Home Opini Program Lorong Sayur, Solusi Ketahanan Pangan

Program Lorong Sayur, Solusi Ketahanan Pangan

526
0
Dr. Oktiva Anggraini, SIP, MSi, Ketua LPPM Universitas Widya Mataram, Yogyakarta. (Foto: Dok. Pribadi)

BERNASNEWS.COM — Program Lorong Sayur dan Lele Cendol sebagai salah satu upaya masyarakat Yogya untuk mendukung ketahanan pangan di era Pendemi Covid 19, telah mulai dirasakan manfaatnya. Warga dapat menikmati hasil sayur dan ikan segar dari kebun  sendiri. Program ini merupakan salah satu solusi untuk memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri serta memperbaiki kondisi lingkungan agar tercipta lingkungan yang sehat dan berkualitas. Demikian hasil saat kegiatan monitoring kegiatan pengabdian masyarakat pelatihan urban farming yang dilaksanakan tim UWM di kelurahan Pandeyan, Umbulharjo, pertengahan Agustus lalu.

Seperti diketahui, kelompok tani perkotaan di Yogyakarta saat ini cukup bergairah untuk menggarap Lele Cendol sebagai komoditi yang menjanjikan. Tercatat sudah ada sebanyak 1.429 kolam Lele Cendol yang tersebar di seluruh kelurahan di Kota Yogyakarta. Hal ini sesuai dengan target Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta bahwa setiap kelurahan diharapkan memiliki 60 kolam lele cendol. Kelurahan Pandeyan di kecamatan Umbulharjo menjadi salah satu wilayah pengembangan program lele cendol dan lorong sayur.

Sejalan dengan harapan pemkot Yogyakarta, LPPM UWM melalui kegiatan pengabdian pada masyarakat, bermaksud lebih mengenalkan kegiatan urban farming kepada warga yang diterpa pandemi. Pada masa ini, muncul kebijakan dari pemerintah tentang pembatasan gerak yang berdampak pada perputaran ekonomi, barang dan jasa menjadi terbatas pula.

Keterbatasan itu, mengakibatkan harga-harga hasil produk pertanian menjadi mahal dan tidak terjangkau. Dengan optimalisasi program urban farming, diharapkan dapat menjadi solusi ketahanan pangan saat pandemi. Selain itu, sebagai pemecahan masalah minimnya RTH (Ruang Terbuka Hijau) di kota. Dengan digalakkannya urban farming, wilayah penyerap CO2 menjadi lebih banyak sehingga kualitas udara menjadi lebih baik. Edukasi pertanian perkotaan ini diharapkan berkembang secara terpadu.

Kegiatan pengabdian pada masyarakat berlangsung mulai Januari hingga Maret 2020. Program aksi, berupa penyuluhan dan praktek meliputi budidaya tanaman hidroponik dalam baskom, budidaya tanaman dalam polibag dan polikultur tanaman sayuran dalam polibag.

Polibag banyak disukai karena harga murah, tidak memakan tempat karena di perkotaan rata-rata warga tidak memiliki lahan yang luas untuk bercocok tanam. Dengan polibag, tanaman juga mudah dipindah sesuai keinginan pemiliknya. Untuk tanaman sayuran yang dikembangkan, pada umumnya sayur seperti caisim, bayam, terong, kacang panjang dan lombok. Cara vertikultur pun dikenalkan, yakni menanam sayur dengan sistem gantung atau menempel di tembok, di lorong gang sekitar rumah mereka.

Dari kegiatan monitoring program, disadari bahwa warga masyarakat mulai memahami tentang pertanian perkotaan sebagai kegiatan pertumbuhan, pengolahan dan distribusi pangan serta produk lainnya melalui budidaya tanaman dan peternakan. Urban farming menjadi kegiatan menarik bagi warga kota selain kegiatan memasak pada masa pandemi.

Tersedianya waktu yang banyak, warga lebih sering berada di rumah menjadi pendorong mereka lebih giat memperhatikan lingkungan hijau di sekitarnya. Di samping itu, warga semakin akrab dengan penggunaaan (kembali) atau reuse sumber daya alam dan limbah perkotaan, untuk memperoleh keragaman hasil panen dan hewan ternak.

Hasil kegiatan pengabdian masyarakat menunjukkan bahwa pengetahuan dan ketrampilan peserta tentang pertanian perkotaan meningkat. Teknologi budidaya tanaman dalam polibag di rumah paling banyak diterapkan karena efisien. Ketrampilan tentang macam-macam teknologi pertanian perkotaan dapat diterapkan di lahan sempit. Kegiatan yang meningkatkan ketahanan pangan ini, menambah minat warga untuk  mensosialisasikannya selama pandemi Covid 19 melalui media sosial. Bahkan, tim pengabdi merasa bangga ketika produk pertanian warga dapat dinikmati bahkan dipasarkan melalui whatsapp group (WAG) kampung.

Mengingat sempitnya lahan perkotaan, tim UWM menyarankan warga agar dapat mengoptimalkan sistem verticultur yang efektif  untuk menanam tanaman hias dan sayuran organik di lahan terbatas. Pemanfaatan botol plastik atau barang daur ulang lainnya dapat dilakukan. Sistem pertanian verticultur dengan menonjolkan segi estetika masih jarang dilakukan. Potensi warga Yogya yang kreatif dapat didorong untuk menggunakan sistem ini untuk menunjang penataan kampungnya menjadi lebih menarik. (Dr. Oktiva Anggraini, SIP, MSi, Ketua LPPM Universitas Widya Mataram, Yogyakarta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here