Home News Presiden Jokowi Meresmikan Pabrik Baja Kedua di Dunia, Hemat Devisa Rp 29...

Presiden Jokowi Meresmikan Pabrik Baja Kedua di Dunia, Hemat Devisa Rp 29 Triliun

136
0
Presiden Joko Widodo menekan tombol menandai peresmian Hot Strip Mill #2 PT Krakatau Steel (Persero) TBK di Kota Cilegon, Provinsi Banten, Selasa (21/09/2021). Foto: kominfo.go.id

BERNASNEWS.COM – Presiden Joko Widodo meresmikan pabrik Hot Strip Mill #2 PT Krakatau Steel/KS (Persero) TBK di Kota Cilegon, Provinsi Banten, Selasa (21/09/2021). Pabrik Hot Strip Mill #2 KS dengan kapasitas produksi Hot Rolled Coil (HRC) atau baja canai panas sebesar 1,5 juta ton per tahun itu mampu menghemat devisa sebesar Rp 29 triliun per tahun.

Presiden Joko Widodo saat meresmikan beroperasinya pabrik baja canai panas yang dibangun pada tahun 2016 tersebut, mengatakan, pabrik yang menggunakan teknologi modern dan terbaru di industri baja ini hanya ada dua di dunia, yakni yang pertama di Amerika Serikat dan yang kedua di Indonesia di Krakatau Steel ini.

“Dengan beroperasinya pabrik ini akan dapat memenuhi kebutuhan baja dalam negeri dan akan menekan angka impor baja ke yang saat ini berada pada peringkat kedua komoditas impor Indonesia sehingga bisa menghemat devisa hingga Rp 29 triliun per tahun,” kata Presiden Jokowi dikutip Bernasnews.com dari laman kominfo.go.id yang diunggah pada Selasa, 21 September 2021.

Dikatakan, industri baja merupakan sektor yang sangat strategis karena produk yang dihasilkan sangat dibutuhkan dan bisa dimanfaatkan untuk industri-industriyng lain. Sehingga dengan beropersinya pabrik baja dengan kualitas premium ini akan menjadi salah satu pilar penting untuk memacu pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Pabrik yang memiliki kapasitas produksi Hot Rolled Coil (HRC) atau baja canai panas sebesar 1,5 juta ton per tahun ini merupakan pabrik pertama di Indonesia yang mampu menghasilkan HRC kualitas premium. Pabrik ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan baja dalam negeri dan akan terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun sehingg jangan biarkan produk luar/impor masuk.

Disebutkan bahwa dalam 5 tahun terakhir, kebutuhan baja di dalam negeri meningkat hingga sekitar 40 persen. Hal ini dipicu oleh pertumbuhan pembangunan infrastruktur yang terus dilaksanakan. Karena itu, Presiden meminta agar produksi dari pabrik ini terus ditingkatkan hingga mencapai 4 juta ton/tahun. 

Presiden mengingatkan agar kualitas produk yang dihasilkan tidak kalah dari produk impor sehingg dapat memenuhi kebutuhan dunia industri di negara kita. “Saya yakin ini akan menjadi komoditas yang mampu bersaing di pasar regional dan global. Saya titip kepada para Menteri untuk terus mendukung para pelaku industri baja dan besi, mendukung BUMN agar menjadi lebih profesional dan teru menguntungkan,” kata Presiden seraya menambahkan bahwa hal ini gun mewujudkan klaster 10 juta ton industri baja di Cilegon yang ditargetkan terealisasi pada tahun 2025.

Dikatakan, transformasi BUMN menjadi keharusan agar dapat menjadi perusahaan BUMN kelas dunia yang semakin profesional, kompetitif dan menguntungkan. Hal ini perlu dilakukan untuk memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat, membuka makin banyak lapangan pekerjaan dan berkontribusi lebih besar pada pendapatan negara.

Proses transformasi BUMN yang dilakukan mulai dari restrukturisasi di BUMN, pembentukan holding dan sub holding hingga pembentukan klaster-klaster industri strategis. Presiden meminta PT Krakatau Steel agar terus melakukan transformasi dan restrukturisasi.

Sementara Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk Silmy Karim mengatakan bahwa Pabrik Hot Strip Mill #2 Krakatau Steel memiliki nilai investasi mencapai Rp7,5 triliun dengan luas pabrik 25 hektar dan berkapasitas 1,5 juta ton per tahun. Pabrik yang pertama di Indonesia ini mampu menghasilkan produk Hot Rolled Coil dengan ketebalan 1,4 mm hingga 16 mm.

Menurut Silmy, produk yang dihasilkan memiliki kualitas yang lebih baik sehingga produk HRC HSM2 akan diutamakan untuk mengisi pangsa pasar otomotif yang membutuhkan kualitas baja terbaik. Hal ini seiring dengan rencana Indonesia untuk menjadi salah satu pusat produk mobil listrik dunia. Ini akan berdampak pada penghematan devisa Indonesia dan memperbaiki neraca perdagangan. (lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here