Home News Refleksi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara, Diperlukan Aliansi Lembaga Pendidikan

Refleksi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara, Diperlukan Aliansi Lembaga Pendidikan

116
0
Buletin Neng Ning Nung Nang gelar acara Dialog Pendidikan bertema “Refleksi Melacak Jejak Ajaran Ki Hadjar Dewantara”, Minggu (2/5/2021), secara virtual melalui aplikasi zoom. (Foto: Humas UWM)

BERNASNEWS.COM — Konsep Pendidikan Ki Hadjar Dewantara sangat relevan digemakan untuk menjadi bagian dalam mendesain pendidikan yang memanfaatkan teknologi canggih yang terus berkembang dan mengoreksi pola pendidikan karakter selama ini. Demikian disampaikan Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, MEc Rektor Universitas Widya Mataram (UWM) sebagai narasumber acara Dialog Pendidikan bertema “Refleksi Melacak Jejak Ajaran Ki Hadjar Dewantara”, Minggu (2/5/2021), secara virtual melalui aplikasi zoom.

Acara diselenggarakan oleh Buletin Neng Ning Nung Nang juga mengundang narasumber lain yakni Prof. Drs. Purwo Santoso, MA, PhD Rektor Universitas Nahdatul Ulama (UNU) Yogyakarta, dan Dr. Saryana, SIP, MSi Rektor Universitas Gunungkidul (UGK).

Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, MEc Rektor Universitas Widya Mataram (UWM) sebagai narasumber acara Dialog Pendidikan bertema “Refleksi Melacak Jejak Ajaran Ki Hadjar Dewantara”, Minggu (2/5/2021). Foto: Humas UWM.

“Pemikiran Ki Hadjar Dewantara bukan saja dipelajari tapi diimplementasikan dan memberi warna dalam praktik kehidupan bangsa, utamanya dibidang Pendidikan. Pemikiran Ki Hadjar tentang perilaku yang harus dimiliki seorang pemimpin, juga seorang pendidik, yang sering dikenal sebagai Trilogi Pendidikan (Kepemimpinan), yakni Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani , selalu dibahas, ditafsirkan, diajarkan, dan diharapkan bisa dilaksanakan dalam kehidupan bangsa ini,”papar Prof Edy.

Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) periode 2011-2015 itu mengatakan, secara prinsip pemikiran-pemikiran yang disampaikan Ki Hadjar hampir seabad yang lalu tetap relevan untuk diterapkan dan diaktualisasikan saat ini, dengan konteks zaman yang tentu sudah sangat berubah. Pemikiran-pemikiran Pendidikan Ki Hadjar sangat mengedepankan aspek karakter dan humanisme.

“Dalam era seperti sekarang,  di tengah-tengah publik Indonesia dan dunia berbicara tentang Revolusi Industri 4.0 yang juga berdampak pada dunia pendidikan, menjadi sangat relevan kita menggali pemikirannya. Dunia Pendidikan diminta melakukan penyesuaian-penyesuaian sejalan dengan perubahan teknologi yang cepat dan sangat dinamis,” ucap Ketua Forum Rektor Indonesia (FRI) periode 2008-2009 itu.

Prof Edy menegaskan, sejak sekitar dua dasawarsa terakhir, atau bahkan lebih, kita selalu mengkhawatirkan persoalan karakter bangsa ini. Semua itu memang terkait dengan persoalan karakter. Pemerintah pun, melaui Kemendikbud juga sudah secara formal menegaskan tentang Pendidikan karakter ini. Namun implementasi pola pendidikan karakter ini kiranya perlu dikaji ulang, mungkin belum maksimal, atau ada yang tidak tepat, karena lebih melihat sisi formalistik.

Mater yang disampaikan oleh Prof. Drs. Purwo Santoso, MA, PhD Rektor Universitas Nahdatul Ulama (UNU) Yogyakarta. (Foto: Humas UWM)

Implementasi nyata bahwa Yogyakarta sebagai kota pendidikan yang dekat dengan lahirnya ajaran Ki Hajar Dewantara adalah dengan membentuk aliansi perguruan tinggi berbasis kultural dalam rangka untuk menghidupkan kembali dan mengembalikan fitrah pendidikan yang mampu memanusiakan manusia. Aliansi lembaga pendidikan tersebut dirasa perlu untuk menjawab berbagai persoalan pendidikan saat ini, dan juga untuk mengembalikan tujuan pendidikan pada upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan pendidikan yang humanis, bukan kapitalistik. Aliansi tersebut akan segera diwujudnyatakan.

Dari segi kebijakan pendidikan, Saryana menuturkan, sebagaimana ajaran Ki Hadjar maka pamong (negara dan pendidik) harus bisa momong, ngemong, ngomong, dan among. Lembaga pendidikan diberi kemerdekaan meningkatkan kualitas pendidikan berdasar budi pekerti dan kecerdasan.

“Tidak semua kebijakan pemerintah selalu diseragamkan. Perlu ditinjau ulang kebijakan pendidikan yang memaksakan lalu disesuaikan dengan kondisi wilayah karena pendidikan adalah kebutuhan rakyat,” kata Rektor UGK itu.

Disisi lain, Prof Purwo merefleksi perjuangan Ki Hadjar dengan menarik hikmah dalam penyelenggarakan pendidikan yang memerlukan payung dengan strategi kebudayaan. Di Indonesia ini perlu konfigurasi dan sinergi kebudayaan daerah. Selain itu juga harus seksama dalam melakukan standarisasi, pendidikan tidak hanya berorientasi pada asah kecerdasan, namun juga asah kearifan dan kebijaksanaan. (nun/ ted)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here