Home News Podcast Kutunggu di Pojok Ngasem: ‘Peran Dunia Farmasi Di Masa Pandemi’

Podcast Kutunggu di Pojok Ngasem: ‘Peran Dunia Farmasi Di Masa Pandemi’

377
0
Suasana acara Podcast Kutunggu di Pojok Ngasem Universitas Widya Mataram (UWM), Jum’at (21/5/2021). Podcast episode #016 tersebut mengupas tema “Dunia Farmasi di Masa Pandemi Covid-19”. (Foto: Kiriman Humas UWM)

BERNASNEWS.COM — Dunia farmasi-farmakologi memiliki peranan penting saat pandemi melanda. Ini menjadi tantangan terbesar bagi dunia farmasi-farmakologi karena banyak yang berlomba-lomba mencari senyawa aktif untuk antivirus Covid-19. Oleh karena itu, regulasi dari pemerintah dalam mendukung farmasi untuk dapat berkembang dalam mengatasi pandemi sangat dibutuhkan.

Hal itu disampaikan Dr. Saiful Bachri, MSi. Apt, narasumber dalam perbincangan di Studio Podcast Kutunggu di Pojok Ngasem Universitas Widya Mataram (UWM), Jum’at (21/5/2021). Podcast episode #016 tersebut mengupas tema “Dunia Farmasi di Masa Pandemi Covid-19” yang di pandu host, Puji Qomariyah SSos, MSi (PQ).

“Dengan menghadapi tantangan ini, sebagai farmakolog saya juga ikut berkontribusi dalam membuat beberapa formula dalam bentuk kapsul atau minuman teh yang diproduksi untuk pasien. Hanya saja produk tersebut masih terbatas untuk kalangan sendiri,” papar Saiful.

Dr. Saiful Bachri, MSi. Apt, narasumber dalam perbincangan di Studio Podcast Kutunggu di Pojok Ngasem Universitas Widya Mataram (UWM), Jum’at (21/5/2021), foto bersama host, Puji Qomariyah SSos, MSi. (Foto: Kiriman Humas UWM)

Dosen Fakultas Farmasi Universitas Akhmad Dahlan (UAD) Yogyakarta itu menuturkan, pandemi seharusnya menjadi momentum bagi dunia farmakologi di Indonesia untuk banyak berkontribusi. Karena Indonesia adalah negara yang kaya akan tanaman dan Sumber Daya Alam (SDA), namun justru banyak dimanfaatkan oleh pihak barat dengan memproduksi obat-obatan dan dijual kembali ke Indonesia.

Dalam kaitannya dengan kapital industri, lanjut Saiful, kendala terbesar dunia farmasi di Indonesia yaitu pemerintah cenderung memproteksi industri farmasi baik modern dan sintetik. Industri farmasi di luar negeri memiliki capital yang besar. “Kita masih dihadapkan pada cost-efficiency yang sangat rendah. Pasalnya ini akan membuat dunia farmasi Indonesia akan kalah bersaing dengan produk luar,” ujarnya.

Oleh karena itu, Saiful menambahkan, diperlukan terobosan aturan untuk melindungi industri farmasi baik tradisional dan sintetik agar industri ini berkembang serta menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Faktanya pemanfaatan sumber daya hayati ini belum maksimal di Indonesia. Negara Indonesia memiliki tanaman yang berkhasiat untuk obat tradisional sekitar 5000-an tapi yang telah digunakan baru 300-an.

Indonesia memiliki banyak ahli yang bisa memanfaatkannya, tetapi memang membutuhkan modal yang besar agar obat tradisional itu optimal. Jika pemerintah dapat memaksimalnya dari hulu ke hilir maka ini akan menjadi kesempatan yang baik bagi Indonesia. Ketersediaan bahan alam yang banyak sekali juga bisa berfungsi sebagai modulator untuk daya tahan tubuh serta berkhasiat sebagai antivirus, seperti kapsul Sambiloto dan Bawang putih yang dapat menjadi antivirus di era pandemi ini.

“Oleh karena itu, penting bagi kita potensi bahan alam yang banyak kita manfaatkan sehingga kita dapat membangun hard-immunity bagi kita,” tegasnya dalam closing-statement.

Seraya tetap menunggu ikhtiar dari lembaga penelitian vaksin, imbuh Puji, tenaga medis-farmasi yang terus bergerak untuk menghasilkan vaksin, kesadaran dan pemahaman bersama bahwa pandemi Covid-19 adalah masalah bersama menjadi titik penting agar kita tidak boleh terserah dan menyerah.

“Dibalik ikhtiar itu selalu ada harapan-harapan (hopes), setelahnya jangan lupa untuk berdoa (pray)agar pintu-pintu langit dibukakan,” tambah Puji Qomariyah yang sekaligus sebagai Wakil Rektor III UWM menutup perbincangan sore itu. (nun/ ted)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here