Home News Peristiwa 27 Juli Menjadi Spirit Perjuangan Kader PDIP

Peristiwa 27 Juli Menjadi Spirit Perjuangan Kader PDIP

406
0
Mantan Anggota MPR RI Drs Katin Subiyantoro (ketujuh dari kanan) bersama Ketua DPD PDIP DIY Nuryadi (kedelapan dari kanan) foto bersama kader PDIP lainnya usai sarasehan refleksi Peristiwa 27 Juli 1996 di Kantor DPD PDIP di Jalan Tentara Rakyat Mataram Badaran, Yogyakarta, Jumat (26/7/2019) malam. Foto : Philipus Jehamun/ Bernasnews.com

BERNASNEWS.COM – Peristiwa penyerbuan Kantor DPP Partai Demokrasi Indonesia (PDI) di Jakarta pada 27 Juli 1996 yang dikenal sebagai Peristiwa 27 Juli merupakan tonggak sejarah bagi perjuangan partai berlambang kepala banteng itu hingga kini. Peristiwa itu menjadi spirit perjuangan kader partai saat itu hingga kini untuk menjadi kader yang militan dan memperjuangkan kepentingan rakyat kecil (wong cilik) dalam melawan penindasan dan segala bentuk ketidakadilan.

“Dan spirit itu harus menjadi roh bagi kader partai dalam memperjuangkan kepentingan rakyat kecil. Kader PDIP harus militan dan berani melawan ketidakadilan. Karena itu, peristiwa 27 Juli 1996 tidak boleh dilupakan karena menjadi tonggak sejarah perjuangan partai sehingga diberi nama Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP),” kata Nuryadi, Ketua DPD PDIP DIY, dalam sarasehan memperingati Peristiwa 27 Juli 1996 di Kantor DPD PDIP DIY Jalan Tentara Rakyat Mataram Badran, Yogyakarta, Jumat (26/7/2019) malam.

Dalam sarasehan dengan tema Militansi dan Kemandirian Partai Wong Cilik yang menampilkan pembicara kader senior PDIP yang juga mantan Anggota MPR RI Drs Katin Subiyantoro dan Sosilog UGM Ari Sujito itu, Nuryadi berkali-kali menekankan bahwa peringatan Peristiwa 27 Juli 1996 bukan untuk mengelompokkan orang lama dan baru, bukan pula untuk memedakan kader atau bukan kader partai apalagi menunjukkan siapa yang berjasa dan tidak. Namun, peringatan atau refleksi Peristiwa 27 Juli 1996 semata-mata untuk mengingatkan kader partai atau siapa pun agar tidak sekali-kali melupakan sejarah. Apalagi, Peristiwa 2017 Juli 1996 merupakan tonggak sejarah bagi PDI yang kemudian diberi tambahan nama Perjuangan menjadi PDI Perjuangan.

Pesesrta sarasehan refleksi Peristiwa 27 Juli 1996 menyanyikan lagu Indonesia Raya, Jumat (26/7/2019). Foto : Philipus Jehamun/Bernasnews.com

Nuryadi yang menjadi pelaku sekaligus saksi sejarah Peristiwa 27 Juli 1997 bersama kader-kader lainnya merasa penting peristiwa itu untuk selalu dikenang karena menjadi spirit perjuangan PDIP. Spirit Peristiwa 27 Juli 1996 menjadi landasan perjuangan kader partai. Dan ia merasa aneh kalau peristiwa itu tidak diperingati.

“Bukan hanya perjuangan melawan penindasan atau ketidakadilan tapi yang tidak kalah penting adalah melawan siapa pun yang ingin mengganti NKRI dan ideologi Pancasila. PDIP berkomitmen untuk menjaga dan mempertahankan ideologi Pancasila,” tegas Nuryadi.

Menurut Nuryadi, peringatan Peristiwa 27 Juli 1996 untuk untuk mengelompokkan siapa kader lama dan yang baru, bukan pula mengelompokkan siapa kader partai dan siapa yang tidak. Sebagai bagian dari sejarah peristiwa itu, ia merasa “dipaksa” untuk memimpin PDIP DIY dengan maksud tertentu.

“DPP PDIP punya maksud tertentu terhadap saya. Spirit perjuangan teman-temanlah yang membuat saya ‘dipaksa’ untuk memimpin PDIP DIY. Dalam kondisi Indonesia yang sulit seperti sekarang, antara mempertahankan NKRI dan Pancasila dengan yang mencoba mengubah ideologi Pancasila. Sehingga spirit 27 Juli kita gunakan untuk semangat berjuang,” kata Nuryadi.

Sosialog UGM Ari Sujito saat menjadi pembicara pada peringatan Peristiwa 27 Juli 1996 di Kantor DPD PDIP, Jumat (26/7/2019) malam. Foto : Philipus Jehamun/Bernasnews.com

Kader senior PDI Perjuangan Drs Katin Subiyantoro mengatakan, PDI Perjuangan sebagai partai nasionalis dan religius berkomitmen untuk mempertahankan ideologi Pancasila. Karena hanya dengan ideologi Pancasila, negara yang majemuk ini bisa bersatu, hidup rukun dan damai.

Peringatan Peristiwa 27 Juli 1996, menurut Katin, sangat penting karena merupakan tonggak perjuangan PDIP dalam melawan segala bentuk ketidakadilan, termasuk berjuang melawan segala bentuk upaya mengubah ideologi Pancasila. Karena itu, ia mengajak seluruh kader partai untuk bersatu menjaga dan mempertahankan ideologi Pancasila sekaligus melawan siapa pun yang berusaha mengubah NKRI dan menggantikan ideologi Pancasila.

Ketua DPD PDIP DIY Nuryadi saat memberikan sambutan pada sarasehan refleksi Peristiwa 27 Juli 1996 di Kantor DPD PDIP DIY Badran, Jumat (26/7/2019) malam. Foto : Philipus Jehamun/ Bernasnews.com

Katin yang nyaris menjadi korban Peristiwa 27 Juli 1996 meminta para kader partai, termasuk yang duduk di lembaga legislatif dan eksekutif, agar tetap membawa spirit sebagai partai wong cilik. Spirit itu ditunjukkan dengan adanya kepedulian dan perhatian terhadap rakyat kecil atau wong cilik. Jangan setelah duduk di lembaga legislatif maupun eksekutif tidak lagi memperhatikan kepentingan rakyat kecil.

Ari Sujito menggarisbawahi semangat militansi kader PDIP berawal dari Peristiwa 27 Juli 1996. Karena dalam peristiwa itu, kader PDI saat itu (kini PDIP, red) berani melawan segala bentuk ketidakadilan dengan mengorbankan jiwa dan raga. Dan semangat itu pula harus tercemin dalam perilaku kader partai saat ini, termasuk mereka yang berada dalam kekuasaan baik legislatif maupun ekseksutif.

“Kader PDIP yang duduk legislatif maupun eksekutif harus menjadi kader yang visioner, berpikir jauh ke depan. Sebagai contoh, mulai saat ini perlu dipersiapkan apa yang dilakukan 5 tahun ke depan dan siapa yang layak menjadi pemimpin 5 tahun ke depan. Untuk mewujudkan itu, maka harus direncana dan dipersiapkan secara matang mulai sekarang,” kata Ari Sujito. (lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here