Home News Program Ketahanan Pangan Kevikepan DIY Terus Berlanjut

Program Ketahanan Pangan Kevikepan DIY Terus Berlanjut

1022
0
Vikep DIY Romo Andrianus Maradiyo Pr (memakai kaos biru) memimpin pertemuan membahas ketahanan pangan di masa krisis, yang berlangsung di bawah pohon sawo di tengah kebun Omah Paseduluran di Sleman, Kamis (28/5/2020). Foto: Anton Sumarjana/Bernasnews.com

BERNASNEWS.COM – Ada lahan kosong di dekat tempat tinggal Anda? Ya, sangat disayangkan kalau tidak dimanfaatkan. Daripada membelukar atau bersemak, lahan kosong tersebut sebaiknya diolah untuk menghasilkan bahan pangan.

Pada masa Pandemi Covid 19 yang berdampak luas di banyak lini kehidupan ini, lahan kosong berbelukar sekali pun sebaiknya segera diolah menjadi lahan pertanian, peternakan atau perikanan. Hasilnya, akan sangat menolong kehidupan masyarakat yang terdampak krisis.

Pemberdayaan lahan untuk menanam, beternak dan budidaya ikan akan sangat membantu usaha pemerintah dalam menguatkan ketahanan pangan masyarakat. Beberapa aktivis sosial, ekonomi, kemasyarakatan dan kemanusiaan berkumpul untuk merencanakan program ketahanan pangan mengantisipasi dampak lebih lanjut dari wabah virus korona ini.

Mereka berkumpul di kebun dimana Komunitas Omah Paseduluran mengolah lahan seluas 4.000 meter persegi sebagai tempat untuk pembudidayaan ikan lele, bertanam sayuran dan buah-buahan, serta beternak ayam. Kebun OP ini terletak di Dusun Dukuh, Kelurahan Panduharjo, Kabupaten Sleman, DIY.

Atas prakarsa Vikep DIY Romo Andrianus Maradiyo Pr, para aktivis berkumpul di Kebun Omah Paseduluran di Sleman, Kamis (27/5/2020) untuk merancang program ketahanan pangan dalam masa krisis sebagai dampak wabah virus korona dan masa selanjutnya. Foto: Anton Sumarjana/Bernasnews.com

Para aktivis dan tokoh masyarakat Katolik DIY bertemu ditempat tersebut, Kamis (27/5/2020), diprakarsai Vikep DIY Romo Andrianus Maradiyo Pr. Mereka menanggapi undangan kevikepan untuk berhimpun di kebun OP ini guna memikirkan program ketahanan pangan umat dan masyarakat pada masa krisis dan kelanjutannya.

Mereka yang hadir dari hirarki, unsur-unsur ormaskat, komisi di kevikepan, pemerhati dan perorangan. Dari hirarki ada Vikep DIY Romo Adrianus Maradiyo Pr, Ketua Komisi PSE Kevikepan DIY Romo Jonathan Billie Cahya Adi Pr dan Ketua PPM DIY Romo Ferdinandus Effendi Sunur SJ.

Sementara dari Komisi KPKC Kevikepan DIY hadir Agus Sumaryoto, Hendro Anindito, Elis Setyaningsih dan Anton Sumarjana, Ketua FMKI DIY Hari Sarwoto dan aktivis FMKI Bangun Prasetyo dan Petrus Eko Nugroho. Sementara WKRI mengirim Irene dan Puji Setyowati. Dari PMKRI DIY hadir ketuanya, Astra Tandang. Tampak juga anggota DPRD Kota Yogyakarta dari Fraksi PDIP Antonius Fokky Andrianto SIP. Dari Komunitas Omah Paseduluran sebagai tuan rumah ada Ismono, Aswad, Joko dan beberapa orang lainnya. Hadir pula ketua wilayah dan lingkungan.

Pertemuan yang dipandu Agus Sumaryoto ini berlangsung di bawah kerindangan pohon sawo di tengah kebun. Semilir angin usai hujan tak membuat peserta pertemuan mengantuk. Sejak diawali Romo Andrianus Maradiyo, yang akrab disapa Romo Dio, peserta pertemuan tampak antusias menyampaikan pendapat dan pemikirannya.

Greg Haryana. Foto: Anton Sumarjana/Bernasnews.com

Romo Dio yang sudah dua kali berkunjung di OP ini menyatakan keinginannya agar Kebun OP bisa menjadi Basecamp untuk gerakan ketahanan pangan di Kevikepan DIY. “Semangatnya adalah untuk menghidupi paseduluran. Paseduluran akan membuka sekat-sekat yang ada sehingga kita menjadi satu. Tempat ini pas untuk membuat gerakan yang memikirkan ketahanan pangan. Tidak  berhenti pada masa krisis, tapi tempat untuk membangun paseduluran, berbagi pengalaman yang memperkaya kita,” tutur Romo Dio.

Ajakan Romo Dio diamini semua yang hadir. Lalu muncul usul-usul apa yang harus dilakukan bersama dalam waktu dekat ini. Usulan mengerucut pada program pengadaan bibit sayur mayur. Ketua PSE Kevikepan DIY Romo Wili langsung menantang, apakah OP dan tim kevikepan yang akan mengurusi pengadaan bibit sayur mayur ini bisa menyiapkan 50 ribu bibit dalam waktu seminggu ini. “Agar kerangka berpikir kita tidak untuk jangka panjang, tapi nyata agar ada yang bisa segera dikerjakan,” tegas imam vikaris Paroki Kalasan ini.

Tantangan lansung diamini oleh Ismono, mewakili OP dan Tim Kevikepan. Maka dalam waktu dekat ini, program pengadaan bibit dan benih sayuran akan diwartakan ke semua paroki di Kevikepan DIY. Jenis bibit dan benih sayuran yang akan disediakan meliputi cabai, kangkung, sawi hijau, tomat, terong dan bayem. Diharapkan umat menyambut antusias program pengadaan bibit dan benih sayuran ini.

Sebelumnya, Kevikepan DIY memfasilitasi pengadaan bibit pohon singkong dan bibit ikan lele,dimana telah didistribusikan sekitar 100 ribu batang pohon singkong dan 100 ribu bibit ikan lele. Yang menarik, ada usul dari aktivis pengembangan masyarakat Greg Haryana yang memberi pandangan di akhir pertemuan. Usulnya disampaikan lagi saat wawancara dengan penulis.

Greg yang secara khusus mendalami soal peternakan dan nutrisi ini mengungkapkan, dalam situasi krisis sekarang ini, dan kemungkinan akan terjadinya krisis pangan ke depan, masyarakat harus bisa menyediakan bahan makan sendiri. Para aktivis yang berkumpul ini, menurut Greg, bisa memfasilitasi masyarakat dengan pengadaan benih atau bibit tanaman yang bisa dibudidayakan warga masyarakat dengan mudah, murah, bergizi tinggi dan mempunyai efek dan dampak yang berkelanjutan.

Menurut Greg, bila tanaman sayur seperti kangkung, tomat, bayem dan lain-lain itu biasa saja, maka ia memberi alternatif tanaman sayuran seperti Kaelan dan bunga Rosela. Kata Greg, Kaelan itu bergizi tinggi dan berkelas. Sedangkan Rosella sangat mudah dikembangkan, pasti hidup dan tumbuh, gampang sekali dikembangkan, karena tidak perlu banyak air dan pemeliharaan. ”Kandungan vitamin C dalam bunga Rosella itu enam kali lebih besar daripada buah jeruk,” ujarnya.

Khusus untuk daerah perkotaan, Greg menyarankan pola tanam vertikultur (media tanam ke atas), mengingat terbatasnya lahan. Sedangkan Rosella bisa ditanam di polybag. “Pasti tumbuh. Dan kalau ada tamu, kita bisa menyuguh dengan minuman bunga rosella. Gulanya, gula batu. Pas menjadi minuman yang khas,” usulnya.

Jadi masihkah tidak risih dengan lahan kosong? Sayang, jika masih ada lahan kosong yang tidak diproduktifkan. Dengan mengolahnya menjadi lahan pertanian, perikanan atau peternakan, dapat terpenuhi kebutuhan pangan keluarga.

Kevikepan DIY terus mendorong dan mengajak umat serta masyarakat untuk bertanam, berternak dan budidaya ikan sebagai upaya untuk menciptakan ketahanan pangan, pada masa krisis ini dan selanjutnya. Dan Omah Paseduluran di Sleman siap melayani pembelian bibit lele dan lele siap konsumsi. Sedang disiapkan bibit dan benih aneka sayuran untuk didistribusikan ke paroki-paroki. (Anton Sumarjana)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here