Tuesday, June 28, 2022
spot_imgspot_img
spot_img
HomePendidikanProf Fathul Wahid: Media Sosial, Antara Penyubur dan Pengubur Demokrasi

Prof Fathul Wahid: Media Sosial, Antara Penyubur dan Pengubur Demokrasi

bernasnews.com – Guru Besar FTI UII Prof Fathul Wahid ST MSc PhD mengatakan bahwa secara umum, di sektor publik, media sosial (medsos) bisa menghadirkan beragam manfaat yang terkait dengan peningkatan partisipasi publlik, perbaikan transparansi dan akuntabilitas serta berproduksi beragam ide dan kebijakan bersama warga.

Dalam hal ini, menurut Prof Fathul Wahid, medsos dapat menjadi penyubur demokrasi ketika suara warga negara mendapatkaan kanal atau digunakan sebagai basis pengambilan kebijakan, termasuk dalam memberikan layanan publik yang lebih bermanfaat.

Namun, menurut Prof Fathul Wahid, medsos dapat menjadi pengubur demokrasi bila digunakan untuk memanipulasi data dan informasi. Informasi palsu atau kebohongan dapat memalingkan orang dari masalah yang seharusnya, mengambil resiko yang tidak perlu, membahayakan kesehatan dan merusak manajemen diri.

“Informasi yang tidak akurat juga dapat menjadikan orang mempunyai kesimpulan yang salah, misalanya orang baik yang dianggap melakukan tindakan sangat buruk dan sebaliknya. Di mas pandemi Covid-19, misalnya, kebohongan yang menyebar bisa membahayakan kesehatan dan kepalsuan,” kata Prof Fathul Wahid ST MSc PhD, Rektor UII, dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar bidang Sistem Informasi FTI UII di Auditorium Abdul Kahar Muzakkir Kampus Terpadu UII pada Senin 30 Mei 2022.

Acara pengukuhan Prof Fathul Wahid ST MSc PhD sebagai Guru Besar bidang Sistem Informasi FTI UII dan Prof Dr Budi Agus Riswandi SH M.Hum sebgi Guru Besar bidang Ilmu Hukum FH UII di Auditorium Abdul Kahar Muzakkir Kampus Terpadu UII pada Senin 30 Mei 2022. Foto: Philipus Jehamun/bernasnews.com

Pada saat dan di tempat yang sama, Prof Dr Budi Agus Riswandi SH M.Hum juga dikukukan menjadi Guru Besar bidang Ilmu Hukum FH UII.

Menurut Prof Fathul Wahid, tren penggunaan medsos untuk manipulasi opini publik terjadi hampir di seluruh negara di muka bumi. Mengutip hasil riset yang dilakukan tim dari Universitas Oford 20019, Prof Fathul Wahid mengatakan bahwa kampanye dengan manipulasi media sosial pada 2020 terjadi di 81 negara. Jumlah ini meningkat dari 70 negara pada 2019, 48 negara pada 2018 dan 28 negara pada 2017.

Bahkan pada 2020 ditemukan aktivitas pasukan siber di 70 negara. Proses ini tidak hanya melibatkan pengguna manusia, tetapi juga akun terautomotisasi atau political bots untuk mengamplifikasi pesan dengn cepat. “Studi menemukannya di 57 negara, termasuk Indonesia,” kata Prof Fathul Wahid.

Acara pengukuhan Prof Fathul Wahid ST MSc PhD sebagai Guru Besar bidang Sistem Informasi FTI UII dan Prof Dr Budi Agus Riswandi SH M.Hum sebgi Guru Besar bidang Ilmu Hukum FH UII di Auditorium Abdul Kahar Muzakkir Kampus Terpadu UII pada Senin 30 Mei 2022. Foto: Philipus Jehamun/bernasnews.com

Menurut Prof Fathul Wahid, meskipun sangat mungkin nilai (values) tertentu dijadikan dasar dan disuntikkan ketika sebuah platform didesain dan dibuat, tetapi dalam perjalannya banyak nilai baru yang muncul (emergent) dan mendasari penggunaan lain. “Penggunaan ini bahkan mungkin tidak terbayangkan di awal kemunculannya,” kata Prof Fathul Wahid.

Hal inilah yang akhirnya memunculkan kejutan-kejutan atau konsekwensi yang tidak direncanakan, baik yang membawa ke arah positif maupun negatif. Media sosial pun demikian. (phj)

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments