Home Seni Budaya “Rebok” dan “Latung Bose” Ditampilkan pada Festival Budaya Manggarai 2019

“Rebok” dan “Latung Bose” Ditampilkan pada Festival Budaya Manggarai 2019

522
0
Festival Budaya Manggarai, Flores, NTT di Taman Mini Indonesia Indah, 17 Agustus 2019. Foto : Repro Panitia

BERNASNEWS.COM —Keragaman seni budaya dan makanan khas serta kerajinan tenun Manggarai, Flores, Provinsi NTT akan ditampilkan dalam Festival Budaya Manggarai (FBM) di Anjungan NTT Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, Sabtu (17/8/2019).

Di antara makanan khas Manggarai yang ditampilkan dalam festival yang diadakan oleh Komunitas Perempuan Manggarai Jakarta (KPM) bekerja sama dengan Komunitas Sanggar Ca Nai Kalimalang dan Ikatan Keluarga Manggarai Kebon Jeruk Jakarta (IKMKJ) ini adalah rebok (biji jagung setengah tua yang digoreng lalu ditumbuk), latung bose (jagung yang sudah ditumbuk lalu direbus hingga empuk dicampur santan dengan sedikit garam), kompiang (makanan terbuat dari gandum dicampur dengan sedikit gula plus wijen yang dioven) dan gola wara (gula merah dari pohon enau/aren). Sementara di bidang seni budaya akan ditampilkan tarian Caci, Ndudu Ndake, Danding, Sanda dan Mbata.

Selain untuk memperkenalkan atau mempromosikan seni budaya, aneka makanan khas dan produk tenunan Manggarai, event FBM juga dalam rangka untuk memperingati dan memeriahkan HUT ke-74 Kemerdekaan RI.

“Keanekaragaman budaya dan makanan serta aneka produk kerajinan tenun khas Manggarai diharapkan semakin dikenal luas, tidak hanya oleh masyarakat Manggarai sendiri tetapi juga orang luar Manggarai. Dan mereka juga bisa menikmati kemeriahan dan keunikan seni budaya khas Manggarai seperti tarian Caci, Ndudu Ndake, Danding, Sanda dan Mbata,” kata Ketua Panitia FBM 2019 Emmiliana AK seperti dikutip Adventina Violeta Gunur, Koordinator Seksi Humas & Publikasi Panitia FBM 2019, dalam siaran pers yang diterima Bernasnews.com, Senin (12/8/2019).

Ketua Panitia FBM 2019 Emmiliana AK bersama anggota panitia saat memberi keterangan kepada wartawan di Jakarta, Minggu (11/8/2019). Foto : Dok Komunitas Perempuan Manggarai (KPM) Jakarta.

Dikatakan, karakter budaya lokal Manggarai bisa kehilangan identitas bahkan warna budaya itu sendiri akan luntur bila para pelaku budaya terbawa arus globalisasi tanpa bisa mempertahankan identitas khas budaya yang dimiliki. Karena itu, festival budaya ini diharapkan dapat menularkan nilai-nilai falsafah kehidupan yang terkandung di dalamnya, ke berbagai tingkatan kehidupan orang Manggarai di mana pun.

Menurut Emmiliana AK, keanekaragaman olahan pangan lokal Manggarai yang belum banyak dikenal bahkan cenderung terlupakan dan tidak dikenal oleh generasi Manggarai saat ini, juga akan ditampilkan selama event FBM 2019 ini. Dan diharapkan kekhasan makanan lokal yang sarat gizi, tidak sekadar banyak dikenal tetapi juga digemari oleh masyarakat Manggarai diaspora maupun orang luar Manggarai serta dilestarikan dari generasi ke genarasi.

“Sementara di sisi lain kemajuan di bidang informasi pada era globalisasi harus dapat dimanfaatkan keunggulan dan kekuatannya dalam memasarkan keanekaragaman hasil pertanian lokal beserta¬†olahannya dengan lebih cepat dengan jangkauan sebaran area pemasaran yang semakin luas tanpa batas,” kata Emmiliana AK yang dikutip Neny-sapaan Adventina Violeta Gunur.

Menurut Emmiliana AK, keanekaragaman hasil pertanian, hasil kerajinan dan aneka produk tenunan Manggarai yang selama ini sudah dikelola oleh beberapa UKM resmi maupun perorangan juga ditampilkan dalam festival ini. Produk kerajinan dan tenunan lokal khas Manggarai tampil dalam kemasan fashion show yang menghadirkan hasil kreatifitas pada model rancangan fashion untuk berbagai kebutuhan seperti busana kasual, busana kantor dan busana resmi lainnya, termasuk busana pengantin adat Manggarai.

Fashion show ini diharapkan dapat mengenalkan produk-produk fashion berbahan dasar tenunan khas Manggarai agar semakin dikenal luas dan mempunyai nilai saing yang sejajar dengan daerah lain di Indonesia. Sehingga busana berbahan lokal tenunan Manggarai ini juga bisa menjadi pilihan busana di berbagai usia baik pria maupun wanita,” kata Emmiliana AK.

Menurut Emmiliana AK, kegiatan ini juga diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk ditetapkannya rangkaian kegiatan tahunan atau dua tahunan bagi masyarakat Manggarai di Jabodetabek. Karena itu, ia mengajak siapa pun, terutama warga Manggarai, Flores, NTT, di Jabodetabek atau di mana pun berada untuk ikut memeriahkan Festival Budaya Manggarai 2019. “Festival ini dari kita, oleh kita dan untuk generasi kita, generasi yang berpola pikir global tapi tetap berpijak pada budaya lokal. Kita Manggarai, Kita NTT, Kita Indonesia,” seru Emmiliana AK dengan lantang. (lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here