Home Pendidikan PSN Menelusuri Jejak Kadipaten Jipang dan Kadipaten Panolan di Cepu

PSN Menelusuri Jejak Kadipaten Jipang dan Kadipaten Panolan di Cepu

519
0
Para Pengurus Paguyuban Sejarawan Ngayogyakarta (PSN) yang dipimpin Ketua PSN Chatarina Etty saat berada di depan situs Perjanjian Salatiga, Selasa 6 April 2021. Foto : kiriman Chatarina Etty

BERNASNEWS.COM – Paguyuban Sejarawan Ngayogyakarta (PSN) melakukan lawatan sejarah dengan menelusuri situs-situs bersejarah, antara lain situs Perjanjian Salatiga dan situs Kadipaten Jipang yang pernah dipimpin oleh Aryo Penangsang pada hari Selasa 6 April 2021.

PSN yang diketuai Dra Chatarina Etty SH MSi MPd bersama para pengurus antara lain Lilik Suharmaji M Pd, Mei Ujianti MPd, Drs Pradana, Drs Marmayadi dan Yulianto SPd menuju situs Makam Gedong Ageng Jipang di Desa Jipang, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.

Menurut Chatarina Etty, sekitar 7 km ke arah barat laut dari kota Kecamatan Cepu, para anggota PSN menemukan bekas Kadipaten Jipang dan Masjid Agung Jipang yang berada di utara makam Gedong Ageng/Gedung Senjata yang tinggal puing-puing batu bata berukuran besar.

Dalam lawatan tersebut, Chatarina Etty selaku Ketua PSN banyak berkomunikasi dengan Lukman dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Edi Kurniawan (penggiat sejarah dan budaya serta Ketua Matra Kabupaten Blora) dan Ratih selaku penggiat sejarah dan anggota Matra Kecamatan Cepu.

Para pengurus PSN saat berada dii depan Museum Blora,6 April 2021. Foto : kiriman Chatarina Etty

Pertemuan rombongan PSN kemudian berkomunikasi dengan juru kunci situs Gedong Ageng Jipang dan terjadilah diskusi tentang keberadaan situs Gedong Ageng Jipang. “Saya berterima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Blora dan jajarannya yang telah membangun situs ini sehingga menjadi petilasan yang fungsinya mengenalkan lebih dekat kepada generasi muda bahwa dahulu telah berdiri sebuah kadipaten yang kekuasaannya disegani di tanah Jawa,” kata Chatarina Etty dalam rilis yang dikirim kepada Bernasnews.com, Sabtu 10 April 2021.

Belajar dari situs Jipang, Chatarina Etty berharap situs Istana Kerta dan situs Istana Plered di Bantul, DIY sebagai situs kerajaan Kasultanan Mataram juga direkonstruksi menjadi sebuah petilasan seperti ini. Dengan demikian dapat dikunjungi generasi muda dan peminat sejarah untuk mendekatkan generasi muda dengan sejarah masa lampau dan mempunyai sedikit gambaran tentang sejarah tersebut, tidak hanya melalui cerita dan literasi yang dibaca.

Dalam kunjunganitu, PSN menganalisis tentang keberadaan Istana Kadipaten Jipang. Menurut Lilik Suharmaji yang selama ini berkonsentrasi pada sejarah Mataram, tata letak kota sebuah kadipaten biasanya berpedoman pada catur gatra dimana sebuah istana menghadap ke selatan, sedangkan di sebelah kiri ( imur) terdapat pasar dan di sebelah kanan (barat) terdapat sebuah masjid dan di depan pagelaran terdapat alun-alun.

Ketua PSN pun meragukan jika bangunan Gedong Ageng Jipang yang sekarang terbangun tersebut sebagai tempat aslinya Istana Kadipaten Jipang. Sebab bangunan itu menghadap ke utara, sedangkan bangunan Istana itu diduga ada di area persawahan penduduk yang memang ditemukan banyak berserakan batu-batu peninggalan abad ke-16.

Ketua PSN Chatarina Etty (kanan) saat berada di depan Situs Makam Gedong Ageng Jipang dan Gedong Senjata, Selasa 6 April 2021. Foto : kiriman Chatarina Etty

Menurut Chatarina, kemungkinan besar makam Gedong Ageng merupakan gedong senjata yang keberadaannya disamarkan dengan makam agar tidak mudah diketahui musuh. Hal ini mengingat hubungan Adipati Pangeran Haryo Penangsang dengan Kasultanan Demak tidak baik karena ayahnya, Pangeran Sekar Surawiyata, dibunuh oleh Prawoto, putra dari Sunan Trenggono.

Juru kunci mengatakan bahwa memang dahulu ada masjid di sebelah barat Istana Jipang dan ada juga Pasar Legi di sebelah timur istana yang sekarang menjadi area persawahan itu. Kebijakan stakeholder terkait tidak membangun di situs aslinya diduga karena persoalan pembebasan tanah dan jauhnya lokasi dari akses jalan yang mudah dilalui kendaraan roda empat. Tidak jauh dari tempat tersebut juga terdapat situs Kadipaten Panolan yang dahulu dipimpin oleh Pangeran Adipati Benawa.

Menurut masyarakat Desa Jipang yang ditemui anggota PSN di sekitar masjid bahwa di desa itu dan sekitarnya di wilayah Cepu bahkan wilayah Kabupaten Blora sampai sekarang tidak berani mementaskan budaya kethoprak yang terkait dengan tokoh Pangeran Adipati Aryo Penangsang,  sang adipati Jipang.

Beberapa warga menceriterakan dahulu ada warga melangsungkan pesta pernikahan yang nekad mementaskan ketoprak dengan lakon Arya Penangsang, namun tiba-tiba ada banyak ular weling berjatuhan dari atap panggung sehingga membuat tamu undangan dan penonton kalang kabut. Pernikahan yang dilangsungkan juga tidak harmonis dan akhirnya berujung pada perpisahan. Untuk itu, sampai sekarang warga tidak lagi berani mementaskan tokoh Arya Penangsang.

Menurut Chatarina, cucu pendiri kerajaan Demak Raden Patah, yang bernama Arya Penangsang, memang penuh dengan kontroversi. Meskipun di beberapa daerah Arya Penangsang dianggap sebagai pemberontak, tokoh jahat dan bengis, tetapi bagi masyarakat Cepu, Arya Penangsang adalah pemimpin yang tegas dan berani membela hak dan kebenaran.

“Arya Penangsang sudah menjadi bagian dari identitas Cepu. Untuk itu, taman yang terletak di pintu masuk kota (sebelah selatan terminal bus Cepu) dinamakan Taman Arya Jipang,” Lilik Suharmaji.

Tidak berhenti sampai di situ, taman di tengah kota juga diberi nama Taman Patih Mentaun, seorang patih legendaris yang sangat setia kepada Arya Penangsang.

Menurut Chatarina Etty, kita harus memberikan edukasi kepada anak didik untuk tidak merasa paling benar pendapatnya tentang pengetahuan sejarah. Dalam mengajarkan sejarah kepada anak didik harus mengedepankan salah satu prinsip Historical Thingking Skill yakni diakronis (hukum kausalitas, sebab akibat).

“Arya penangsang belum tentu salah dan dianggap sebagai kaum pemberontak jika dilihat dari penegakan kebenaran dan hak bagi dirinya. Dengan demikian sejarah hendaknya jangan dijadikan hanya sebagai alat legitimasi penguasa tertentu tetapi dijadikan pelajaran yang berharga agar hidup ini tidak mengulang kesalahan yang sama seperti dilakukan oleh para pendahulu kita,” tegas Chatarina. (lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here