Wednesday, May 18, 2022
spot_imgspot_img
spot_img
HomeProf Dr. Ana Nadhya Abrar, M.E.S, Wartawan dan Buku

Prof Dr. Ana Nadhya Abrar, M.E.S, Wartawan dan Buku

bernasnews.com —  Sebuah informasi masuk ke handphone saya pada hari Rabu (9/3/2022). Informasi itu berisi undangan Pidato Pengukuhan Guru Besar Prof. Dr. Ana Nadhya Abrar, M.E.S. dari Departemen Ilmu Komunikasi FISIPOL UGM Yogyakarta, hari Kamis (10/3). Judul pidato pengukuhannya Menarik Garis Batas Jurnalisme dalam Penulisan Biografi.  

            Secara pribadi saya mengenal Prof Ana. Pikiran saya segera melayang ke tahun 2001 silam, saat masih operasional di lapangan sebagai wartawan dan antara lain bertugas di kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Sebagai wartawan anggota angkatan pertama Forum Wartawan Kampus Gadjah Mada (Fortakgama), saya dan rekan-rekan wartawan lain memiliki banyak akses untuk liputan di UGM. Salah satunya adalah wawancara dengan para akademisi kampus tersebut.

            Ana Nadhya Abrar adalah salah satu narasumber saya. Ketika pada tahun 2001 saya mensyukuri 25 tahun berkarya sebagai wartawan, antara lain bermaksud menerbitkan karya buku. Saya berpikir, buku bertajuk Biar Berita Bicara akan afdol kalau diberi kata pengantar oleh akademi ilmu komunikasi khususnya jurusan jurnalistik dan lebih khusus lagi pernah menjadi wartawan kampus. Pilihan itu jatuh ke Ana Nadhya Abrar.  Ketika saya kontak dan minta menulis kata pengantar, dia langsung setuju dan mengapresi wartawan menulis buku.

            Kata pengantar atas buku saya itu diberi judul : Mengungkap Pengetahuan dan Pengalaman Wartawan untuk Menyempurnakan Jurnalisme Indonesia.

Buku “Biar Berita Bicara” karya Y.B. Margantoro dengan kata pengantar Ana Nadhya Abrar. (Foto : Istimewa)

Kampanye melek media

            Dalam kata pengantar atas buku Biar Berita Bicara (2001) itu, Ana Nadhya Abrar mengatakan, kalau seorang wartawan menganggap jurnalisme hanya sebagai proses pengumpulan fakta, penulisan fakta jadi berita, penyuntingan dan penyiaran berita, maka dia harus berurusan dengan teknik yang memungkinkan proses itu berjalan baik. Dia merasa tidak perlu menulis buku tentang teknik itu. Sebab banyak sekali buku bercerita tentang hal itu.

            Kalau seorang wartawan menganggap bahwa jurnalisme bisa menjadi alat provokasi, dia barangkali akan mulai berpikir bahwa dia berurusan dengan kepentingan media yang menyiarkan berita. Dia akan berusaha mengetahui framing yang biasa dipakai media tempatnya bekerja dan menggunakannya dalam menulis berita. Namun, bersediakah dia menulis buku tentang framing medianya. Rasanya tidak.

            Jika wartawan menganggap bahwa jurnalisme bisa dipakai untuk menganalisis berita yang disiarkan media pers, dia barangkali akan berhati-hati menulis berita. Dia akan selalu ingat bahwa sebagai produk informasi, berita harus melayani hak tahu (right to know) dan hak menyatakan pendapat (right to express) yang dimiliki khalayak. Tetapi ketika dia diminta menulis sebuah buku tentang masalah jurnalisme Indonesia berkaitan dengan pemenuhan kedua hak asasi khalayak tersebut, mendadak dia gelagapan.

            Ketika informasi semakin memborbardir khalayak, dan makin kentara ketidakberdayaaan khalayak menghadapinya, muncul tahapan baru. Wartawan Indonesia merasa terpanggil untuk menceritakan seluk beluk berita Indonesia. Ada yang berangkat dari keinginan untuk memberdayakan (empowering) khalayak. Ada pula yang ingin menyempurnakan jurnalisme Indonesia. Yang terakhir ini, bila dilihat dengan seksama, sesungguhnya termasuk kampanye melek jurnalisme. Jadi muaranya juga memberdayakan khalayak. Contoh dari yang terakhir ini adalah penulis buku Biar Berita Bicara ini.   

            Pada bagian lain, Ana Nadhya Abrar menyinggung soal wartawan hebat. Menurut dia, kriteria umum tentang wartawan hebat adalah : (1) Piawai menerapkan nilai-nilai dan dan misi jurnalisme dalam melaksanakan tugas; (2) Terampil menulis berita yang diterima luas oleh khalayak, baik secara kuantitatif maupun kualitatif; (3) Memiliki prestasi dan kemampuan kerja yang gemilang dalam kurun waktu yang relatif panjang; (4) Memiliki cita-cita yang mulia tentang profesi wartawan dan berusaha menggapai cita-cita tersebut; (5) Mahir menjadikan dirinya berarti buat khalayak.

            Menurut dia ada beberapa hal yang menjamin lahirnya wartawan hebat. Hal itu adalah : (1) Suasana kerja media pers yang mendukung kreativitas wartawan; (2) Sikap lembaga profesi wartawan yang bersedia membela dan melindungi warganya; (3) Sikap khalayak yang tidak permisif terhadap kekurangan wartawan, dan (4) Sikap stakeholder media pers yang mau memelihara kebebasan pers.

            “Semua kondisi ini bukan saja akan menjamin kelahiran wartawan hebat, tetapi juga menjadi tuntutan wartawan Indonesia. Tanpa keempat syarat itu, yang akan lahir justru wartawan frustrasi. Atau wartawan egois yang tidak pernah peduli dengan kebutuhan informasi khalayak,” kata dia.

            Terima kasih Prof Dr Ana Nadhya Abrar, M.E.S. Selamat mengemban tugas baru sebagai guru besar Departemen Ilmu Komunikasi di FISIPOL UGM Yogyakarta. (Y.B. Margantoro, Penulis buku “Biar Berita Bicara” dan buku jurnalistik lainnya).   

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments