila. Menurut Ridho, ada dua program hal utama, yakni edukasi tentang Pancasila khususnya di kalangan muda dengan metode inovatif bukan indoktrinatif, disesuaikan dengan semangat zaman. Pendidikan butir-butir Pancasila sangat diperlukan sebagai pedoman sikap dan perilaku berbangsa-bernegara.

Kedua, mendorong praktik-praktik atau implementasi Pancasila secara riil di masyarakat dengan dukungan penuh dari pemerintah, dan dunia usaha tentang penguatan ekonomi Pancasila, misalnya. “Ini harus digaungkan bersama-sama,” ungkap aktivis muda Muhammadiyah ini.

Dalam jangka pendek For You Indonesia hendak menggelorakan Indonesia Raya Bergema di ruang-ruang publik, dengan harapan gerakan dari Yogyakarta ini menyebar ke seluruh pelosok negeri. Pemerintah pusat dan lembaga-lembaga negara terkait seyogyanya turut menyambut gerakan menjaga nasionalisme ini, sederhana namun mengandung nilai-nilai yang sangat penting bagi generasi hari ini dan ke depan.

For You Indonesia merupakan perhimpunan aktivis kebangsaan lintas kalangan. Pegiatnya beragam profesi pelajar, mahasiswa, guru, dosen, pekerja seni, aktivis ormas, wirausaha, jurnalis. “For You Indonesia siap bersinergi dengan segenap komponen bangsa untuk memperkokoh nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika dalam bingkai NKRI,” kata Subkhi Ridho. (lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here