Home Opini Program PEN

Program PEN

527
0
Bakti Wibawa, Perekayasa Ahli Madya BPPT, Wakil Ketua IV ISEI Yogyakarta. (Foto: Dok. Pribadi)

BERNASNEWS.COM — Langkah tepat pemerintah dalam memutuskan untuk melarang kegiatan mudik atau pulang kampung pada lebaran tahun ini, mulai dari tanggal 6 sampai 17 Mei 2021, telah dijalankan dengan cukup baik. Kebijakan ini tentunya diambil untuk mencegah penularan virus Covid-19 semakin meluas. Namun kenapa sampai pertengahan 2021 ini pandemi Covid-19 tetap saja belum juga dapat diatasi? Bahkan justeru mulai ada lonjakan penularan paska liburan lebaran yang lalu, kenapa?

Menurut beberapa pengamat, dampak larangan mudik 2021 terhadap kegiatan ekonomi sebenarnya tidak akan lebih parah dibandingkan tahun lalu, dikarenakan kali ini pemerintah tetap mengijinkan pembukaan sejumlah tempat wisata dan pusat perbelanjaan sehingga masyarakat lokal tetap bisa membelanjakan uangnya selama sekitar libur lebaran.

Dampak dari sisi kesehatan nampaknya perlu lebih dicermati. Dari perkembangan data yang dapat diakses melalui pusat informasi Covid-19 di berbagai media, angka kepositifan Covid-19, yaitu angka yang menunjukkan bagaimana besarnya penularan terjadi di masyarakat, pada waktu-waktu belakangan cukup mengkhawatirkan, karena ada kecenderungan semakin meningkat dari hari ke hari, terutama untuk daerah-daerah tertentu dan juga di ibukota.

Meski sudah ada larangan mudik, tampaknya ada sebagian masyarakat yang sudah tidak atau kurang sabar lagi menahan kerinduan mereka kepada keluarganya yang berada di luar kota. Maksud baik dari pemerintah dalam larangan mudik untuk menghindari penularan lebih banyak tersebut tampaknya kurang ditaati oleh banyak orang. Masih banyak anggota masyarakat yang memaksakan diri untuk menerobos hambatan-hambatan dan rintangan-rintangan yang disiapkan, yang dimaksudkan untuk mengurangi intensitas kerumunan, mobilitas atau kontaminasi antar penduduk.

Banyak juga masyarakat yang memanfaatkan ‘kesempatan’ untuk berpergian atau sengaja mudik sebelum atau setelah larangan mudik secara efektif diterapkan. Padahal ada kemungkinan orang-orang tersebut berstatus OTG, orang tanpa gejala, atau bahkan adalah penderita namun tidak menampakkan gejala sakit parah  namun justru berpotensi besar dalam menyebarkan dan menularkan virus ini secara efektif.

Selain itu, adhuh biyung,  banyak orang yang abai dan sengaja atau tidak sengaja meninggalkan himbauan untuk melaksanakan pesan simbok 5 M itu, yakni memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan dan mengurangi mobilitas.

Angka positif penularan Covid-19 dengan varian mutasi virus baru yang cenderung semakin ganaspun bisa saja terbawa dari kegiatan mobilitas yang tak terkontrol ini. Masih banyak orang yang abai. Masih banyak orang kurang percaya adanya keganasan pandemi ini, tentu juga menambah percepatan angka penularan.  

Di sisi lain, dampak pandemi ini memang luar biasa. Kita tahu, adanya pandemi yang terjadi di seluruh dunia ini telah menimbulkan dampak pada aktivitas perekonomian secara global, mendunia. Kita juga tahu, salah satu kegiatan ekonomi yang mengalami dampak paling parah menurut beberapa analis ekonomi adalah industri pariwisata

Bangunan heritage bagian dari obyek wisata Taman Sari, Kemantren Kraton, Kota Yogyakarta, DIY. (Foto: Dok. Bernasnews.com)

Kampung saya, Tamansari, salah satu dari tempat wisata sejarah di Kota Yogyakarta, sudah lama menjadi tujuan wisata/destinasi, baik oleh para wisatawan domestik maupun wisatawan luar negeri. Angka kunjungan yang luar biasa, membuat tempat ini sangat menjanjikan bagi para pelaku usaha di bidang pariwisata, karena   dengan kedatangan ribuan pengunjung setiap harinya hingga sebelum pandemi dulu. Apalagi kalau ada long week end, liburan atau lebaran.

