Home Opini Perjuangan Bocah Lereng Menoreh, Menaklukan Alam demi Sekolah

Perjuangan Bocah Lereng Menoreh, Menaklukan Alam demi Sekolah

598
0
Th. Ika Ayu Linggar Ningtyas, SPd, Guru SD Marsudirini St. Theresia Boro, Kabupaten Kulon Progo, DIY. (Foto: Dok. Pribadi)

BERNASNEWS.COM — Bocah adalah istilah dalam Bahasa Jawa, dalam Bahasa Indonesia berarti anak. Perjuangan anak – anak Indonesia untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan pantas nampaknya masih harus mereka perjuangkan. Begitu juga di Lereng Menoreh.

Lereng Menoreh adalah salah satu daerah yang berada di daerah Boro, Desa Banjarasri, Kapanewon Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, DIY. Di daerah ini sebenarnya mempunyai pemandangan yang cukup bagus, sehingga banyak wisatawan yang lewat kadang hanya untuk foto, mengabadikan pemandangan alam ataupun mereka menikmati keindahan alam yang ada di lereng Pegunungan Menoreh.

Di lereng Menoreh terdapat anak dari usia anak – anak sampai remaja, atau bisa dikatakan dari jenjang TK sampai SMP.  Anak – anak di lereng Menoreh ini tetap bersemangat dalam meraih cita – cita. Walaupun tinggal di daerah pegunungan jauh dari perkotaan tetapi pendidikan merupakan hal yang sangat penting untuk mereka.

Bahkan mereka rela jalan kaki kurang lebih setengah jam untuk sampai ke sekolah. Bangun pagi hari, bahkan kadang belum sarapan mereka harus segera berangkat, supaya tidak terlambat sampai sekolah. Tidak sedikit orang tua yang membawakan bekal makan untuk anaknya, agar dapat disantap saat sampai sekolah. Salah satu sekolah Katolik yang berada di Lereng Menoreh adalah SD Marsudirini St. Theresia Boro. Anak – anak yang bersekolah di sini tidak hanya yang tinggal di daerah sekitar SD saja.

Ada beberapa anak yang tinggalnya lumayan jauh dari sekolah. Ada yang jalan kaki untuk sampai ke sekolah dengan jarak yang tidak dekat karena orang tuanya tidak mempunyai sepeda motor. Anak – anak tetap semangat untuk pergi ke sekolah, karena itu merupakan  hal yang biasa demi menuntut ilmu.

Perjuangan anak – anak di Lereng Menoreh pun muncul ketika hujan deras di waktu pagi hari. Mereka kadang khawatir da nada rasa was – was ketika hujan deras mengguyur. Beberapa anak ada yang rumahnya berada di daerah yang dulunya sering terjadi longsor. Ada salah satu pengalaman dari seorang murid bernama Dinda yang rumahnya berada di daerah Gorolagu.

Jarak yang ditempuh dari rumah ke sekolah sekitar 10 km. Rumah Dinda berada di daerah atas dan rawan longsor.  Ketika hujan deras mengguyur, dia merasa was – was saat akan berangkat  ke sekolah, karena perjalanan yang dia tempuh dari rumah ke sekolah sering terjadi kelongsoran.

Pernah suatu hari, Dinda terlambat datang ke sekolah bahkan sampai satu jam. Dia menceritakan jika dalam perjalanan berangkat sekolah ada daerah yang kelongsoran, sehingga jalan yang dilewatinya tertutup longsor. Dinda yang diantar orang tuanya pun harus putar balik dan mengganti jalur ke sekolah dengan rute yang lebih jauh dari biasanya yang memakan waktu lebih lama untuk sampai ke sekolah.

Bocah di Lereng Menoreh rata – rata sekolah di daerah Boro untuk jenjang KB, TK, SD dan SMP. Setelah lulus SMP mereka tidak mau ketinggalan dengan teman – teman yang ada di perkotaan. Tidak jarang dari mereka yang setelah lulus dari jenjang SMP melanjutkan ke SMA dan SMK ke luar daerah.

Ada yang melanjutkan di daerah Sedayu, Kabupaten Bantul untuk bersekolah di SMA Pangudi Luhur Sedayu, bahkan ada yang melanjutkan sekolah di SMA swasta di kota Yogyakarta, seperti di Marsudirini, Stelladuce, Pangudi Luhur Yogyakarta juga sekolah di luar DIY, antara lain di SMK Marsudirini Solo, SMA dan SMK Pangudi Luhur Muntilan, SMK Tarakanita Magelang.

Ini membuktikan bahwa bocah lereng Menoreh tidak patah semangat dalam menimba dan menuntut ilmu. Mereka akan terus berjuang untuk meraih cita – cita dan masa depan, supaya bisa membawa kemajuan di daerahnya yaitu di Lereng Menoreh. (Th. Ika Ayu Linggar Ningtyas, SPd, Guru SD Marsudirini St. Theresia Boro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here