Home Ekonomi PT TASPEN Catat Kinerja Positif Selama 2019, 86 Persen Investasi Berupa Surat...

PT TASPEN Catat Kinerja Positif Selama 2019, 86 Persen Investasi Berupa Surat Utang dan Deposito

448
0
Logo PT. TASPEN (Repro)

BERNASNEWS.COM — PT TASPEN (Persero) mencatat kinerja positif selama 2019 dengan membukukan laba bersih sebesar Rp 388,24 miliar, melonjak Rp 116,69 miliar dibandingkan dengan laba tahun 2018 sebesar Rp 271,55 miliar atau naik sebesar 42,97 persen secara year on year.

Lonjakan laba tersebut dikontribusikan oleh kenaikan pendapatan premi sebesar Rp 977 miliar serta kenaikan pendapatan investasi sebesar Rp 1,46 triliun, atau masing-masing naik sebesar 12,08 persen dan 19,08 persen dibandingkan tahun 2018. Lonjakan laba Perseroan yang mencapai hampir 43 persen tersebut menunjukkan efisiensi biaya yang sangat baik diterapkan TASPEN, yang jauh lebih rendah dibandingkan expense ratio industri asurasi di Indonesia.

Dalam keterangan tertulis yang dikirim SVP Sekretaris Perusahaan, Muhamad Ali Mansur kepada Bernasnews.com, Direktur Utama TASPEN, ANS Kosasih, menjelaskan, lonjakan kinerja tersebut merupakan buah dari implementasi strategi dan kebijakan TASPEN dalam melakukan investasi secara prudent, berhati-hati dan aman dengan memperhitungkan secara seksama tingkat risiko yang diterima, kondisi pasar, likuiditas, imbal hasil yang optimal, serta pencadangan yang konservatif untuk menjamin kesejahteraan peserta.

Hal ini disampaikan Kosasih di Jakarta dalam acara perkenalan Jajaran direksi baru PT TASPEN (Persero) dengan wartawan media massa pasca serah-terima jabatan direksi baru, Jumat (17/1/2020).

“Di tengah kondisi pasar yang sangat volatile kami selalu menerapkan prinsip kehati-hatian dan memprioritaskan keamanan investasi untuk mencapai manfaat yang optimal bagi para peserta. Hal tersebut menyebabkan kami berhasil mencatatkan kinerja yang positif sepanjang tahun 2019. Kenaikan laba yang signifikan ini juga mencerminkan kemampuan TASPEN untuk beroperasi secara efisien dan efektif,” ujar Kosasih.

TASPEN membukukan total revenue sebesar Rp 19,28 triliun di tahun 2019 melonjak sebesar Rp 2,75 triliun dibandingkan tahun 2018 yang mencatat pendapatan total Rp 16,53 triliun atau terdongkrak 16,63 persen (year on year).  Kenaikan pendapatan ini jauh lebih besar daripada kenaikan beban klaim sebesar Rp 12,35 triliun di tahun 2019 yang naik hanya sebesar 12,27 persen (year on year) dibandingkan beban klaim tahun 2018 sebesar Rp 11 triliun.

Kinerja positif TASPEN juga terlihat pada pertumbuhan aset yang naik secara signifikan sebesar Rp 31,38 triliun di mana pada tahun 2019 TASPEN membukukan nilai aset sebesar Rp 263,25 triliun atau naik atau naik sebesar Rp 31,38 triliun atau 13,53 persen (year on year) dibandingkan tahun 2018 sebesar Rp 231,87 triliun. Sementara dari sisi ekuitas terjadi pertumbuhan sebesar Rp 1,7 triliun sepanjang tahun 2019, di mana TASPEN membukukan ekuitas sebesar Rp 11,4 triliun atau meningkat 17,52 persen (year on year) dibandingkan tahun 2018 sebesar Rp 9,7 triliun.

Total Liabilitas pada tahun 2019 tercatat Rp 251,84 triliun, yang sebagian besar terdiri atas Dana Akumulasi Iuran Pensiun PNS Rp 151,40 triliun serta Liabilitas kepada Peserta dan Cadangan Teknis sebesar Rp 99,48 triliun. Kenaikan Cadangan Teknis yang ditetapkan oleh Direksi TASPEN menunjukkan prinsip kehati-hatian dan Good Corporate Governance yang sangat ketat diterapkan TASPEN untuk menjaga keamanan pengelolaan dan kesejahteraan peserta TASPEN.

Di tahun 2018 angka Liabilitas kepada Peserta dan Cadangan Teknis yang dicatat TASPEN sebesar Rp 93,96 triliun. Hal itu berarti dengan lonjakan pendapatan yang ada TASPEN mencatatkan kenaikan Liabilitas kepada Peserta dan Cadangan Teknis sebesar Rp 5,52 triliun atau ekuivalen dengan kenaikan sebesar 5,9 persen.

Pada kesempatan tersebut, Kosasih juga menegaskan bahwa sebagian sangat besar portofolio investasi TASPEN ditempatkan pada instrumen yang sangat aman. Mayoritas investasi ditempatkan pada instrumen yang memberikan hasil tetap (fixed income), yaitu surat utang maupun deposito sebesar 86,2 persen dari total portofolio. Porsi investasi di surat utang atau obligasi sebesar 67,5 persen di mana sebagian besar merupakan obligasi pemerintah dan deposito 18,7 persen di mana sebagian besar ditempatkan di bank BUMN. Adapun sisanya berupa investasi langsung 2,2 persen, saham 4,9 persen dan reksadana 6,7 persen di mana reksadana saham hanya sebesar 1,3 persen, itu pun dengan seleksi pemilihan MI yang sangat ketat.

“Mayoritas investasi Taspen ditempatkan pada surat utang negara maupun obligasi korporasi dengan fundamental yang kuat, dengan tingkat risiko yang sangat rendah namun tetap memberikan imbal hasil yang baik,” tutur Kosasih

Untuk menjaga likuiditas perusahaan dan keamanan dana, TASPEN menempatkan hampir 80 persen deposito di bank BUMN, 18 persen di Bank Pembangunan Daerah (BPD) dan hanya 2 persen pada bank umum yang merupakan anak usaha dari Bank Mandiri dan TASPEN yaitu Bank Mandiri Taspen.

Untuk investasi di saham, TASPEN memilih saham-saham emiten yang sebagian sangat besar terdaftar pada Indeks LQ-45 dan didominasi oleh saham-saham BUMN yang tergolong saham-saham blue chip.

“Dalam proses pemilihan saham untuk alokasi investasi, kami selalu mengutamakan aspek makro ekonomi, fundamental, prospek bisnis, likuiditas, dan valuasi perusahaan yang wajar dan seksama serta memeperhitungkan pula faktor-faktor teknikal,” jelas Kosasih.

Pada instrumen reksadana, TASPEN berinvestasi melalui maksimum 15 Manajer Investasi (MI) yang memiliki dana kelolaan (asset under management/AUM) di atas Rp 4 Triliun hingga sekitar Rp 50 triliun di mana 90 persen di antaranya adalah MI yang menduduki peringkat 15 besar. Selain itu, hampir 50 persen penempatan reksadana TASPEN adalah pada MI BUMN.

“Kami berkomitmen untuk selalu menerapkan prinsip kehati-hatian yang kami pegang teguh guna menjamin keamanan dana investasi yang kami kelola untuk memberikan manfaat secara maksimal kepada peserta,” tegas Kosasih. (*/ ted)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here