Home News Refleksi 15 Tahun Gempa DIY dan Jateng : Pentingnya Mitigasi Bencana

Refleksi 15 Tahun Gempa DIY dan Jateng : Pentingnya Mitigasi Bencana

208
0
Prof Sarwidi pada konferensi pers yang diadakan Direktorat Pembinaan & Pengembangan Kewirausahaan/ Simpul Tumbuh merefleksi 15 tahun gempa bumi di DIY dan Jateng pada Selasa, 25 Mei 2021. Foto : kiriman Jeri Irgo

BERNASNEWS.COM – Bencana alam gempa bumi yang menimpa wilayah DIY dan Jawa Tengah Selatan pada 27 Mei 2006 telah menelan ribuan korban jiwa dan kerusakan ribuan rumah tinggal dan bangunan publik. Di DIY, kerusakan parah terutama terjadi di Kabupaten Bantul dan Kota Yogyakarta bagian selatan.

Selain karena peristiwa tersebut terjadi di pagi hari saat sebagian orang masih belum sepenuhnya bangun tidur, juga karena kontruksi bangunan yang tidak sesuai dengan kaidah struktur bangunan tahan gempa. Meski sebelumnya gempa bumi sering dialami warga, skala kekuatannya selama itu tidak pernah sampai sebesar yang terjadi tanggal 27 Mei tersebut.

Namun beberapa bulan kemudian wajah porak poranda sebagian kota Yogyakarta, Kabupaten Bantul dan beberapa wilayah di Jawa Tengah berangsur pulih. Kecepatan untuk menata kembali kehidupan ini menunjukkan tingkat resiliensi warga Yogyakarta dan Jawa Tengah yang cukup tinggi. Inilah pelajaran yang perlu dipelihara oleh semua warga Indonesia, negeri yang sangat rawan bencana. Sayang, yang terjadi justru pengalaman tersebut sering dilupakan. Setelah sekian lama bencana berlalu, kita sering lupa bagaimana mengatasi dan bangkit dari bencana tersebut.

Konferensi pers Direktorat Pembinaan & Pengembangan Kewirausahaan/Simpul Tumbuh merefleksi 15 tahun gempa bumi di DIY dan Jateng pada Selasa, 25 Mei 2021. Foto : kiriman Jeri Irgo

Karena itu, menurut Ir Wiryono Raharjo M.Arch PhD, Wakil Rektor Bidang Networking & Kewirausahaan UII, UII melihat pentingnya merekam kemampuan resiliansi tersebut melalui kegiatan training workshop yang kontinyu. Kegiatan ini dikelola oleh Simpul Pemberdayaan Masyarakat untuk Ketahanan Bencana (SPMKB), sebuah unit yang terbentuk melalui program BUiLD (Building Universities in Leading Disaster resilience).

Program BUiLD yang didanai Uni Eropa melalui Erasmus+ CBHE (Capacity Building in Higher Education) ini menyatukan beberapa universitas di Indonesia dan Eropa dalam Konsorsium, yang fokus kegiatannya pada mitigasi bencana. Unit semacam SPMKB di UII ini ada di masing-masing anggota konsorsium yang tersebar di Jawa, Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi.

Sementara Dr Dwi Handayani ST MSc, Kepala Simpul Pemberdayaan Masyarakat untuk Ketangguhan Bencana (SPMKB) UII, mengatakan, SPMKB-UII hadir sebagai bentuk kepedulian (awareness) untuk membangun masyarakat Indonesia yang angguh bencana.

Visi SPMKB UII, menuut Dwi Handayani, antara lain menjadi simpul pemberdayaan masyarakat untuk mencapai ketangguhan bencana yang berakar kuat (values), menjulang tinggi (innovation), berbuah lebat (benefits) dan diakui secara nasional maupun internasional (recognition).

Konferensi pers Direktorat Pembinaan & Pengembangan Kewirausahaan/Simpul Tumbuh merefleksi 15 tahun gempa bumi di DIY dan Jateng pada Selasa, 25 Mei 2021. Foto : kiriman Jeri Irgo

Sedangkan misi SPMKB UII adalah menjadi center of excellence (simpul) bagi kegiatan-kegiatan bertema kebencanaan di Universitas Islam Indonesia. Selain itu, menjadi pusat IPTEKS yang berbasis pada keunggulan UII sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan serta sumber daya manusia.

Kemudian, menguatkan kolaborasi penelitian dan diseminasi antar pusat studi kebencanaan untuk menjulang kebermanfaatan yang lebih luas kepada masyarakat dn mMencapai rekognisi ilmiah kelas dunia di bidang kebencanaan serta menghasilkan produk baik ilmu pengetahuan, teknologi maupun produk inovasi yang berbasis demand.

Menurut Dwi Handayani, bencana gempa bumi 15 tahun silam itu terjadi sebelum adanya sistem nasional penanggulangan bencana atau sebelum lahirnya Undang-Undang (UU) Nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana di Indonesia. Undang-undang ini pada prinsipnya meregulasi penyelenggaraan dan tahapan bencana dari mulai prabencana, saat tanggap darurat dan sampai pada pascabencana.

Bila ditelusuri lebih jauh, menurut Dwi, sudah ada gerakan masyarakat dalam mengantisipasi gempa bumi sejak beberapa tahun sebelum bencana gempa terjadi pada tahun 2006, dengan implementasi ratusan mandor belajar dan membangun bangunan tahan gempa di Sleman, Kota dan Bantul.

Dalm hal ini UII sangat berperan dalam masa antisipasi pra bencana tersebut melalui kegiatan kerjasama dengan Jepang melalui sosialisasi dan penerapan rumah tahan gempa BARRATAGA sejak tahun 2003 melalui pelatihan PAMAN BATAGA (Paguyuban Mandor Bangunan Tahan Gempa).

Penanganan saat dan pasca bencana gempa bumi ini dinilai banyak pihak cukup berhasil karena melibatkan masyarakat Yogyakarta yang budaya kegotongroyongannya untuk kemajuan bersama sangat tinggi. Setidaknya, penanganan yang tepat dan semangat gotong royong tersebut, terbukti menjadi salah satu modal sosial bangkitnya masyarakat dengan cepat dalam beradaptasi dengan situasi yang sulit saat itu.

“Fenomena gempa bumi di Yogyakarta dan Jawa Tengah 2006 beserta dengan langkah penanganannya telah menjadi berita viral atau menyedot perhatian masyarakat nasional dan internasional. Hal ini memicu percepatan lahirnya Undang-Undang Penanggulangan Bencana No 24/2007,” kata Dwi Handayani dalam jumpa pers secara virtual, Rabu 26 Mei 2021.

Dikatakan, sistem penanganan bencana gempa yang terjadi pada tahun 2006 diadopsi dalam Undang-Undang dan menjadi referensi pada penanganan bencana gempa di Indonesia setelah itu. Akan tetapi, belakangan serangkaian penanganan bencana gempa bumi di Indonesia mengalami pasang-surut. Sangat disayangkan apabila lessons learnt atau pelajaran yang sangat berharga dari gempa bumi yang terjadi di Yogyakarta-Jawa Tengah tahun 2006 ini dilupakan dan mulai tidak didokumentasikan dengan baik. (lip)


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here