Namun sungguh menyedihkan, situasi dan kondisi itu telah berbalik, sejak datangnya pandemi, kampung kami ini mendadak menjadi sepi. Begitu pandemi mulai merebak tahun lalu, aktivitas wisatanya makin sepi, jumlah pengunjung anjlok. Bahkan sempat menjadi mati karena  di awal-awal merebaknya pandemi Covid-19 tempat wisata ini sempat ditutup beberapa bulan. Tercatat mulai awal Maret 2020 obyek wisata Tamansari ditutup total. Ya wis, terpaksa kami diam, sambil wait and see.

Pada tanggal 8 Juli 2020 obyek wisata Tamansari mulai dibuka pelan-pelan, lumayan, kami mulai gumregah lagi, harus dengan lebih kreatif dan inovatif lagi. Situs wisata ini mulai didatangi banyak wisatawan lokal lagi, namun dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Geliat ekonomi wisata baru, kegiatan yang disertai dengan berbagai perubahan cara kunjungan dan menjaga keamanan dan kesehatan bagi pengunjung, pelaku wisata, pemandu dan penduduk sekitar destinasi.

Protokol tersebut yakni dengan mencuci tangan, cek suhu tubuh, hingga mematuhi pembatasan jumlah pengunjung, dibagi dengan   rombongan-rombongan kecil terdiri dari 10-15 pengunjung, tidak bebas seperti sebelum ada pandemi. Rombongan pengunjung pun harus menunggu sekitar 5 menit dari keberangkatan rombongan pengunjung sebelumnya. Setiap rombongan juga  harus ditemani seorang pemandu. Hingga sekarang pengaturan ini masih berlaku.

Dengan merebaknya kembali penularan Covid-19 saat ini tentu juga akan berdampak pada jumlah pengunjung dan kegiatan wisata lagi. Tentu dampak di luar Tamansari pun juga berat. Jumlah wisatawan selama ini berkurang drastis. Transportasi, akomodasi, dan kegiatan jasa pariwisata tiarap cukup lama.  Tentu tidak hanya kampung saya Tamansari yang mengalami hal ini.  Kota saya, propinsi saya, negara saya, bahkan ternyata seluruh dunia merasakan lesu ekonomi lagi. 

Ekonomi wisatapun pernah seakan mati suri. Sebagian besar trayek angkutan udara terhenti. Kita harus mengembalikan puluhan pesawat sewaan yang kurang bisa didayagunakan. Kesehatan beberapa maskapai penerbangan kita sangat terganggu. Tak terkecuali maskapai yang berplat merah. Para leasor pesawat terbang pun tentu juga harus paham adanya. Demikian juga dampak transportasi dengan moda kapal api, kereta api, bus, truk dan sebagainya, yang juga harus berubah dan diperketat dalam pelayanannya.

Sebenarnya beberapa waktu yang lalu geliat ekonomi sudah mulai tampak lagi, akan terbangun lagi, pulih sedikit demi sedikit lagi, tetapi tampaknya saat ini harus rehat kagi, rebahan lagi, tiarap lagi, kontraksi lagi, karena secara signifikan Covid-19 telah merebak lagi. Perlu perhatian yang lebih mendalam oleh para pemangku kepentingan dan pengambil kebijakan untuk menggandeng lebih erat lagi para ahli kesehatan juga para ahli ekonomi. Agar bisa tetap seiring dan sejalan, mengawal kegiatan masyarakat dari sisi ekonomi juga dari sisi kesehatan.

Semua yang terlibat harus bertekad, dengan gigih, dengan kreatif-inovatif, tetap bertahan, menjaga kesehatan dan giat ekonominya.  Ekonomi harus bangkit lagi, harus pulih kembali. Harus dengan banyak terobosan, banyak ide dan pemikiran.

‘Manipulasi’ (dengan konotasi positif) APBN  untuk program PEN (Pemulihan Ekonomi Nasional), pajak-pajak dengan model dan terobosan baru, restrukturisasi ekonomi, restrukturisasi kredit bank, penguatan UMKM, menghidupkan kembali pariwisata,  subsidi transportasi, terutama produksi dan distribusi  komoditas ‘export oriented‘, produksi barang-barang massal dan penting, saatnya refocusing CSR, dan lain-lain.  Semoga program-program  PEN berjalan lancar, efektif dan efisien.  (Bakti Wibawa, Perekayasa Ahli Madya BPPT, Wakil Ketua IV ISEI Yogyakarta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here