Home Seni Budaya Perkembangan Bentuk Celengan Gerabah Kasongan Jadi Obyek Penelitian Mahasiswa UNY

Perkembangan Bentuk Celengan Gerabah Kasongan Jadi Obyek Penelitian Mahasiswa UNY

128
0
Bambang Utoyo pemilik galeri Senthong Kiwo, Kasongan sedang mewarnai celengan karyanya. Industri ini sebagai sampel penilitian mahasiswa UNY. (Foto: Kiriman Humas UNY)

BERNASNEWS.COM — Masyarakat berkembang seiring dengan perkembangan zaman, membawa perubahan dengan berbagai kemajuan teknologi. Namun juga tetap mempertahankan nilai-nilai budaya berupa kebiasaan masyarakat yang diwarisi dari generasi ke generasi.

Salah satu kebiasaan masyarakat yang sering dijumpai adalah terkait kebiasaan menyimpan barang berharga seperti uang atau uang logam  untuk dikumpulkan pada suatu periode waktu di suatu media tertentu seperti, dalam tabung yang berongga dengan berbagai macam bentuknya.

Di Indonesia media yang sering digunakan untuk melestarikan kebiasaan tersebut adalah dengan menggunakan celengan yang terbuat dari tanah liat, plastik, dan sebagainya. Berbentuk binatang diantaranya,babi hutan, gajah juga bentuk manusia ataupun bentuk lain. Di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), yang terkenal sebagai pembuat celengan dari tanah liat adalah Desa Kasongan, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul.

Arif Purwantara mahasiswa program studi Pendidikan Kriya Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Foto: Kiriman Humas UNY.

 Awal mula membuat celengan untuk menabung uang logam karena pada zaman dahulu masyarakat belum mengenal bank dan hanya menyimpan uang di celengan. Perubahan dari zaman ke zaman dari model celengan yang dibuat pengrajin gerabah Kasongan itu menarik perhatian mahasiswa program studi Pendidikan Kriya Fakultas Bahasa dan Seni UNY, Arif Purwantara untuk meneliti aspek bentuk, fungsi dan finishing dari salah satu sanggar di Kasongan.

Alumni SMAN 1 Bambanglipuro, Bantul tersebut mengambil sampel di Industri Keramik Senthong Kiwo Kasongan Bantul dengan pemilik Bambang Utoyo. Menurutnya, industri ini memproduksi celengan dengan perencanaan desain yang terstruktur sekaligus menyediakan desain yang datang disesuaikan dengan keinginan pemesan.

“Pemesan akan memberi gambar contoh dalam kertas kemudian Senthong Kiwo menciptakan produk 3 (tiga) dimensi dari gambar yang diberikan pemesan kedalam produk souvenir keramik. Sehingga satu desain digunakan untuk satu kali pembuatan,” ungkap Arif.

Dikatakan, Senthong Kiwo memiliki perbedaan atau ciri khas tersendiri yang membedakannya dari industri keramik lainnya terutama industri gerabah di Kasongan. Perbedaannya terletak pada bentuk dan juga finishing yang dihasilkan lebih inovatif dan kreatif dibandingkan dengan produk gerabah di Kasongan pada umumnya.

Celengan bentuk Dimas Diajeng lengkap dengan busana tradisional khas Yogyakarta. (Foto: Kiriman Humas UNY)

Perbedaan lainnya, lanjut Arif, adalah pemberian finishing dengan motif batik tradisional dengan pilihan warna yang menjadi daya tarik tersendiri. Pemilihan motif dan warna yang diracik sendiri oleh pemilik dengan bereksperimen. “Berbeda dengan industri lain terutamaindustri gerabah yang masih menggunakan warna tradisional biasa atau penggunaan warna asli tanah liat yang dihasilkan dari proses pembakaran,” ujarnya.

Sementara, Bambang Utoyo mengatakan, Senthong Kiwo dapat disebut sebagai industri yang menggunakan finishing pewarnaan yang berbeda dengan produk keramik pertama yang ada diwilayah industri gerabah Kasongan. “Dengan bentuk dan model yang mampu mengikuti perkembangan waktu dan dapat disesuaikan dengan permintaan pelanggan,” terang Bambang.

Selain itu, imbuh Bambang, pilihan bentuk atau model celengan yang dihasilkan unik dan beragam warna. Tidak ada yang membuat selain pihaknya, sehingga produk home industry ini masih eksis sampai tahun 2021 ini. Pemesan juga dapat memilih sesuai keinginan dan selera warnanya.

Celengan dengan bentuk tokoh kartun kekinian. (Foto: Kiriman Humas UNY)

Dalam penelitiannya tersebut, Arif Purwantara menyimpulkan, bahwa produk celengan berbentuk sepasang laki-laki dan perempuan ini difungsikan sebagai tempat menabung atau menyimpan uang secara tradisional. Juga dapat sebagai hiasan di meja kerja, hiasan di meja rumah dan sebagai kado pernikahan.

Perkembangan bentuk yang terdapat pada produk celengan ini adalah perkembangan mulai dari celengan Dimas Diajeng, celengan bentuk tokoh kartun, celengan Pak Raden dan celengan Asmuni. Dalam kurun beberapa tahun menciptakan dan membuat inovasi baru produk celengan yang masih eksis sampai saat ini.

Bentuknya yang unik, menarik dan klasik  serta bernuansa pakaian adat Yogyakarta dapat menjadi daya tarik tersendiri untuk proses berkembangnya produk celengan di Senthong Kiwo. Bentuk berpasangan ini diciptakan untuk memenuhi kebutuhan pasar melalui bentuk celengan, dengan finishing warna yang bervariasi. Motif batik yang klasik dan tradisional menjadi daya tarik tersendiri.

“Selain keindahan dari segi bentuk, beberapa pemesan mengaku memilih celengan ini karena untuk hiasan, sebagai kenang-kenangan sepulang berkunjung dari Yogyakarta,  atau sebagai oleh-oleh sehingga akan selalu terkenang pada momen kala berkunjung ke kota Yogyakarta,” kata Arif. (ted)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here