Home News Perlu Contoh Nyata dalam Merawat Persatuan dan Menjaga Keberagaman

Perlu Contoh Nyata dalam Merawat Persatuan dan Menjaga Keberagaman

526
0
Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Dr H Abdul Mu’ti M.Ed (kiri) bersama KH Mustofa Bisri (tengah) saat tampil sebagai pembicara dalam Dialog Kebangsan dengan tema Merawat Persatuan, Menghargai Keberagaman di Auditorium Abdul Kahar Mudzakkir Kampus Terpadu UII, Selasa (14/1/2020). Foto : Philipus Jehamun/Bernasnews.com

BERNASNEWS.COM – Merawat persatuan dan mejaga keberagaman perlu contoh nyata. Selain sering bertemu, masyarakat yang berbeda latar belakang budaya, suku, agama, ras, bahasa dan sebagainya perlu sering bertemu agar saling mengenal satu sama lain.

“Saya sepakat dengan pendapat Gus Mus (KH Mustofa Bisri, red) tentang pentingnya contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari dalam merawat persatuan bangsa. Karena itu, saya mengajak masyarakat Indonesia untuk menengok ke timur Indonesia, seperti di NTT, yang sangat toleran dan menghargai keberagaman,” kata Dr H Abdul Mu’ti M.Ed, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, dalam Dialog Kebangsan dengan tema Merawat Persatuan, Menghargai Keberagaman di Auditorium Abdul Kahar Mudzakkir Kampus Terpadu UII, Selasa (14/1/2020).

Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Dr H Abdul Mu’ti M.Ed (kiri) bersama KH Mustofa Bisri dalam Dialog Kebangsan dengan tema Merawat Persatuan, Menghargai Keberagaman di Auditorium Abdul Kahar Mudzakkir Kampus Terpadu UII, Selasa (14/1/2020). Foto : Philipus Jehamun/Bernasnews.com

Selain Abdul Mu’ti, tampil sebagai narasumber adalah Pengasuh Pondok Pesantren Radlatut Thalibin Rembang KH Mustofa Bisri alias Gus Mus dengan pidato kunci Sri Sultan Hamengu Buono X dan Menkopolhukam Prof Dr Moh Mahfud MD.

Dalam acara yang diadakan UII bekerja sama dengan Gerakan Suluh Kebangsaan dan Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Islam Swasta (BKS PTIS) itu, Abdul Mu’ti memberi contoh apa yang terjadi di Universitas Muhammadiyah Kupang (UMK), NTT.

Menurut Mu’ti, sekitar 75 persen mahasiswa UMK beragama Kristen. Selain kuliah, mereka juga berinteraksi dengan Muhammadiyah sebagai organisasi. Dalamsuatu kesempatan, mereka menyanyikan Sang Surya, mars Muhammadiyah, sementara pada kesempatan lain mereka menjadi anggota paduan suara di gereja. “Bahkan, dalam pendirian kampus UMK, banyak tokoh Kristen setempat terlibat,” puji Mu’ti yang disambut tepuk tangan ratusan peserta yang hadir dalam dialog tesebut.

Mu’ti mengatakan bahwa contoh-contoh kecil seperti itu sebenarnya bisa dikembangkan di Indonesia, sebagai bagian dari upaya membangun ke-Indonesia-an. Secara teori, masyarakat bisa menjadi dekat karena ada proses pertemuan secara rutin. Dan tingkat keseringan dan kualitas pertemuan itu akan membangun kedekatan.

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Bowono X (tengah) bersama Mengkopolhukam Prof Dr Moh Mahfud MD dan KH Mustofa Bisri (ketiga dari kiri) foto bersama pada pembukaan Dialog Kebangsan dengan tema Merawat Persatuan, Menghargai Keberagaman di Auditorium Abdul Kahar Mudzakkir Kampus Terpadu UII, Selasa (14/1/2020). Foto : Philipus Jehamun/Bernasnews.com

“Cara membangun bangsa yang rukun secara sosiologi sebenarnya tidak terlalu rumit. Semakin seseorang atau sekelompok orangsering bertemu, maka semakin berinteraksi. Orang yang berinteraksi dengan intensitas tinggi akan terjadi proses dialog. Dan proses dialog itu menjadi pintu untuk bisa mau menerima dan mau mendengar orang lain yang berbeda,” kata Mu’ti.

Mu’ti mengatakan bahwa kampus perguruan tinggi bisa berperan dengan menciptakan komunitas yang inklusif. Misalnya melarang mahasiswa tinggal di area-area tertentu di mana mereka hanya bertetangga dengan mahasiswa dari daerah yang sama. Masa kuliah harus dimanfaatkan untuk memperkuat pluralitas dengan penerapan kebijakan. Begitu pula dalam skala lebih luas, misalnya kehidupan bermasyarakat.

“Tata ruang di masyarakat juga harus menjamin terjadinya proses inklusi sosial. Kalau masyarakat tinggal di komunitas yang semuanya NU atau semuanya Muhammadiyah atau semuanya Islam, semuanya Kristen, orang akan cenderung eksklusif terhadap orang lain yang berbeda,” kata Mu’ti.

Ia menambahkan bahwa orang akan menjadi inklusif kalau dia berinteraksi dengan orang yang berbeda dan mau menerima perbedaan sebagai bagian dari proses alamiah di mana dia hidup di masyarakat.

Sementara di tingkat negara, lembaga-lembaga seperti DPR dan MPR juga harus diskenariokan agar mampu merepresentasikan Indonesia secara utuh. Jika DPR dipilih melalui mekanisme pemilihan sepenuhnya maka MPR harus memberi ruang kepada kelompok minoritas untuk ada di dalamnya.

“Dengan proses pemilihan seperti yang terjadi selama ini maka sangat sulit kelompok minoritas ada di dalamnya,” kata Mu’ti. (lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here