Saturday, May 21, 2022
spot_imgspot_img
spot_img
HomeNewsPerubahan Iklim Makin Mengkhawatirkan, Ini Pesan Presiden Jokowi pada HMD 2022

Perubahan Iklim Makin Mengkhawatirkan, Ini Pesan Presiden Jokowi pada HMD 2022

bernasnews.com – Fenomena perubahan iklim yang tengah berlangsung saat ini di seluruh penjuru dunia semakin mengkhawatirkan. Kondisi ini sangat tidak menguntungkan Indonesia sebagai negara agraris dan kepulauan. Menurut Presiden Joko Widodo (Jokowi), frekuensi, intensitas dan durasi bencana geohidrometeorologi akan makin meningkat.

Selain itu, menurut Presiden Jokowi, daya adaptabilitas tanaman dan produktivitas tanaman semakin menurun. Hal ini mengancam ketahanan pangan di negara kita.

Dalam siaran pers Biro Hukum dan Organisasi Bagian Hubungan Masyarakat BMKG yang diterima bernasnews.com pada Rabu 30 Maret 2022, Presiden Jokowi saat memberikan pengarahan pada Puncak Peringatan Hari Meteorologi Dunia (HMD) ke 72: Expose Nasional Monitoring & Adaptasi Perubahan Iklim 2022, Rabu (30/3/2022), mengatakan, Indonesia adalah satu dari banyak negara yang terdampak perubahan iklim.

Sejumlah dampak yang dihadapi negara lain, di antaranya terjadinya peningkatan suhu udara, suhu muka air laut yang semakin menghangat dan terjadi laju kenaikan muka air laut yang membahayakan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.Karena itu, Presiden Jokowi menyampaikan sejumlah pesan kepada masyarakat dan berbagai pemangku kepentingan. Pertama, perhatikan dengan serius informasi cuaca dan perubahan iklim yang diberikan BMKG dan instansi terkait lainnya. Kemudian formulasikan kebijakan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim dengan cepat serta siapkan penanganan yang lebih baik untuk mengurangi dampak negatif perubahan iklim.

Kedua, mengembangkan sistem peringatan dini yang handal dengan menyediakan data dan informasi meteorologi, klimatologi dan geofisika secara cepat dan akurat yang dibutuhkan. Dan, ketiga, Jokowi menekankan untuk melakukan sistem edukasi kebencanaan yang berkelanjutan. Jokowi menginginkan jajarannya melakukan edukasi, literasi dan advokasi berkelanjutan.

“Manfaatkan AI, big data, teknologi high performance computing dan lakukan dengan inovasi, teknologi rekayasa sosial dan cara kreatif untuk membangun kesadaran, ketangguhan, partisipasi masyarakat. Kapasitas dan ketangguhan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim harus terus ditingkatkan agar masyarakat mampu merespons dengan cepat potensi risiko bencana,” kata Presien Jokowi.

Presiden Jokowi pun meminta perkuat kolaborasi lintas Kementerin/Lembg (K/L), swasta dan berbagai elemen bangsa lainnya dalam adaptasi dan mitigasi dampak perubahan iklim.

Pada kesempatan yang sama Presiden ke-5 Indonesia, Megawati Soekarno Putri sebagai Pembicara Kunci, mengimbau kepada kepala daerah agar meningkatkan kesadaran terhadap perubahan iklim global dan merancang kebijakan pembangunan yang benar-benar didasarkan pada pemahaman terhadap berbagai kemungkinan terjadinya bencana alam.

Megawati berharap semua pihak sadar untuk melakukan pencegahan dini dampak bencana alam. “Aksi mitigasi harus dilakukan secara detail guna menekan risiko kerugian akibat bencana alam. Semua harus diperhitungkan, termasuk tata ruang kawasan serta kecepatan dalam bertindak,” kata Megawati.

Sementara Sekretaris Jenderal World Meteorological Organization (WMO) Prof Petteri Taalas mengungkapkan bahwa dampak perubahan iklim sudah sangat terlihat melalui cuaca yang lebih ekstrem di seluruh belahan dunia. Pada peringatan meterorologi dunia tahun ini, WMO mencanangkan tema Early Warning and Early Action yang memiliki arti peringatan dini dengan lebih dini bertindak dalam mitigasi terkait bencana akibat cuaca, iklim dan kondisi air yang kini cenderung ekstrem.

“Kami melihat gelombang panas yang lebih intens dan kekeringan serta kebakaran hutan. Kami memiliki lebih banyak uap air di atmosfer, yang menyebabkan curah hujan ekstrem dan banjir mematikan. lautan memicu badai tropis yang lebih kuat dan naiknya permukaan laut meningkatkan dampaknya,” kata Prof Petteri Taalas.

Laporan WMO tentang statistik bencana selama 50 tahun terakhir menunjukkan bahwa lebih dari 11.000 bencana terkait dengan cuaca, iklim, dan bahaya terkait air antara tahun 1970 dan 2019, hampir sama dengan satu bencana per hari. Ada 2 juta kematian – atau 115 per hari. Jumlah bencana telah meningkat lima kali lipat dalam 50 tahun terakhir, dan biaya ekonomi melonjak. Hal itu diperkirakan akan terus berlanjut.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengatakan perubahan iklimlah yang menjadi faktor penguat, mengapa cuaca ekstrem makin sering terjadi di Indonesia. Mulai dari hujan lebat disertai kilat dan petir, siklon tropis, gelombang tinggi, hingga hujan es atau kekeringan panjang.

Situasi ekstrem ini, kata dia, ketika bertemu dengan kerentanan lingkungan, tidak jarang mengakibatkan bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, angin puting beliung, dan tanah longsor serta kebakaran lahan. Perubahan iklim pulalah yang memporak porandakan keteraturan iklim dan cuaca di Indonesia, dan berdampak serius pada keberlanjutan sektor pertanian dan perikanan, yang dapat berujung pada ancaman terhadap ketahanan pangan Indonesia.

Karena itu, menurut Dwikorita, sejak tahun 2011 BMKG telah melakukan secara rutin dan berkelanjutan Sekolah Lapang Iklim untuk memberikan pemahaman dan kemampuan bagi petani dan nelayan dalam membaca cuaca dan iklim, serta beradaptasi secara tepat untuk meningkatkan produksi panen dan tangkapan ikannya.

“Lebih dari 22.600 petani dan nelayan dari berbagai penjuru tanah air telah dilatih dan diberdayakan. Namun tentunya itu belum cukup. Masih perlu lebih digencarkan secara lebih masif lagi program Sekolah Lapang ini,” kata Dwikora dalam siaran pers yang diterima bernasnews.com pada Rabu 30 Maret 2022.

Menurut Dwikorita, untuk menekan laju perubahan iklim, perlu aksi kolaboratif dan kolektif dalam Perencanaan yang Tepat di setiap Program Pembangunan, yang disertai dengan Penyiapan Tata Ruang yang Berwawasan Lingkungan serta Berketahanan terhadap Perubahan Iklim dan Bencana. (lip)

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments