Home News Prosesi Liturgi Rabu Abu, Gereja Medari Sleman Bagikan Abu Ke Rumah Umat

Prosesi Liturgi Rabu Abu, Gereja Medari Sleman Bagikan Abu Ke Rumah Umat

115
0
Ilustrasi liturgi Rabu Abu, cara pengolesan abu pada dahi seperti tradisi di Indonesia. (Foto: Repro Katolikana.com)

BERNASNEWS.COM — Menyikapi situasi dunia yang masih dalam suasana pandemi Covid-19, Gereja Katolik menerbitkan tatacara penerimaan abu secara khusus saat misa Rabu Abu yang jatuh pada tanggal 17 Februari 2021. Seperti dikutip dari laman katolikana.com, Pastor Postinus Gulo, OSC mencuitkan pedoman liturgi ini di Twitternya.

Pastor yang berkarya di Keuskupan Bandung ini menyitir catatan yang dikeluarkan oleh Kongregasi Ibadat Ilahi dan Tata Tertib Sakramen pada tanggal 12 Januari 2021.Perbedaan yang kentara dalam misa Rabu Abu tahun ini akan terlihat saat memasuki prosesi pemberian abu. Pastor akan mengucapkan doa untuk memberkati abu yang akan diberikan kepada umat. Abu diperciki dengan air suci dan setelah itu pastor mengucapkan pesan, “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil,” atau “Ingatlah bahwa engkau adalah debu dan akan kembali menjadi debu”.

“Salah satu dari dua kalimat ini hanya akan diucapkan sekali saja oleh pastor dan ditujukan kepada seluruh umat yang hadir di dalam misa,” cuit Pastor Postinus Gulo, OSC. Setelah pastor membersihkan tangannya, kembali memakai masker, dan mulai menerimakan abu kepada umat.

Kali ini abu tidak akan dioleskan pada dahi umat tetapi ditaburkan di atas kepala umat. “Hal ini untuk meminimalisir kontak fisik antara pastor dan umat. Pastor juga tidak mengucapkan apapun saat penerimaan abu karena pesan pertobatan telah disampaikan secara general sebelum penerimaan abu,” ungkapnya. Bagi umat yang memilih untuk tidak menghadiri misa Rabu Abu di gereja, dipersilakan untuk tetap menghadiri misa secara online dengan khidmat dan tidak perlu menerima penaburan abu secara langsung.

Abu dalam kemasan yang dibagikan oleh Gereja Medari, Sleman, DIY, Rabu (17/2/2021). Foto: Repro FB Emil Yuli Monterio.

Menurut pengamatan Bernasnews.com, ada yang menarik terkait prosesi liturgi Rabu Abu, yang dituliskan oleh Emil Yuli Monteiro di dinding akun facebook (FB) miliknya, Rabu (17/2/2021) yang mengatakan, bahwa penerimaan abu di Gereja Medari, Kabupaten Sleman, DIY dibagikan di masing-masing keluarga umat dan diterimakan oleh anggota keluarga yang senior (usia uzur, red).

Tulisan pada akun FB itu disertai dengan foto abu yang dikemas dalam cup mungil disertai hiasan stiker. “Tambahan Info. Bagi yang tinggal sendiri dilayani oleh prodiakon setempat,” kata Emil, saat dikonfirmasi oleh Bernasnews.com.

Sementara perihal penerimaan abu tersebut, Pastor Postinus dalam cuitannya menjelaskan, bahwa Gereja Katolik mengizinkan dua cara pemberian abu dalam liturgi Rabu Abu. Cara pertama adalah pengolesan abu pada dahi, seperti tradisi di Indonesia. Cara kedua, yaitu penaburan abu di atas kepala, kebiasaan yang lazim dilakukan di Roma. “Sehingga tatacara ini bukanlah tatacara yang baru dikreasi akibat adanya pandemi,” cuitnya.

Perlu kita refleksikan bersama, imbuh Pastor Postinus, bahwa abu yang diterima merupakan tanda bahwa kita memasuki masa pertobatan yang diikuti oleh tindakan nyata antara lain, berpuasa, berpantang, dan beramal. “Maka hal yang paling penting adalah pertobatan dan perbuatan amal kita untuk solider kepada yang lain,”tegasnya. (ted)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here