Home Pendidikan Prodi Teknik Kimia FTI UII Mengolah Limbah Masker Medis Menjadi Bahan Bakar...

Prodi Teknik Kimia FTI UII Mengolah Limbah Masker Medis Menjadi Bahan Bakar Alternatif

107
0
Dr Arif Hidayat ST MT, Sekretaris Program Studi Teknik Kimia, Dosen & Peneliti (kiri) bersama Guntur (mahasiswa) mengolah masker jadi bahan bakar altenatif. Foto: Jerri Irgo

BERNASNEWS.COM – Program Studi (Prodi) Teknik Kimia Fakultas Teknologi Industri (FTI) Universitas Islam Indonesia berhasil mengolah limbah masker medis menjadi Bahan Bakar Alternatif (BBA). Hal ini dilakukan tim peneliti yang terdiri dari dosen dan mahasiswa.

Penelitian dilkukan setelah melihat limbah masker sekali pakai yang semakin banyak. Limbah tersebut menyebabkan berbagai masalah, di antaranya penumpukan sampah di TPA, resiko penyebaran virus dan bakteri, potensi menghasilkan lindi yang berbahaya bagi lingkungan serta sulitnya limbah masker untuk terurai secara alami.

Sementara di sisi lain, limbah masker berpotensi untuk diolah menjadi bahan bakar alternatif melalui proses pirolisis untuk mengolah limbah masker menjadi bahan bakar alternatif. Proses pirolisis akan menghasilkan produk cair yang dapat dimanfaatkan sebagai Bahan Bakar Minyak.

Proses pengolahan masker jadi bahan bakar altenatif. Foto: Jerri Irgo

Menurut Prof Dr Ir Hari Purnomo MT IPU, Dekan FTI UII,masker sekali pakai terbuat dari bahan polimer, terutama dari Polypropylene (PP) atau High-Density Poly Ethylene (HDPE). Pada tahap awal, limbah masker harus dipisahkan dari jenis sampah lainnya.
 
Sebelum diproses, limbah masker di-desinfeksi untuk menghilangkan virus atau bakteri yang menempel pada masker. Proses ini dilakukan dengan penyemprotan disinfektan ke limbah masker, kemudian diproses di dalam tabung reaktor pirolisis.
 
Pirolisis sendiri merupakan proses pemanasan tanpa adanya Oksigen di dalam ruangan tertutup yang akan mengubah bahan baku menjadi produk cairan dan padatan. Saat ini tabung reaktor pirolisis yang digunakan mempunyai volume 5 liter dan mampu menampung limbah masker sebanyak 1 kg.  Dari setiap pemrosesan 1 kg limbah masker akan diperoleh produk cair sebanyak 500-600 mL. Analisis terhadap kandungan kimia juga sudah dilakukan dan didapatkan komponen penyusunnya hampir sama dengan senyawa hidrokarbon yang banyak terdapat di dalam BBM.
 
Menurut Prof Hari Purnomo dalam rilis hasil penelitian yang diterima Bernasnews.com, Kamis (23/9/20210, produk pirolisis yang berupa cairan dapat dimanfaatkan sebagai Bahan Bakar Minyak. Saat ini sedang dikembangkan tabung pirolisis yang menggunakan supply panas dari kompor gas untuk menghemat biaya.

Prof Dr Ir Hari Purnomo MT IPU, Dekan FTI UII. Foto: Jerri Irgo

Prof Hari Purnomo yang didampingi Dr Arif Hidayat ST MT, Sekretaris Program Studi Teknik Kimia, Dosen & Peneliti, mengatakan meningkatnya penggunaan masker selama pandemi Covid-19 menimbulkan ancaman baru, baik untuk lingkungan maupun untuk kesehatan masyarakat. Lonjakan penggunaan masker menciptakan permasalahan, yakni peningkatan jumlah limbah plastik sekali pakai.
 
Studi terbaru memperkirakan setiap bulan digunakan 129 miliar potong masker wajah di seluruh dunia. Jika satu bulan terdiri atas 30 hari, maka penggunaan masker wajah sekali pakai sekitar 3 juta potong per menit. Sampah masker yang melimpah akan menjadi lebih bermasalah jika dibuang secara sembarangan.
 
Mengutip release Worldwide Wildlife Fund (WWF) yang melaporkan kekhawatiran tentang pembuangan sampah masker yang salah, dengan mengatakan bahwa jika hanya 1 persen dari masker yang dibuang secara tidak benar, ini akan menghasilkan 10 juta masker per bulan yang tersebar di lingkungan. Mengingat berat masing-masing masker sekitar 4 gram, maka akan memerlukan dispersi lebih dari 40 ribu kilogram plastik di alam. (*/lip)
 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here