Tuesday, May 17, 2022
spot_imgspot_img
spot_img
HomeNewsPresiden Jokowi: Ada Pihak yang Nyaman dengan Impor Tak Peduli Negara Dirugikan

Presiden Jokowi: Ada Pihak yang Nyaman dengan Impor Tak Peduli Negara Dirugikan

BERNASNEWS.COM – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyayangkan ada pihak yang sudah nyaman dengan impor dan tidak memikirkan kepentingan yang lebih besar, yaitu negara dan rakyat. Mereka merasa nyaman dengan impor namun tidak berpikir bahwa negara dirugikan krarena terus mengeluarkn subsid, sementr rakyat dirugikan karena tidak terbuka lapangan pekerjaan.

“Memang duduk di zona nyaman itu paling enak, sudah rutinitas terus impor, impor, impor, impor, nggak berpikir bahwa negara itu dirugikan, rakyat dirugikan karena nggak terbuka lapangan pekerjaan,” kata Presiden Jokowi saat melakukan peletakan batu pertama pembangunan proyek hilirisasi batu bara menjadi dimetil eter (DME) yang hampir sama dengan elpiji di Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan, pada Senin 24 Januari 2022.

Proyek hilirisasi batu bara jadi DME yang ditargetkan selesai dalam waktu 30 bulan ini merupakan kerja sama antara PT Bukit Asam, PT Pertamina dan investor asal Amerika Serikat, Air Products. Bila proyek ini sudah berproduksi, maka berpotensi mengurangi subsidi APBN hingga kurang lebih Rp 7 triliun per tahun.

Menurut Presiden Jokowi yang dikutip Bernasnews.com dari siaran pers Biro Pers, Media dan Informasi Sekretarit Presiden pada Senin 24 Januari 2022, sejak 6 tahun lalu ia sudah memerintahkn untuk hilirisasi dan menghentikan impor. Namun, perintah itu baru direalisasikan sekarang karena ada pihak yang sudah nyaman dengan impor dan tidak memikirkan kepentingan yang lebih besar, yaitu negara dan rakyat.

Presiden Jokowi mengatakan, hilirisasi batu bara menjadi DME akan bisa menekan impor elpiji yang selama ini mencapai sekitar Rp 80 triliun dari total kebutuhan Rp 100 triliun. Dari Rp 80 triliun dana impor tersebut, sebesar Rp 60 triliun hingga Rp 70 triliun. Dengan selesai dan berproduksinya proyek hilirisasi di Muara Enim akan menekan subsid Rp 7 triliun per tahun. Selain itu, proyek tersebut mampu menyerap 11-12 ribu lapangan pekerjaan.

“Impor elpiji kita itu gede banget, mungkin Rp 80-an triliun dari kebutuhan Rp 100-an triliun. Itu pun harus disubsidi untuk sampai ke masyarakat karena harganya juga sudah sangat tinggi sekali. Subsidinya antara Rp 60 sampai Rp 70 triliun,” kata Presiden Jokowi.

Pertanyaannya, kata Presiden Jokowi, apakah ini mau kita teruskan? Impor terus? “Yang untung negara lain, yang terbuka lapangan pekerjaan juga di negara lain, padahal kita memiliki bahan bakunya, kita memiliki raw material-nya yaitu batu bara yang diubah menjadi DME. Hampir mirip dengan elpiji,” kata Presiden Jokowi.

Menurut Presiden, kalau semua elpiji distop dan semuanya pindah ke DME, maka duit subsidi yang gede sekali, yakni Rp 60-Rp 70 triliun itu, akan bisa dikurangi dari APBN. “Ini yang terus kita kejar. Selain kita bisa memperbaiki neraca perdagangan karena nggak impor, kita bisa memperbaiki neraca transaksi berjalan karena kita nggak impor,” demikian Presiden.

Selain menekan impor dan mengurangi subsidi, menurut Presiden Jokowi, satu proyek hilirasi batu bara menjadi DME ini kan membuka sekitar 11-12 ribu lapangan pekerjaan. Jika ada 5 investasi serupa, maka berpotensi menciptakan sekitar 70 ribu lapangan pekerjaan secara langsung. “Kalau ada 5 investasi seperti yang ada di hadapan kita ini, mk 70 ribu lapangan pekerjaan akan tercipta. Itu yang langsung, yang tidak langsung biasanya dua sampai tiga kali lipat,” kat Presiden Jokowi.

Karena itu, Presiden Jokowi mengakutelah mengumpulkan jajarannya yang berkaitan untuk memastikan agar proyek hilirasi ini bisa selesai dalam jangka waktu 30 bulan. Presiden berharap bahwa proyek hilirasi serupa bisa dilakukan di tempat lain karena Indonesia memiliki deposit batu bara yang lebih dari cukup.

“Jangan ada mundur-mundur lagi dan kita harapkan setelah di sini selesai, dimulai lagi di tempat lain. Karena ini hanya bisa menyuplai Sumsel dan sekitarnya, kurang lebih 6 jutaan KK. Karena kita memiliki deposit batu bara yang jauh dari cukup kalau hanya untuk urusan DME ini, sangat kecil,” kata Presiden Jokowi.

Direktur Pengembangan Usaha PT Bukit Asam Rafli Yandra mengatakan proyek bernilai USD 2,1 juta atau setara dengan Rp30 trilliun ini akan mengubah 6 juta ton batu bara menjadi 1,4 juta ton DME setiap tahun. “Kami berharap dengan dukungan Bapak Presiden beserta dengan kementerian dan lembaga yang terkait, pembangunan pabrik DME ini akan berjalan dengan lancar,” kata Rafli Yandra. (lip)






spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments