Purna Tugas 41 Tahun “Wong Edan” Ambrosius Susilo Adi Sebagai Guru SD

    180
    0
    Ambrosius Susilo Adi saat menyampaikan sambutannya dalam acara Pelepasan Purna Tugas sebagai guru SD Marsudirini St. Theresia Boro, Kulon Progo. (Tedy Kartyadi/ Bernasnews.com)

    BERNASNEWS.COM — Sosok seorang professional yang bekerja di sebuah instansi swasta, era kekinian tentu sangat jarang bisa bertahan hingga puluhan tahun bekerja atau berkarya menekuni pekerjaannya tanpa pernah pindah ke tempat lain. Biasa beralasan karena karir dan kesempatan, besar perolehan gaji, serta rasa jenuh yang menjadikan seorang karyawan pindah ke lain tempat walaupun masa kerja belum lama.

    Namun tidaklah demikian dengan sosok Ambrosius Susilo Adi yang berprofesi menjadi Guru Sekolah Dasar. Bapak berputera tiga kelahiran Kulon Progo, 7 Desember 1961 ini, lebih dari separoh usianya atau tepatnya 41 tahun didedikasikan sebagai guru di Yayasan Marsudirini.

    “Setelah lulus sekolah tahun 1981 saya merantau dan terdampar di Tanjung Priuk, Jakarta. Awalnya waktu itu saya bertemu dengan seorang suster asing, Sr. Freska yang saya sayangi dan juga saya sengiti, hee.. wong edan ngapa kowe mrene ujar suster itu. Karena waktu itu rambut saya gondrong dan pakai celana cutbrai, celana panjang yang bawahnya lebar,” ungkap Susilo Adi, dalam acara Pelepasan Purna Tugas, Sabtu (21/8/2021) lalu.

    Dikisahkan Susilo Adi, bahwa kalau pingin jadi guru, Sr. Freska menyuruhnya untuk berubah dan menyusun persiapan untuk mengajar (dalam ilmu pendidikan dikenal Satuan Pengajaran). Kemudian dipresentasikan/ dites dihadapan 13 suster dan guru-guru Yayasan Marsudirini Jakarta. “Kalau jaman dahulu menerima calon guru dites dihadapan beberapa suster dan guru, jaman sekarang sih lebih enak,” ujarnya.

    Ambrosius Susilo Adi diapit oleh teman-teman sejawatnya dan Sr. M. Florentine OSF selaku Kepala Perwakilan Marsudirini (kiri) dan Sr. M. Christera selaku Koordinator SD Marsudirini St. Thersia Boro (kanan). Foto: Tedy Kartyadi/ Bernasnews.com.

    Susilo Adi juga mengisahkan awal pertama kali menjadi guru mendapat gaji per bulan sebesar Rp 21.200 namun karena mempunyai keahlian selain mengajar, dirinya per bulan bisa mendapatkan gaji lebih dari Rp 100.000. Besaran gaji itulah yang menjadikan bangga, sebab 41 tahun lalu ongkos pulang naik bis Jakarta-Jogja hanya Rp 750.

    Menjadi guru sejak tahun 1981 di SD Tunas Keluarga Mulia Marsudirini, Jakarta. Kemudian tahun 2000 pindah mutasi di SD Marsudirini St. Theresia Boro, Kulon Progo, DIY hingga purna tugas tahun 2021 ini.

    Alumnus SPG ‘Van LITH’ tahun 1981 itu menambahkan, bahwa setelah lulus dia tidak mau jadi guru sebab memiliki karakter keras atau galak. “Diam-diam saya mengagumi bapak yang menjadi guru SD yang mengajar kelas 1 dan kelas 2. Beliau setiap harinya nggak pernah marah kepada murid maupun putra-putranya,” terang Susilo.

    Lanjut Susilo, dari mengamati itulah dia tertarik untuk menjadi seorang pendidik agar bisa mengikuti jejak sang ayah menjadi orang penyabar. “Memang telah digariskan oleh Tuhan, dari pertama mejadi guru sama sekali belum pernah mengajar kelas 1 dan kelas 2. Hanya saja sewaktu di SD Marsudirini Jakarta mengajar kelas dengan terbanyak 58 siswa, di sini (SD Marsudirini St. Theresia Boro) sejumlah 55 siswa,” bebernya.

    Sebagai seorang guru yang telah purna tugas dan telah mempersiapkan diri menjadi pemetik buah kopi di ladang sebagai profesi barunya, pemilik motto ‘Hidup adalah Anugerah’ diakhir tugasnya sebagai pendidik juga telah memberikan tinggalan dalam bentuk karya tulis yang dihimpun bersma teman-teman sejawatnya di SD Marsudirini St. Theresia Boro dalam sebuah buku dengan judul ‘Pengabdian Pendidik Di Bukit Menoreh’.

    Judul karya tulis artikel oleh Ambrosius Susilo Adi ialah, Guru di Era Pandemi Covid-19, Refleksi Sebagai Guru dan Masyarakat, Cita-Citaku Untuk SD Marsudirini, Sumbanganku Untuk SD Tunas Keluarga Mulia Jakarta Utara, Mendidik Kaum Muda Menjadi Kader Katolik-Orang Beriman Yang Berguna, dan Aku Sebagai Rasul di Wilayah dan Paroki.

    Semua tulisan itu merupakan pengalaman empirik dan konkrit Ambrosius Susilo Adi selama menjadi guru dan pendidik baik di sekolah maupun di tengah masyarakat. Ada ungkapan dari seorang pakar ilmu pendidikan yang mengatakan, bahwa pendidikan itu ‘Long life Education’ yang arti harafiahnya mengajar dan belajar itu selama hidup.

    Selamat dan salut pak Susilo Adi atas dedikasi 41 tahun mengabdi dan melayani sebagai guru, kapan-kapan kita ngopi (ngobrol pintar) bersama Pak Bambang Darmadi, editor buku panjenengan. (Tedy Kartyadi)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here