Tuesday, June 28, 2022
spot_imgspot_img
spot_img
HomePendidikanRektor UII: Perguruan Tinggi Tidak Boleh Menggadaikan Idealisme

Rektor UII: Perguruan Tinggi Tidak Boleh Menggadaikan Idealisme

bernasnews.com – Rektor UII Prof Fathul Wahid ST MSc PhD mengatakan mengelola perguruan tinggi di masa seperti sekarang ini, tak mungkin berhasil tanpa ikhtiar sepenuh hati. Sebab, beragam tantangan terhampar di depan mata, yang mengharuskan direspons dengan tepat.

Menurut Rektor UII Prof Fathul Wahid, perubahan lanskap lapangan permainan yang sangat
cepat, telah menghadirkan beragam dilema yang memerlukan pemikiran ekstra untuk membuat pilihan yang bermartabat.

Sementara beberapa dilema terlihat komplementer, saling melengkapi, tetapi di tataran operasional, tak jarang pilihan harus diambil, karena sumber daya yang terbatas. Situasi menjadi semakin sulit, jika pilihan yang ada bisa saling menegasikan atau bersifat diametral yang berpotensi melanggar nilai-nilai fondasi perguruan tinggi.

Ketua Yayasan Badan Wakaf UII Drs Suwarsono MA (kanan) menyerahkan SK kepada Rektor UII periode 2022-2026 Prof Fathul Wahid ST MSc PhD usai dilantik di Auditorium Abdul Kahar Muzakkir Kampus Terpadu UII pada Kamis 2 Juni 2022. Foto: Philipus Jehamun/bernasnews.com

“Izinkan saya mengajak para hadirin untuk melakukan refleksi bersama terhadap beberapa dilema ini. Refleksi ini menjadi semakin penting, jika kita sepakat bahwa perguruan tinggi tidak boleh menggadaikan idealismenya,” kata Rektor UII Prof Fathul Wahid pada acara pelantikannya sebagai Rektor UII periode 2022-2026 di Auditorium Abdul Kahar Muzakkir Kampus Terpadu UII pada Kamis 2 Juni 2022. Pelantikan Rektor UII periode 2022-20226 dilakukan oleh Ketua Yayasan Badan Wakaf UII Drs Suwarsono MA.

Selain Rektor UII, juga dilantik 4 Wakil Rektor UII periode 2022-2026 yakni Wakil Rektor Bidang Sumber Daya dan Pengembangan Karier Dr Zaenal Arifin MSi, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Keagamaan dan Alumni Dr Drs Rohidin SH MAg, Wakil Rektor Bidang Networking dan Kewirausahaan Ir Wiryono Raharjo M.Arch PhD dan Wakil Rektor Bidang Pengembangan Akademik dan Riset diemban oleh Prof Dr Jaka Nugraha S.Si MSi. Pelantikan Wakil Rektor UII periode 2022-20226 dilakukan oleh Rektor UII Prof Fathul Wahid.

Dalam sambutannya, Rektor UII Prof Fathul Wahid berbagi perspektif untuk satu dilema yang terkait dengan pilihan pijakan dalam mengelola perguruan tinggi. Dikatakan, jika dikritisi secara jujur, banyak praktik pendidikan tinggi di Indonesia, dan juga berlahan dunia lain, yang
terjebak pada pijakan neolibelarisme.

Rektor UIII Ketua Prof Fathul Wahid ST MSc PhD melantik 4 Wakil Rektor UII periode 2022-2026 di Auditorium Abdul Kahar Muzakkir Kampus Terpadu UII pada Kamis 2 Juni 2022. Foto: Philipus Jehamun/bernasnews.com

Indikasinya pun beragam. Termasuk di dalamnya korporatisasi perguruan tinggi, dengan segala turunannya. Ia memberi contoh, perguruan tinggi hanya dianggap sebagai penghasil lulusan sebagai bagian dari mesin produksi dan bukan manusia yang dimuliaakan semua potensi kemanusiaannya. Akibatnya, materi menjadi ukuran dominan.

Menurut Prof Fathul Wahid, di dalam perguruan tinggi pengamal neoliberalisme, relasi antaraktor juga sangat hirarkis dan karenanya birokratis. Pemimpin perguruan tinggi seakan menjadi bos besar dengan segala titahnya. Ruang diskusi yang demokratis tidak mendapatkan tempat. Demokrasi mati dirumahnya sendiri. Dosen dianggap sebagai buruh korporat dengan segepok daftar indikator yang harus dipenuhi, dan bukan sebagai kolega intelektual yang setiap capaiannya merupakan manifestasi dari kesadaran dan tanggung jawabnya sebagai akademisi.

Dikatakan, yang pertama bisa menjebakkan kepada mental pengguguran kewajiban, sedang yang kedua bisa menghasilkan entakan kuat untuk perubahan.

Ketu Yayasan Badan Wakaf UII Drs Suwarsono MA saat menyampaikan sambutan pada acr pelantikn Rektor dan Wakil Rektor UII periode 2022-2026 di Auditorium Abdul Kahar Muzakkir Kampus Terpadu UII pada Kamis 2 Juni 2022. Foto: Philipus Jehamun/bernasnews.com

Sementara mahasiswa pun tak lebih dari sekumpulkan konsumen yang harus dipuaskan. Hubungan yang terjadi pun menjadi sangat transaksional. Mereka tidak dilihat sebagai pembelajar yang haus ilmu pengetahuan atau aspiran yang perlu pendampingan dalam pengembaraan intelektual.

Menurut Prof Fathul Wahid, pijakan neoliberalisme pun dapat menjelma dengan sistem
metriks untuk mengukur semua kinerja, yang mengandaikan keseragaman dan mengabaikan idealisme, keunikan misi dan faktor kesejarahan. Selain itu, semua yang tidak masuk metriks seakan tidak penting dan bisa diabaikan begitu saja.

Karenanya tidak jarang, beragam tindakan yang berpotensi melanggar etika pun seakan menjadi halal dilakukan selama kinerja dapat dicapai, termasuk dalam terkait pemeringkatan.
Pemeringkatan dianggap sebagai harga diri yang harus dikejar dengan segala harga, termasuk menggunakan jalan pintas dan bahkan menggunting dalam lipatan, meski kadang harus menjauhkan perguruan tinggi dari idealismenya. “Yang lain saja melakukan,” seakan menjadi alasan untuk menjadikan semua urusan menjadi halal.

Dikatakan, hasil pemeringkatan pun tak jarang dikapitalisasi dengan bingkai pongah yang merendahkan perguruan tinggi lain. Perguruan tinggi ini seakan seperti anak kecil, yang belum
mumayyiz secara intelektual, yang naik meja di tengah kerumunan dan menepuk dada: “akulah yang terbaik.”

Menurut Prof Fathul, bisa jadi perguruan tinggi kita juga terjebak dalam praktik seperti itu. Karena itu, inilah saatnya berhenti sejenak untuk melakukan refleksi secara kolektif. “Saya sangat paham, lari dari jebakan ini tidak mudah, apalagi praktik tersebut seakan sudah menjadi norma baru, yang diperkuat dengan kebijakan yang mengekang, tanpa pilihan,” kata Rektor UII.

Meski demikian, Prof Fathul mengaku termasuk yang masih menjaga optimisme. Ia berharap kesadaran baru segera muncul di banyak perguruan tinggi. Indikasinya pernah terlihat. Sebagai contoh, ketika tahun lalu buku besutan Peter Fleming, Dark Academia: How Universities Die, terbit, beragam diskusi pun digelar di Indonesia.

“Memang, sangat mungkin kita tidak sepakat dengan setiap argumen Fleming, tapi banyak pesan di dalamnya yang seakan menjadi deja vu, “kok rasanya pernah melihat
kasus seperti itu ya”. Kalau kita mau jujur, banyak praktik yang dikritisi di buku tersebut terjadi di sekitar kita, atau bahkan, kita sendiri menjadi pelakunya,” kat Fathul Wahid.

Namun, sejurus kemudian, pesan penting itu kembali terkubur di bawah kesibukan administratif yang luar biasa dan praktik yang ada pun seakan kembali ke sedia kala. Bahkan di sisi hulu, paradigma sebagai basis kebijakan pun tidak banyak berubah. Kita pun akhirnya
kembali hidup tenang karena mendapatkan pembenaran.

“Apakah memang ini jalan yang akan kita pilih untuk masa depan? Saya tidak menjawabnya dalam pidato singkat ini, tapi membiarkan terbuka menjadi pekerjaan rumah masing-masing.
Saya percaya masa depan tidak tunggal, tetapi jamak. Karenanya, beragam imajinasi yang berangkat dari fakta mutakhir, perlu dihargai. Itulah indahnya dunia akademik, ketika beragam pemikiran mendapatkan tempat, selama diikut dengan argumen kuat,” katanya.

Sebagai tambahan pekerjaan rumah, masih banyak dilema yang bisa diungkap. Termasuk di antaranya adalah dilema antara memberikan fokus kepada penyelesaikan masalah lokal
atau berjuang untuk menjadi global, meningkatkan kualitas akademik atau menggesernya
kepada komersialisasi, mengejar pertumbuhan substantif yang memerlukan waktu atau pertumbuhan kosmetik yang instan, dan menjaga moral akademik kualitas tinggi atau
menggugurkan kewajiban.

Daftar dilema ini, tentu masih bisa diperpanjang dan menambah daftar pekerjaan rumah untuk direfleksikan, sebagian bagian kritis terhadap masa kini.

Dikatakan, setiap perguruan tinggi punya sejarahnya. Apa yang kita lihat saat ini merupakan kristalisasi ikhtiar para aktor masa lampau yang penuh dedikasi. Tugas kami hanya
melanjutkan yang baik, dan melengkapinya dengan yang lebih baik. (phj)

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments