Home News Peta Jalan Pendidikan 2020-2035 Menghilangkan Jati Diri Bangsa

Peta Jalan Pendidikan 2020-2035 Menghilangkan Jati Diri Bangsa

350
0
Ketua Umm PP PKBTS Prof Cahyono Agus (kanan) menyerahkan cindera mata berupa buku-buku dan publikasi ajaran luhur Ki Hadjar Dewantara kepada Wakil Ketua Komisi X DPR RI Dr Ir. Hetifah Sjaifudian MPP setelah DPDU Peta Jalan Pendidikan di Gedung DPR RI Senayan Jakarta, Kamis (19/11/2020). Foto : Istimewa

BERNASNEWS.COM – Peta jalan pendidikan yang disusun Kemendikbud RI 2020-2035 yang modern, sistematis, terstruktur berbasis kondisi saat ini dan bervisi futuristik patut diapresiasi sepenuhnya. Namun, peta jalan tersebut justru menghilangkan jati diri bangsa.

“Masih terasa kekosongan jiwa, tidak adanya roh dan akar unggulan budaya, religi, nusantara, historis dan jiwa perjuangan nasionalisme,” kata Ki Prof Cahyono Agus, Ketua Umum PP PKBTS (Perkumpulan Keluarga Besar Tamansiswa) pada Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Panja Peta Jalan Pendidikan Komisi X DPR RI Ruang Rapat Komisi X DPR RI Gedung Nusantara I Jakarta, 19 November 2020.

Prof Cahyono Agus bersama Dekan Ilmu Pendidikan dan Keguruan Universitas Muhammadiyah Malang; Indra Charismiadji (Pengamat Pendidikan); Ubaid Matraji (Kornas JPPI) diundang untuk menyampaikan pendapat/pandagan dalam RPDU yang membahas tentang Kajian Konsep Peta Jalan Pendidikan 2020-2035 Kemendikbud RI dan belanja masalah aspek kebijakan pendidikan dasar, menengah dan kejuruan (Merdeka Belajar).

Ketua Umm PP PKBTS Prof Cahyono Agus. Foto : Istimewa

Prof Cahyono Agus yang juga Guru Besar UGM, Anggota MLPTS (Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa) dan Anggota Dewan Pendidikan DIY tersebut, mengatakan, konsep peta jalan masa depan dan konsep Merdeka Belajar yang diusulkan masih kental mengacu dan mengunggulkan pada konsep modern luar negeri, namun tidak memperhatikan histori peta jalan pendidikan yang pernah dilampaui sejak belum jaman merdeka.

Dengan demikian justru malah kehilangan jati diri bangsa, tidak mengacu apalagi mengakar kuat pada budaya unggulan dan norma yang berkembang pada masyarakat sejak lama. Track record seabad kiprah Tamansiswa oleh Ki Hadjar Dewantara tahun 1922, Muhammadiyah oleh KH Ahmad Dahlan tahun 1912, Nahdatul Ulama oleh KH Hasyim Ashari tahun 1926 tidak menjadi pertimbangan, apalagi menjadi acuan penting, bahkan cenderung diabaikan.

Ki Hadjar telah mengembangkan pendidikan nasional berbasis budaya lokal sendiri dengan proses akulturasi seni permainan (Fröbel), panca indera & kemerdekaan (Montessori), wirama (Stiener), seni musik & tari (Dalcroze) dan seni & alam lingkungan (Tagore) sejak seabad lalu.

Pendidikan merdeka bertanggungjawab telah dikembangkan KI Hadjar puluhan tahun sebelum Indonesia merdeka, dengan tetap mendasarkan pada jati diri bangsa, berakar kuat pada budaya luhur bangsa, dengan mengakulturasikan sistem pendidikan unggulan dunia.

Kalau sekarang pemerintah masih belanja masalah pendidikan masa depan dari berbagai manca negara dan memformulasi kebijkan pendidikan nasional mulai dari awal lagi, tanpa memperhatikan historinya, maka berarti terjadi kemunduran seabad juga.

Ki Hadjar Dewantara dengan tegas mengatakan bahwa sifat, bentuk, isi dan laku hidup & kehidupan sendiri, jangan berupa tiruan dari asing belaka. Konsep-konsep Pendidikan karakter khas unggulan nusantara harus tetap dipertahankan, diperkaya, dan disempurnakan agar menjadi acuan renaisance Pendidikan generasi Indonesia emas. Bukan memulai kompilasi lesson learnt manca negara dari awal lagi.

Tamansiswa bersiap-sedia berkontribusi nyata untuk memperkaya, mengisi, dan menyempurnakan peta jalan pendidikan 2020-2035 yang modern futuristic ini. Agar tetap mempunyai roh dan jati diri bangsa Indonesia, dengan berakar kuat pada budaya luhur nusantara sendiri. Ki Cahyono mengusulkan renaisans ajaran luhur Ki Hadjar Dewantara agar selaras mengisi misi histori dan futuristik peta jalan pendidikan 2020-2035 Kemendikbud RI. (lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here