Home News Bareskrim Polri Grebek Pabrik Obat Keras di Jogja Berkapasitas Produksi 2 Juta...

Bareskrim Polri Grebek Pabrik Obat Keras di Jogja Berkapasitas Produksi 2 Juta Butir per Hari

446
0
Jumpa pers pengungkapan Mega Cland Lab Obat Keras dan jaringan peredaran gelap DIY-Jabar-Jakarta-Jatim-Kalsel, Senin (27/9/2021). Foto: tangkapan layar kanal YouTube Polda DIY

BERNASNEWS.COM – Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri bekerjasama dengan Polda DIY dan instansi terkait berhasil membongkar keberadaan pabrik obat keras dan obat-obat terlarang di Sonosewu, Kasihan, Bantul, DIY. Pabrik Mega Cland Lab Obat Keras masuk peredaran gelap jariangan DIY-Jabar-Jakarta-Jatim-Kalimantan Selatan.

Dalam siaran pers Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Pol Krisno H Siregar SIK MH tertanggal 27 September 2021 yang diterima Bernasnews.com, disebutkan bahwa dari 7 mesin yang digunakan mampu memproduksi 14 juta butir pil per hari atau 420 juta butir obat keras per hari atau 2 juta butir pil per mesin/hari.

Jumpa pers pengungkapan kasus yang antara lain dihadiri Kabreskrim Polri, Kapolda DIY, Kajati DIY, Kepala Balai POM DIY ini juga disiarkan secara live streaming di kanal YouTube Polda DIY pada Senin, 27 September 2021. Selain menahan 8 tersangka, Bareskrim Polri bersama Polda DIY dan instansi terkait berhasil menyita sejumlah barang bukti.

Barang bukti berupa adonan bahan baku obat keras. Foto: Foto: tangkapan layar kanal YouTube Polda DIY

Secara kronologis, Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Pol Krisno H Siregar SIK MH dalam siaran pers yang juga diterima Bernasnews.com, Senin 27 September 2021, menyebutkan bahwa sejak sejak 6 September 2021, Ditipidnarkoba Bareskrim Polri menyelenggaran kegiatan Kepolisian yang ditingkatkan dengan sandi Anti Pil Koplo 2021 dengn target produsen dan pengedar gelap obat keras/ berbahaya.

Selanjutnya pada 13-15 September 2021 Subdit 3 Ditipidnarkoba Bareskrim Polri berhasil mengungkap kasus peredaran gelap obat-obt keras & psikotopika oleh M dan kawan-kawan (8 orang) dan disita barang bukti lebih dari 5 jut butir pil golongan obat keras  jenis Hexymer, Trihex, DMP, Tramadol, double L, Aprazolam dari berbagai TKP di Cirebon, Indramayu, Majalengka, Bekasi dan Jaktim.

Dari pengungkapan tersebut, menurut Brigjen Pol Krisno H Siregar, diperoleh petunjuk bahwa obat-obat ilegal yang disita berasal dari Jogja. Tim Ditipidnarkoba Bareskrim Polri berkerjasama dengn Polda DIY pada 21 September 2021 pukul 23.00 WIB mengamankan tersangk WZ dan Saksi A di TKP di Gudang Kasihan, Bantul, DIY, emudian dilanjutkan penggeledahan tempat yang diduga sebgi Mega Cland Lab untuk produksi obat-obat keras.

Adonan bahan baku obat keras. Foto: Foto: tangkapan layar kanal YouTube Polda DIY

Dari penggeledahan itu ditemukan mesin-mesin produksi obat, berbagai jenis bahan kimia/ prekursor obat,obat-obt keras jenis Hexymer, Trihex, DMP, double L, IRGAPHAN 200 mg yang sudah dipacking dan siap kirim dan aonan/campuran berbagai prekursor siap diolah menjadi obat.

Menurut Krisno H Siregar, tersangka WZ sebagi penanggungjawab gudang dan saksi AR (pekerja) menerangkan bahwa atasannya adalah LSK alias DA. Kemudian pada hari Rabu, 22 September 2021 sekitar pukul 00.15 WIB petugas menangkap tersangk DA di Perum Kecmtn Kasian, Kabupaten Bantul, DIY.

