Friday, May 20, 2022
spot_imgspot_img
spot_img
HomePerempuan Indonesia Harus Semangat Kejar Impian

Perempuan Indonesia Harus Semangat Kejar Impian

bernasnews.com – Tantangan akan datang silih berganti, namun kita harus percaya bahwa habis gelap terbitlah terang. Di mana ada kesusahan, pasti di kemudian hari ada kebahagiaan untuk membayar semua kesusahan itu. Perjuangan ini belum selesai, maka jadilah seperti Kartini untuk diri sendiri dan juga orang di sekitar kita. Mari para perempuan Indonesia, tetaplah semangat untuk mengejar mimpi-mimpimu.

“Untuk para perempuan di Indonesia, belajarlah untuk mencintai diri sendiri, karena mencintai diri sendiri itu penting sebelum kita mencintai orang lain. Teruntuk perempuan-perempuan Indonesia, terima kasih sudah menjadi tokoh inspirasi selayaknya Ibu R. A. Kartini. Tetaplah menjadi diri sendiri, walaupun terkadang dunia memaksa kita untuk selalu menjadi sesuatu yang bukan diri kita,” kata siswi SMA BOPKRI 2 Yogyakarta kelas X MIPA Cameylia Shintya Pawestri yang ditemui bernasnews.com berkenaan dengan Hari Kartini, di sekolahnya, Jalan Jenderal Sudirman Yogyakarta, Kamis (21/4/2022).

Secara terpisah, bernasnews.com juga menemui dua pemudi yang magang di PT Citra Komunika Nusantara Yogyakarta. Mereka adalah Fatikha Nur Azlia dan Aliya Miftahul.

Shintya yang menjabat Pemimpin Redaksi Majalah Idola Boda (MIB) itu berpesan untuk para perempuan Indonesia. Mereka agar menjaga kemartabatannya dari seorang laki-laki untuk jangan mau disakiti. Bersekolahlah setinggi mungkin untuk menggapai mimpi, tetap pertahankan hak sebagai perempuan, belajarlah untuk menambah ilmu dan wawasan, dan yang paling penting selalu semangat dan jangan menyerah untuk menjalani kehidupan ini.   

Harus be confident

Fatikha Nur Azlia mengatakan, saat ini sudah banyak perempuan yang berkarir, namun dunia kerja masih beranggapan bahwa dunia kerja bukan alamnya perempuan.

“Lalu bagaimana jika sosok Kartini masih hidup hari ini? Mungkin dunia kerja yang akan didobraknya. Mungkin juga Kartini akan membuat sebuah peraturan bahwa perempuan harus: be confident, take credit, speak up, berani bernegosiasi, say no to stereotype, dan don’t wonenemy,” kata dia.

Menurut Fatikha, banyak perempuan merasa dirinya biasa-biasa saja meskipun sudah melakukan banyak hal. Yang berbahaya dari kerendahan diri seorang perempuan itu, dapat  membuat perempuan dikenal sebagai sosok yang patuh dan tidak neko-neko. Padahal perempuan dapat melakukan banyak hal lebih dari itu.

Perempuan harus memastikan bahwa keberadaannya diketahui oleh orang-orang, bakatnya diketahui oleh orang-orang. Riset membuktikan bahwa laki-laki lebih suka menawarkan bantuan di depan publik supaya dilihat banyak orang, sementara perempuan kebalikannya. Perempuan juga suka mengungkapkan kata sungkan saat dipuji oleh orang lain.

Bagaimana tentang speak up? Ketika menyampaikan sebuah ide katakan dengan lantang sampai orang lain tidak dapat melupakan apa yang terucap dari perempuan, katakan ide dengan kepercayaan diri yang tinggi jangan memberikan banyak gumaman.

Bicara tentang keberanian bernegosiasi, menurut Fatikha, perempuan cenderung sulit mengatakan apa yang mereka inginkan termasuk saat menyangkut keuangan. Ini sebabnya mengapa penghasilan perempuan secara statistik lebih rendah daripada laki-laki meskipun memiliki jabatan yang sama. Padahal jika dapat bernegosiasi, sah saja untuk dilakukan asal didukung dengan penjelasan mengapa layak mendapatkannya dan sampaikan sesuai dengan fakta bukan opini.

“Banyak stereotype dan persepsi yang selalu dibahas dalam dunia kerja, yang harus dilakukan perempuan adalah lawan, jangan termakan dan buktikan. Selain itu, jangan saling menjatuhkan sesama perempuan, jangan mengadu dengki namun ajak untuk bekerja sama dan saling mengingatkan,” kata Fatikha.

Perjuangkan emansipasi

Aliya Miftahul lebih bicara tentang sejarah Kartini. Menurut referensi yang dia baca, Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat atau Kartini merupakan salah satu pahlawan wanita di Indonesia yang memperjuangkan emansipasi wanita di Indonesia, terutama dalam hal pendidikan. 

Kartini berasal dari Jepara, Jawa Tengah dan lahir pada 21 April 1879. Dia lahir di tengah-tengah keluarga bangsawan Jawa. Ayah Kartini adalah seorang Bupati Jepara bernama R.M. Sosroningrat, putra dari Pangeran Ario Tjondronegoro IV. Ibu Kartini bernama M.A. Ngasirah, merupakan anak seorang kiai atau guru agama di Telukawur, Kota Jepara. Ngasirah bukan keturunan bangsawan, melainkan hanya rakyat biasa. Kartini merupakan anak kelima dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Kartini adalah anak perempuan tertua dari saudara sekandungnya,

Kartini menempuh pendidikan di ELS (Europese Lagere School) selama 12 tahun. Europese Lagere School  merupakan Sekolah Dasar zaman kolonial Hindia Belanda di Indonesia. ELS diperuntukkan untuk keturunan Eropa, keturunan timur asing atau pribumi dari tokoh terkemuka. Kartini banyak belajar di sana, termasuk bahasa Belanda. Tetapi karena mengikuti budaya dan tradisi Jawa pada saat itu, Kartini terpaksa tidak melanjutkan sekolah dan menjalani pingitan.

Selama dipingit inilah kartini menjadi sering mengirim surat kepada teman-temannya yang berada di Belanda. Melalui kegiatan tersebut, Kartini menunjukkan ketertarikan dengan kehidupan dan cara berpikir perempuan di Eropa. Selain surat, ketertarikan Kartini juga datang dari kegemarannya membaca surat kabar, majalah, dan buku. Kartini juga bermimpi agar perempuan pribumi dapat mengenyam pendidikan setinggi mungkin tanpa terbatas dengan tradisi.

Kartini menikah di usia 24 tahun. Dia dinikahkan dengan K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat yang merupakan seorang bangsawan dan juga bupati di Rembang yang telah memiliki tiga orang istri. Sebagai suami K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat mengijinkan Kartini untuk mendirikan sekolah wanita pertama Sekolah itu berdiri di sebelah kantor pemerintahan Kabupaten Rembang yang kemudian sekarang dikenal sebagai Gedung Pramuka.

Karena kondisi fisiknya memburuk setelah melahirkan putra pertamanya, Kartini wafat di usia 25 tahun tepatnya pada 17 September 1904, empat hari setelah melahirkan putranya yang bernama Soesalit Djojoadhiningrat. Dia dimakamkan di Desa Bulu, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. (mar)

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments