Thursday, August 18, 2022
spot_img
spot_img
HomeOpiniQuo Vadis Citayam Fashion Week

Quo Vadis Citayam Fashion Week

bernasnews.com – Petugas gabungan dari kepolisian, Dinas Perhubungan dan Satpol PP melakukan pembubaran terhadap Citayam Fashion Week pada Rabu (27/7). Pembubaran dilakukan karena kerumunan di kawasan Dukuh Atas Sudirman dianggap menyebabkan kemacetan lalu lintas. Terlebih zebra cross beralih fungsi dari tempat penyeberangan menjadi catwalk. Sosiolog Universitas Indonesia (UI) mengkritik cara pembubarannya yang seolah-olah sedang menertibkan gelandangan, pengemis dan pedagang kaki lima. “Enggak pakai itu (Citayam Fashion Week) juga macet tiap hari gitu. Dulu kan becak yang disalahin” tukas Ida. (Kompas 27/7).

Citayam Fashion Week menjadi viral, semua diawali dari remaja asal pinggiran Jakarta, Citayam Bojonggede dan Depok yang mengubah kawasan ruang terbuka hijau menjadi ajang adu kreativitas untuk tampil dengan gaya pakaian yang eksentrik ala street fashion luar negeri. Sampai akhirnya kawasan SCBD diplesetkan menjadi Sudirman Citayam Bojonggede Depok.

Zebra cross yang mereka gunakan sebagai catwalk menjadi ikonik, karena kemudian para artis, pejabat dan model profesional ikut menjajal beraksi. Bahkan Presiden Jokowi mendukung kegiatan ini, “Asal tidak menabrak aturan, itu kan kreatif, karya-karya seperti itu kenapa harus dilarang” (Tempo.com 23/7). Gubernur DKI Jakarta dan Gubernur Jawa Barat juga seakan ikut mendukung fenomena ini dengan ikut bergaya di zebra cross (detiktravel 22/7). Anies Baswedan, menggunakan setelan jas resmi bergaya bersama pimpinan Bank Eropa melintasi ikonik tersebut dan membaginya di instagram. Ridwan Kami bahkan secara khusus mempersiapkan diri mengganti baju batiknya dengan jas khaki dan topi putih.

Setelah itu, berbondong para artis dan selebriti unjuk gaya di zebra cross ikonik tersebut. Mulai dari Gisella Anastasia, Jessica Iskandar, Rina Nose, Cinta Laura, Zaskia Sungkar, Teuku Ryan, Paula Verhoeven, Baim Wong dan banyak lainnya. 

Karena dukungan pejabat dan keikutsertaan para selebritis, logika publik tercipta bahwa kegiatan penggunaan zebra cross sebagai tindakan kreatif dan diperbolehkan negara. Bergulir fenomena ini ke daerah lain. Di Malang ada Kayutangan Street Style, Bandung ada Braga Fashion Week. Di Yogyakarta menular menjadi Malioboro Fashion Week, dan uniknya tidak hanya milenial tetapi emak-emak juga ikut berpartisipasi. Jika di Yogyakarta ada emak-emak, maka di Medan justru anak-anak, mereka melakukan peragaan busana di Jalan Ahmad Yani. Selain itu, di Surabaya mereka memanfaatkan zebra cross di Tunjungan dan di Semarang mereka lakukan di Simpang Lima. Di Madiun mereka lakukan di zebra cross Plaza Madiun, di Sukabumi dilakukan di kawasan Cibadak.

Tetapi tiba-tiba ramai terjadi polemik soal Citayam Fashion Week antara ditutup, pindah lokasi atau tetap ada dengan kegiatan terjadwal. Ada yang menganggap kegiatan ini melanggar hukum karena Zebra cross dibuat untuk tempat penyeberangan (UU Nomor 22 Tahun 2009). Di Solo, polisi melarang kegiatan yang memanfaatkan zebra cross dan badan jalan untuk kegiatan fashion show. Kapolresta Solo, Kombes Ade Safri menegaskan, “jalan itu seharusnya diperuntukkan sesuai dengan fungsinya…” (detikjateng 28/7).

Penggunaan jalan dan zebra cross untuk kegiatan ekspresi seni sebenarnya tidak baru saja terjadi dan juga tidak hanya terjadi di Indonesia. The Beatles 53 tahun lalu sudah melakukannya di Kota London tepatnya di trotoar Abbey Road. Foto itu menjadi ikonik lantaran dijadikan sampul depan dengan tidak memuat nama grup atau judul album. Sampai sekarang, banyak turis berdatangan dari seluruh penjuru dunia. Termasuk John Bon Jovi pernah datang dan berfoto. Bahkan grup band tanah air GIGI, melakukan napak tilas dan berfoto. 

Penggunaan jalan dan trotoar untuk kegiatan fashion terjadi sejak tahun 1978, berawal dari jepretan fotografi jalanan, Bill Cunningham, yang memotret secara diam-diam artis Swedia yang berpakaian elegan. Lantas di Jepang sejak tahun 1980-an terkenal dengan fashion street Harajuku di Shibuya Tokyo. Persis Dukuh Atas, Harajuku juga kawasan transit. Di China, fashion street sudah dianggap lumrah, dikenal dengan nama China Fashion Street yang dilakukan di jalanan seperti di Beijing, Shanghai dan Chengdu. Di Korea Selatan, mereka sebut dengan nama K-Fashion dilakukan melalui ajang Seoul Fashion Week. Inggris, Amerika dan negara lainnya juga melakukan yang sama. Roh dari fashion street, menurut Bill Cunningham, fotografer street style yang legendaris pernah menulis di sebuah esai di New York Times, bahwa gaya anak jalanan mengintimidasi kaum gedongan. “…Saya sangat tahu apa yang kaum kalangan atas maksud ketika mereka bilang takut tentang apa yang mereka lihat di jalanan. Namun begitulah fashion bekerja. Fashion merupakan cerminan era” tulisnya.

Begitu juga dengan Citayam Fashion Week, adalah cerminan era anak jalanan yang mengintimidasi kaum gedongan. Kaum pinggiran berhak memanfaatkan kota untuk berekspresi. Hukum tidak lahir dari ruang hampa. Sikap mendua dari pengambil kebijakan akan membuat rakyat menjauh dari rasa keadilan. Memang betul kata Derrida, filsuf kontemporer Prancis, bahwa keadilan selalu lolos dari pelukan manusia. Keadilan selalu belum sampai dan belum terwujud. Kita hanya bisa mendekati tanpa bisa memilikinya. Quovadis, akan dibawa kemana Citayam Fashion Week? (O. Gozali)

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments