Home News Positivity Rate di Bawah Standar WHO, Indonesia Menuju Endemi Covid-19

Positivity Rate di Bawah Standar WHO, Indonesia Menuju Endemi Covid-19

36
0
Ilustrasi corona virus. Foto: pixabay

BERNASNEWS.COM – Positivity rate (tingkat positif) kasus Covid-19 di Indonesia hingga Selasa, 28 September 2021, jauh di bawah angka standar WHO sebesar 5 persen. Positivity rate (NAA dan Antigen) orang harian di Indonesi sebesar 1,06 persen, sedangkan positivity rate orang mingguan (pada 19-25 September 2021) sebesar 1,51 persen.

Positivity rate merupakan perbandingan antara jumlah kasus positif Covid-19 dengan jumlah orang yang dites. Berdasarkan standar yang dikeluarkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), angka positivity rate Covid-19 maksimal 5 persen.

Sementara itu, sampai saat ini sebaran Covid-19 terdampak di Indonesia masih berada di 34 provinsi dan 510 kabupaten/kota di Indonesia dengan kondisi level PPKM yang berbeda-beda. 

Menurut Prof Wiku Adisasmito, Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, hingga 26 September 2021, penambahan kasus mingguan di Indonesia sejumlah 17.250 kasus atau turun 20 kali lipat dari puncak kedua. Angka tersebut lebih rendah dari kasus per 24 Agustus 2020 sebesar 18.675 kasus per minggu.

Sementara target Indonesia untuk menekan penambahan kasus mingguan paling tidak di bawah 10.000 kasus per minggu. Bila itu terwujud maka kondisi Covid-19 di Indonesia bisa dikatakan sudah terkendali dan siap fokus menuju endemik Covid-19.

Dalam kerangan pers perkembangan penanganan Covid-19 di Indonesia secara virtual dari Graha BNPB Jakartayang juga disiarkan kanal YouTube Sekretariat Presiden, Selasa (28/9/2021), Wiku yang dikutip Bernasnews.com dari laman covid19.go.id yang diunggah Selasa malam, mengatakan, pencapaian positif ini jadi pembelajaran menghadapai krisis pandemi Covid-19 dalam satu setengah tahun ke belakang.

“Pembelajaran membuahkan perbaikan seiring berjalannya waktu. Dalam menghadapi lonjakan kasus yang lalu, beberapa strategi dan kebijakan telah dijalankan,kata Wiku Adisasmito.

Menurut Wiku, tahun lalu diterapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar atau (PSBB) dengan penyesuaian menjadi PSBB transisi namun PSBB tidak diterapkan merata di wilayah Indonesia. Sementara menghadapi lonjakan kasus tahun 2021, diterapkan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dan berhasil menurunkan laju kasus tidak hanya pada lonjakan kasus pertama namun juga pada lonjakan kasus kedua yang 4 kali lebih tinggi.

Disebutkan bahwa keberhasilan PPKM didukung beberapa hal, pertama, kebijakan PPKM berlapis dimulai dari pembatasan mobilitas dalam dan luar negeri, pengaturan aktivitas sosial-ekonomi hingga pengaturan pada pintu masuk negara. Kedua, kebijakan berlapis secara serentak di Indonesia berhasil menekan dan menurunkan jumlah kasus secara menyeluruh dan maksimal. 

Ketiga, komando pengendalian Covid-19 oleh pemerintah pusat yang berkoordinasi dengan pemerintah daerah melalui koordinasi rutin mingguan hingga saat ini. Keempat, pemerintah menggunakan data kasus dan data penunjang lain yang riil sebagai dasar perumusan kebijakan, misalnya penentuan zonasi dan level PPKM suatu daerah.

Dan kelima, pemerintah menerapkan kebijakan pembatasan pelaku perjalanan internasional dengan melakukan skrining dan karantina agar apapun varian yang muncul bisa dicegah untuk masuk ke Indonesia. “Perlu dipahami bahwa kelima hal ini merupakan modal ketahanan bangsa yang sudah mulai terbentuk dan semakin kuat seiring dengan berjalannya waktu,” kata Wiku.

Menurut Wiku, dalam upaya menuju endemi, resiliensi dan kesigapan daerah dalam mengamati dan merespon kondisi di daerah harus terus ditingkatkan. “Dengan kebijakan yang efektif dan tepat sasaran dari pemerintah serta kepatuhan masyarakat dalam menjalankan, bukan tidak mungkin Indonesia akan terbebas dari pandemi dan mencapai tatanan masyarakat produktif yang aman Covid-19,” kata Prof Wiku. (lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here