Home Pendidikan Perguruan Tinggi yang Adopsi Agile Perlu Persiapan yang Matang

Perguruan Tinggi yang Adopsi Agile Perlu Persiapan yang Matang

551
0
Wisudawan Program Studi Informatika, Program Magister FTI UII dengan predikat cumlaude Sujono S.Kom M.Kom (kanan atas) memaparkan hasil penelitiannya berjudul Tantangan Adopsi Agile di Perguruan Tinggi di Indonesia; Studi Kasus Badan Sistem Informasi Universitas Islam Indonesia kepada wartawan secara virtual/daring melalui meeting zoom, Selasa (27/10/2020). Foto : Istimewa

BERNASNEWS.COM – Perguruan tinggi di Indonesia yang mengadopsi Agile menghadapi 3 tantangan besar. Pertama, faktor individu yang meliputi over komitmen, rekayasa dalam tim dan pengalaman; Kedua, faktor organisasi yang meliputi rekognisi, kualitas, sumberdaya, dukungan manajemen, budaya organisasi dan struktur organisasi; Dan ketiga, faktor teknologi meliputi keuntungan relatif, kompleksitas dan kompatibilitas.

Karena itu, perguruan tinggi maupun organisasi yang mengadopsi Agile perlu mempersiapkannya secara matang dan memperhatikan empat faktor utama yakni individu, tim, organisasi faktor teknologi serta kesiapan mengantisipasi tantangan yang kemungkinan muncul dalam adopsi Agile.

Hal itu disampaikan Sujono S.Kom M.Kom, wisudawan Program Studi Informatika, Program Magister FTI UII dengan predikat cumlaude, dalam jumpa pers secara virtual/daring melalui meeting zoom, Selasa (27/10/2020). Hal itu terkait dengan hasil penelitinnya berjudul : Tantangan Adopsi Agile di Perguruan Tinggi di Indonesia; Studi Kasus Badan Sistem Informasi Universitas Islam Indonesia.

Wisudawan Program Studi Informatika, Program Magister FTI UII dengan predikat cumlaude Sujono S.Kom M.Kom. Foto : Istimewa

Sujono yang didampingi Izzati Muhimmah ST MSc PhD, Ketua Program Studi Informatika, Program Magister FTI UII dan Mukhammad Andri Setiawan T MSc PhD, Kepala Badan Sistem Informasi UII/ Dosen Program Studi Informatika, Program Magister FTI UII, menjelaskan bahwa Agile merupakan pendekatan yang relatif baru dalam pengembangan perangkat lunak.

Namun, banyak organisasi telah mengadopsi Agile di semua atau beberapa proyek mereka. Temuan penelitian di berbagai industri dan negara, menunjukkan bahwa metode Agile memiliki dampak positif pada dimensi keberhasilan proyek. Namun upaya untuk melakukan adopsi Agile tidak sepenuhnya berjalan lancar, karena banyak tantangan yang dihadapi dalam penerapannya.

Dikatakan, berdasarkan referensi penelitian ini, perkembangan tingkat kesuksesan dalam pengembangan perangkat lunak masih rendah. Agile yang merupakan pendekatan relatif baru dalam pengembangan perangkat lunak, semakin banyak diadopsi oleh organisasi terkemuka.

Mukhammad Andri Setiawan ST MSc PhD, Kepala Badan Sistem Informasi UII / Dosen Program Studi Informatika, Program Magister FTI UII. Foto : Istimewa

Proyek Agile memiliki hampir empat kali tingkat keberhasilannya dibandingkan dengan Waterfall. Agile menjadi semakin populer, sehingga banyak organisasi yang berusaha mengadopsi Agile, termasuk perguruan tinggi (UII).

Menurut, tantangan adopsi Agile di perguruan tinggi di Indonesia berdasarkan temuan penelitian ini adalah tantangan yang termasuk dalam kelompok L1 dan L2 yaitu (1) Faktor individu meliputi over komitmen, rekayasa dalam tim, dan pengalaman; (2) Faktor Organisasi meliputi rekognisi, kualitas, sumber daya, dukungan manajemen, budaya organisasi, dan struktur organisasi; (3) Faktor teknologi meliputi keuntungan relatif, kompleksita dan kompatibilitas.

Dan berdasarkan temuan dalam penelitian ini, perguruan tinggi ataupun organisasi yang akan melakukan adopsi Agile disarankan untuk memperhatikan hal-hal berikut. Pertama, dalam melakukan adopsi Agile, diperlukan anggota tim yang mempunyai pengalaman baik dalam pengembangan perangkat lunak maupun dalam menggunakan Agile/Scrum,untuk itu komitmen manajemen dalam peningkatan kompetensi dan menambah pengalaman anggota tim sebagaimana diterapkan oleh BSI UII perlu dilakukan.

Kedua, salah satu ciri dari Agile adalah klien menjadi bagian dari tim pengembangan perangkat lunak, untuk itu diperlukan koordinasi dan komunikasi yang terjalin dengan baik antara tim pengembang dengan klien. Tim pengembangan perlu menerapkan strategi dalam melakukan koordinasi dengan klien untuk dapat menangkap kebutuhan klien agar sesuai dengan keinginannya, seperti melakukan pertemuan baik formal maupun informal.

Izzati Muhimmah ST MSc PhD, Ketua Program Studi Informatika, Program Magister FTI UII. Foto : Istimewa

Ketiga, komunikasi menjadi salah satu tantangan yang dihadapi oleh beberapa organisasi di berbagai negara sebagaimana referensi penelitian ini. Perguruan tinggi yang akan melakukan adopsi Agile, perlu melakukan antisipasi terhadap tantangan ini sebagaimana langkah-langkah antisipasi yang dilakukan BSI UII pada komunikasi seperti Daily Scrum secara rutin, desain tempat kerja dengan ruang terbuka dan tempat duduk saling berhadapan, pengelolaan informasi dengan software yang berkualitas, menciptakan suasana yang terbuka di antara anggota tim sehingga terjalin komunikasi informal dan anggota tim memiliki kedudukan yang sejajar.

Menurut Sujono, penelitian ini dilakukan untuk mengindentifikasi tantangan yang dihadapi dalam adopsi Agile di Perguruan Tinggi di Indonesia dengan menggunakan teori Scrum Adoption Challenges Detection Model (SACDM). SACDM merupakan model yang diadaptasi dari teori Diffusion of Innovation dan kerangka konseptual teknologi berorientasi obyek.

Penelitian kuantitatif berbasis survei dan wawancara ini dilakukan di Badan Sistem Informasi (BSI), Universitas Islam Indonesia. Responden yang mengisi kuesioner sebanyak 41 orang yaitu Development (51,2 persen), Operational (22 persen), Product Owner (14,6 persen) dan Scrum Master dan Manajemen BSI (12,2 persen). Dan analisis data dilakukan dengan menggunakan uji statistik yaitu uji validitas dan analysis of variance. (lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here