Berdasarkan hasil interogasi DA bahwa masih ada 1 pabrik lainnya terletak di Gudang Kelurahan Bayuraden, Kecamatan Gamping, Sleman sehingga pada hari Rabu tanggal 22 September 2021 sekitar pukul 02.15 WIB tim gabungan melakukan penggeledahan dan menemukan pabrik pembuatan dan penyimpanan obat keras.

Para tersangka (baju oranye). Foto: tangkapan layar kanal YouTube Polda DIY

Menurut Krisno H Siregar, DA berperan sebagai penerima pesanan dari EY (DPO/pengendali) dan mengirim obat ke beberapa kota di Propinsi DKI-Jatim-Jabar-Kalsel. Tersangka DA digaji oleh kakak kandungnya, JSR alias J, sebagaipemilik pabrik yang pada hari Rabu 22 September 2021 sekitar jam 03.30 WIB berhasil ditangkap di rumahnya Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman.

Berdasarkan keterangan para tersangka diketahui bahwa pabrik tersebut sudah beroperasi sejak tahun 2018 dan bisa memproduksi 2 jut obat-obat ilegal per hari. “Saat ini penyidik masaih terus melakukan pengembangan kasus ini guna membongkar jaringannya dari hulu ke hilir dan kepada pengendali akan dikenakan TPPU,”kata Krisno H Siregar.

Para tersangka yang diamankan adalah JSR Alias J (56), laki-laki, wiraswasta, beralamat di Gamping, Sleman, Yogyakarta; LSK Alias DA (49), laki-laki, wiraswasta, beralmt di Kasihan, Bantul, Yogyakarta dan WZ (53), laki-laki, wiraswasta, beralamat di Karanganyar, Jateng.

Sementara barang bukti yang disit berupa 1 unit truk colt diesel AB 8608 IS, 30.345.000 butir obat keras yang sudah dikemas menjadi 1.200 colli paket dus,7 buah mesin cetak pil Hexymer, DMP dan double L, 5 buah mesin oven obat, 2 uah mesin pewarna obat dan 1 buah mesin cording/printing untuk pencetak.

Kemudian bahan prekusor antara lain berupa : Polivinill Pirolidon (PVP) 25 kg, Microcrystalline Cellulose (MCC) 150 kg, Sodium Starch Glycolate (SSG) 450 kg, Polyoxyethylene Glycol 6000 (PEG) 15 kg, Dextromethorphan  200 kg, Trihexyphenidyl 275 kg, Talc 45 kg, Lactose 6.250 kg, 100 kg Adonan Prekusor pembuatan obat keras, 500 kardus warna coklat dan 500 botol kosong tempat penyimpanan obat keras.

Modus yang dilkukan adalah memproduksi Obat-Obat keras yg sudah dicabut ijin edarnya oleh BPOM RI kemudian mengedarkan ke berbagai daerah di Indonesia dengn menggunakan jasa pengiriman barang.

Para tersangka melanggar pasal 60 UU RI Nomor 11 thun 2020 tentang Cipta Kerja perubahan atas pasal 197 UU RI Nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan yakni sSetiap orang yang dengan sengaja memproduksi atau mengedarkan sediaan farmasi dan/atau alat kesehatan yang tidak memiliki izin edar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 tahun dan denda paling banyak Rp. 1.500.000.000,- (satu miliar lima ratus juta rupiah).

Kemudian, sub Pasal 196 UU RI Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan yaitu setiap orang yang dengan sengaja memproduksi atau mengedarkan sediaan farmasi dan/atau alat kesehatan yang tidak memiliki izin edar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 tahun dan denda paling banyak Rp. 1.500.000.000,- (satu miliar lima ratus juta rupiah).

Lebih subsider Pasal Pasal 198 UU RI Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan yaitu setiap orang yang tidak memiliki keahlian dan kewenangan untuk melakukan praktik kefarmasian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 108 dipidana dengan pidana denda paling banyak Rp 100 juta.

Kemudian, Pasal 60 UU RI Nomor 5 tahun 1997 tentang Psikotropika dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara dan pidana denda paling banyak Rp 200 juta.

Menurut Krisno Siregar, dampak penggunaan obat tersebut terhadap kesehatan adalah depresi,sulit berkonsentrasi,mudah marah, gangguan koordinasi seperti kesulitan berjalan atau berbicara, kejang-kejang dan cemas/halusinasi. (lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here