Tuesday, May 17, 2022
spot_imgspot_img
spot_img
HomeOpiniPerlunya Kehati-hatian dalam Berinvestasi

Perlunya Kehati-hatian dalam Berinvestasi

bernasnews.com – Konsep  High  Risk  High  Return  seperti  yang  telah  dijelaskan seringkali  disalah  mengertikan, sehingga seolah kalau ada tawaran investasi dengan hasil kembalian  yang  begitu  tinggi  (sampai  tidak  rasional)  menjadi  dianggap  wajar saja sehingga  sampai banyak yang kemudian justru investasi tidak kembali, karena hal itulah yang  dimaksud ekspektasi kembalian yang tinggi maka risikopun menjadi tinggi, padahal tidak demikian konsepnya.

Walau ada konsep High Risk High Return bila kita ingin  berinvestasi  tetap  harus  berhati-hati  bila  ada  tawaran investasi  dengan  tingkat  kembalian  yang  sangat  tinggi. Kita sering  membaca,  melihat,  dan  mendengar  banyaknya kasus penipuan dengan kedok pengelolaan investasi. Adapun penawaran atau bentuk pengelolaan investasi tersebut meliputi yurisdiksi dari beberapa instansi yang berbeda.

Dalam berinvestasi, aspek  legalitas  perlu  kita  perhatikan,  karena  dengan  legalitas yang jelas dari fihak yang berwenang maka masyarakat akan  terlindungi.  Salah satu bentuk perlindungan terhadap kegiatan penghimpunan dana masyarakat  dan  pengelolaan investasi  adalah  melalui  mekanisme  pemberian  izin  usaha  oleh  otoritas terkait.

Berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang ada, saat ini ada  beberapa jenis usaha yang boleh melakukan penghimpunan dana masyarakat dan  pengelolaan investasi, seperti Bank, Pasar Modal,  Manajer Investasi (perusahaan reksadana), dan Pialang Perdagangan Berjangka (Pialang Berjangka). Adapun kegiatan  operasional penghimpunan dana masyarakat  dan  pengelolaan  investasi  secara ilegal umumnya tidak dilengkapi dengan dokumen perizinan yang syah misal dari Bank Indonesia, OJK, atau Bappebti.  

Ada berbagai macam produk investasi ilegal yang biasanya ditawarkan kepada  masyarakat calon investor. Adapun ciri-ciri dari investasi bisa terindikasi ilegal seperti, Produk  investasi yang  menawarkan  tingkat keuntungan  pasti  dan  tetap bahkan  cenderung sangat tinggi serta tidak terpengaruh kondisi pasar atau lainnya. Menyerupai produk perbankan (tabungan atau deposito), dimana pada beberapa kasus  berupa  surat  Delivery  Order (D/O)  atau  Surat  Berharga  yang  diterbitkan suatu perusahaan. Penyertaan Modal Investasi,  yakni:  pada  produk  ini  dana  yang  terkumpul  dari masyarakat dijanjikan akan ditempatkan pada lebih dari satu instrumen keuangan  atau pada sektor riil. Program Investasi On Line, biasanya produk ini menjanjikan pengembalian dana investasi secara rutin.  

Adapun  karakteristik  produk  investasi  ilegal  yang  umum  ditawarkan  adalah  antara lain, Imbal hasil (return) keuntungan yang ditawarkan sangat tinggi yang terkadang tidak masuk  akal  dan  atau  dalam  jumlah  yang  pasti  padahal  kondisi  pasar  sering berubah-ubah, sehingga memungkinkan pendapatan juga bisa naik turun.

Kondisi  pasar ini seringkali tidak dijelaskan secara detail padahal ini bagian dari risiko yang akan dihadapi para investor. Mereka cenderung hanya bicara return atau tingkat  kembalian yang tinggi dan jarang bicara risiko.  

Produk investasi ditawarkan dengan janji akan dijamin dengan instrumen tertentu  seperti Giro atau dijamin oleh pihak tertentu seperti pemerintah, bank dan lain-lain. Sering menggunakan  nama  perusahaan-perusahaan  besar  secara  tidak  syah  untuk meyakinkan calon investor. Dana masyarakat tidak dicatat dalam segregated account (rekening yang terpisah).  

Ada berbagai cara yang digunakan para tenaga jual (sales) produk investasi  dalam menarik calon investor. Secara umum cara-cara tersebut dapat di-inventarisir  sebagai berikut, Penjualan atau penawaran produk investasi dilakukan melalui tenaga marketing secara langsung   atau   melalui   bisnis   dengan   menggunakan   sistem   yang menyerupai Multi Level Marketing (MLM).  

Pada beberapa kasus, penawaran produk investasi dilakukan dengan menggunakan kegiatan keagamaan untuk menarik nasabah. Penawaran  produk investasi pada umumnya juga banyak  yang  menggunakan media internet atau online. Perusahaan pengerah dana masyarakat  secara  ilegal bertindak seolah-olah sebagai  agen  dari perusahaan investasi yang berada di dalam maupun di luar negeri.

Dana  masyarakat  dijanjikan akan dikelola dan diinvestasikan melalui beberapa Pialang Berjangka dan atau Perusahaan Efek yang sering disebut sebagai aliansi strategisnya. Penawaran produk investasi sering diadakan dalam acara seminar atau investor gathering, yang diikuti oleh para public figure dan dilakukan di tempat yang mewah  guna menunjukkan bonafiditas usahanya.  

Investasi  bodong  pasti  bohong,  investasi  ilegal  berujung  fatal  untuk itu ada beberapa tips dalam menghindari penipuan investasi antara lain, Pastikan bahwa orang atau perusahaan yang melakukan penawaran investasi atau bentuk lain telah memiliki izin sesuai  dengan peruntukannya dari salah satu lembaga yang berwenang seperti Bank Indonesia, OJK, atau Bappebti.  

Jangan tergiur dengan janji keuntungan yang tidak wajar, sementara risiko tidak pernah disampaikan seolah pasti untung besar. Lakukan  analisis yang benar sebelum ambil keputusan berinvestasi. Banyak membaca  dan  jangan  segan  bertanya  pada  orang yang  sudah berpengalaman  berinvestasi. Perlu diingat bahwa Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) bukanlah izin untuk  melakukan penghimpunan dana masyarakat dan pengelolaan investasi. Karena ijin  untuk  dapat  melakukan  penghimpunan  dana  masyarakat  harus  dan  pengelolaan  investasi harus dari lembaga berwenang seperti OJK atau Bappebti.  

Pada  intinya tulisan  ini saya  olah  dan  sarikan  kembali  dari  tulisan  yang  ada  dalam salah satu bab buku saya tentang portofolio investasi yang terbit tahun 2009,  namun tentu masih banyak yang belum berkesempatan membaca. Selain itu juga  adanya keprihatinan bahwa  penipuan-penipuan  investasi tidak  semakin berkurang  tapi justru semakin meningkat dengan modus operandi yang terus berubah apalagi  dengan berkembangnya information teknologi dan tumbuhnya media social. 

Kasus  terbaru adalah robot trading yang nampak seolah tidak pernah rugi karena robot akan  berjalan otomatis bila naik otomatis menjual dan bila turun otomatis membeli. Hal ini yang  menjadikan  banyak  orang  tertipu  karena  berekspektasi terlalu  tinggi  tanpa berpikir  jernih  bahwa  kalau  memang  demikian  adanya  maka semua orang akan menjadi kaya raya cukup dengan mengoperasikan robot. Padahal semua sistem tetap ada mekanismenya dan juga ada risikonya, maka kita juga tetap harus berhati-hati.

Dengan demikian tidak salah kalau hal ini saya tulis kembali sebagai pengingat agar kita semakin berhati-hati dalam berinvestasi, jangan sampai harapannya untuk besar tapi malah buntung. (Suhartono, SE, MSi, Alumni dan Dosen STIE Widya Wiwaha Yogyakarta)

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments