Home Seni Budaya Perempuan Berkebaya Jogja Gelar Ngadi Busana Gagrak Jogja dan Solo

Perempuan Berkebaya Jogja Gelar Ngadi Busana Gagrak Jogja dan Solo

1587
0
Komunitas Perempuan Berkebaya Jogja gelar acara Ngadi Busana, Minggu (26/1/2020), di Hotel Sri Wedari, Yogyakarta. (Foto: Istimewa)

BERNASNEWS.COM — Bermula dari kecintaan yang sama terhadap kebaya sebagai busana warisan nenek moyang, komunitas Perempuan Berkebaya Jogja menggelar acara Ngadi Busana, Minggu, 26 Januari 2020, pukul 10:00 – 13:00 WIB, di Hotel Sri Wedari, Jalan Laksda Adisucipto, Yogyakarta. Kegiatan tersebut menghadirkan nara sumber RAy Kusswantyasningrum.

“Komunitas Perempuan Berkebaya Jogja selalu konsisten mengkampanyekan pemakaian kebaya dalam kehidupan sehari-hari. Dari sekian banyak kegiatan diantaranya menari dan bermain angklung, komunitas ini selalu mengadakan berbagai workshop untuk meningkatkan pengetahuan anggotanya maupun perempuan Indonesia pada umumnya,” papar Tinuk Suhartini MG selaku Ketua, Kamis (23/1/2020).

Komunitas Perempuan Berkebaya Jogja foto bersama usai latihan menari bersama. (Foto: Istimewa)

Dalam acara Ngadi Busana ini, Tinuk menjelaskan, RAy Kusswantyasningrum akan memaparkan tidak hanya cara berkebaya tetapi berbusana lengkap ala Yogyakarta dan Solo. Cara berbusana ini sering dikenal dengan sebutan Gagrak Yogyakarta dan Solo. Juga yang boleh digunakan atau yang tidak boleh dipakai secara pakem di Yogyakarta dan Solo.

“Dipilihnya RAy Kusswantyasningrum sebagai nara sumber, beliau telah mendalami dunia tata rias dan kostum terutama busana adat keraton Yogyakarta sejak usia sembilan tahun. Beliau menjadi abdidalem dengan nama paring dalem Nyi Raden Wedono Retno Adiningtyas dan bertugas di Kawedanan Hageng Punokawan (KHP) Parwobudoyo,” ungkapnya.

Promo Event. (Repro)

Tinuk lebih lanjut menambahkan, bahwa RAy Kusswantyasningrum sering mendapat tugas dari Kraton untuk memandu upacara adat seperti tingkeban, selapanan, tedhak siti, tetesan maupun supitan dari putra dan wayah dalem Sri Sultan HB X. “Selain ilmu, para peserta mendapatkan kudapan, makan siang, dan dokumentasi cantik dengan memberikan kontribusi sebesar Rp 65.000,” imbuhnya.

Dalam sejarah kebaya mulai berkembang pesat di Pulau Jawa sejak abad 13. Busana ini dikenakan oleh seluruh perempuan Jawa dari berbagai kalangan. Dan dalam perkembangan sekarang ini, selain batik, kebaya adalah salah satu yang dipakai sebagai busana Nasional Indonesia. “Berkaitan dengan hal itu, maka komunitas Perempuan Berkebaya ingin memperkenalkan kebaya secara lebih dalam,” ujar Tinuk. (ted)  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here