Home Technology Peralihan Teknologi Turut Membentuk Pola Pelayanan Jasa Fotografi di Jogja

Peralihan Teknologi Turut Membentuk Pola Pelayanan Jasa Fotografi di Jogja

179
0
Suasana Sidang Senat Terbuka Dies Natalis XXXVII ISI Yogyakarta pada 30 Mei tahun 2021. Foto : Humas ISI

BERNASNEWS.COM – Peralihan teknologi turut membentuk pola pelayanan jasa fotografi yang baru. Hasil pemotretan tidak lagi berupa lembaran film negatif, tetapi dalam wujud file digital. Pada era fotografi digital, proses pengubahan latent image menjadi visible image yang biasanya dilakukan di kamar gelap, tidak lagi diperlukan. Proses itu digantikan dengan pratampil file hasil pemotretan, yang dilakukan oleh fotografer dan konsumen di layar komputer.

Dalam tahap ini, konsumen bersama fotografer memilih foto-foto yang akan dibeli. File foto digital tersebut selanjutnya diolah lebih lanjut oleh tenaga khusus (biasanya disebut desainer grafis) yang dengan bantuan komputer grafis bertugas melakukan berbagai perbaikan dan melakukan pengolahan imaji dengan tujuan-tujuan tertentu. Di antaranya untuk tujuan penyesuaian ukuran foto, kecerahan dan kekontrasan foto, penggantian latar belakang, hingga memberi efek-efek visual pada bagian-bagian foto tertentu agar peduduk dapat tampil sempurna dalam foto.

Menghilangkan jerawat, menghaluskan kulit, dan membuat warna kulit menjadi lebih terang secara fotografis merupakan hal yang lazim dilakukan oleh para desainer grafis yang bekerja di studio foto. Pekerjaan semacam ini pada masa fotografi analog tidak mudah dilakukan karena berbagai keterbatasan teknologi. Bersamaan dengan itu, terjadi perubahan besar pada tren dalam fotografi, yaitu penurunan drastis pada kebutuhan cetak, foto-foto dapat ditampilkan di layar komputer.

“Bisnis cuci-cetak kini tidak menjadi primadona, akibatnya banyak studio yang dahulu mengandalkan jasa cuci-cetak perlahan tetapi pasti mundur dari persaingan bisnis fotografi, digantikan oleh studiostudio baru yang menawarkan produk-produk foto yang kreatif,” kata Dr Irwandi M.Sn, Dosen ISI Yogyakarta, dalam Pidato Ilmiah pada Sidang Senat Terbuka Dies Natalis XXXVII ISI Yogyakarta pada 30 Mei tahun 2021.

Dalam pidato berjudul Membaca Disrupsi dalam Fotografi : Berkaca dari Perjalanan Studio Foto Potret di Yogyakarta, Irwandi menguraikan sejarah perjalan studio foto di Yogyakarta. Dalam sejarah singkat studio foto di Yogyakarta itu menunjukkan bagaimana faktor teknologi dan sumber daya manusia berpengaruh sangat besar dalam membentuk wujud karya fotografi di masyarakat. Karya foto potret yang sebelumnya terlihat sangat statis, berkat perkembangan teknologi dan sumber daya manusia yang menjalankannya kini menjadi sangat dinamis dan variatif.

Dikatakan, awalnya saat bisnis studio foto masih berbasis bisnis keluarga, masyarakat sebagai konsumen belum punya banyak pilihan selain mengikuti arahan fotografer di studio. Atau, mereka akan mendapatkan foto yang gagal secara teknis. Belum lagi yang berkaitan dengan waktu tunggu yang cukup lama untuk mendapatkan selembar cetakan foto.

Proses kamar gelap yang merupakan tahapan pascapemotretan seolah menjadi dinding yang sangat kokoh sehingga ada jarak antara produsen dan konsumen. Hal itu pula yang menyebabkan tingkat kebergantungan konsumen terhadap studio foto sangat tinggi.

Keadaan demikian sangat kontras dengan keadaan sekarang. Kini bisnis fotografi dapat dilakukan oleh siapa saja yang memiliki modal ekonomi tanpa harus memiliki modal budaya yang melekat pada pemiliknya. Modal ekonomi yang dimiliki investor studio foto dapat ditukarkan dengan modal budaya. Modal ekonomi, dalam perspektif teori sosial kritis Bourdieu merupakan sumber daya yang dapat ditranformasikan menjadi modal-modal lainnya.

Contoh konkretnya ialah perekrutan tenaga-tenaga kerja fotografi yang sebagian besar berlatar belakang pendidikan formal. Munculnya tenaga-tenaga kerja berpendidikan fotografi dan desain grafis turut menyambut dan memberi bentuk kehadiran fotografi digital di Yogyakarta. Di sisi lain, berkat teknologi, fotografi menjadi begitu cepat, mudah dan lebih terjangkau.

“Teknologi digital mengubah banyak sekali kebiasaan dari tradisi fotografi lama. Pratampil foto dapat dilakukan sesaat setelah pemotretan, proses pengolahan imaji dapat dilakukan dengan mudah, bahkan pemilihan media cetaknya pun bervariasi. Lebih jauh lagi, sebagian besar upaya penghadiran foto dapat dilakukan sendiri oleh konsumen di rumah. Artinya, kesenjangan kemampuan teknis antara masyarakat dan studio foto tidak terbentuk secara ekstrem,” kata Irwandi.

Pendek kata, fotografi makin terbuka; hampir dapat dilakukan oleh semua orang. Hal inilah yang akhirnya menjadi tantangan tersendiri bagi studio foto, yakni studio foto selalu berusaha untuk lebih unggul dan berbeda dari masyarakat kebanyakan. Namun, satu hal yang tidak terelakkan ialah para konsumen mendapatkan cukup ruang untuk bernegosiasi. Mereka dapat menyatakan pilihan kepada fotografer mengenai foto mana saja yang mereka suka dan yang tidak mereka sukai.

Dengan kata lain, konsumen fotografi masa kini makin kritis; selalu ada dialog untuk menentukan perkara-perkara teknis dan artistik dalam batasan-batasan tertentu. Studio foto seakan-akan mendapat tuntutan untuk melayani konsumennya dengan sebaik dan senyaman mungkin bila tidak ingin ditinggalkan.

Teknologi bukan satu-satunya penyebab berubahnya tren fotografi dari era 1990-an dan 2000-an, terutama yang terkait dengan ide dan konsep artistik dalam foto potret. Faktor penyebab lain yang mengubah tren fotografi ialah berubahnya peta bisnis foto studio yang sebelumnya mengandalkan jasa cuci-cetak beralih pada tuntutan kreativitas yang dicerminkan dalam produk foto.

Sejak hadirnya teknologi digital, permintaan jasa cuci-cetak secara perlahan menurun drastis. Kenyataan ini membuat studio foto yang menggantungkan pendapatannya pada jasa cuci-cetak atau hanya menyediakan jasa foto potret sebagai sambilan mengalami penurunan pendapatan secara signifikan.

Upaya untuk menjaring konsumen sebanyak mungkin oleh studio foto masa kini pun makin beragam. Papan nama yang hanya berisi informasi umum studio dirasa tidak lagi cukup. Tampaknya sudah menjadi keharusan bagi studio untuk menawarkan konsep artistik fotografinya secara lebih lugas dan lebih segar karena hal itulah yang menarik konsumen untuk datang ke studio. Misalnya dengan menampilkan hasil foto dan slogan-slogan yang menarik perhatian dan mencerminkan perkembangan terbaru. Pelaku fotografi, khususnya para pebisnis studio foto, harus mengikuti perkembangan teknologi dan selera konsumen untuk menjaga kesinambungan bisnis mereka.

Di sisi lain secara perlahan namun pasti, sumber daya manusianya yang kompeten dan kreatif turut berperan dalam mengubah pola layanan dan hubungan antara konsumen dan studio foto. Kemajuan yang mengelilingi fotografi dari waktu ke waktu, (teknologi, penampilan, distribusi dan konsumsi foto), yang mana juga dicapai oleh masyarakat umum, memungkinkan konsumen untuk melakukan produksi foto domestik secara mandiri.

Foto-foto domestik dapat dilakukan dengan peralatan yang telah menjadi satu dalam aktivitas keseharian manusia, misalnya telepon selular. Konsumen hanya akan pergi ke studio foto untuk pemenuhan kebutuhan fotografi yang tak dapat dilakukan secara mandiri. Itulah salah satu disrupsi dalam fotografi: fotografi yang sebelumnya sangat ‘tertutup’, menjadi sangat terbuka.

Pendapat umum mengemuka: ‘now everyone is photographer’, fotografi dapat dipelajari dari internet. Berkat teknologi dan artificial intelligence, menghasilkan foto yang benar secara teknis bukanlah perkara sulit, siapa saja dapat melakukannya. Kondisi ini menuntut penyedia jasa fotografi untuk menunjukkan distingsi, menciptakan pasar baru, yang artinya sebuah tuntutan untuk menjadi yang terdepan dalam teknologi, bahkan lebih dari itu: harus menghasilkan produkproduk foto yang lebih ‘berisi’ dan bermakna agar dapat terus bertahan.

Berkaca dari perjalanan studio foto di Yogyakarta, upaya penyedia jasa fotografi potret studio untuk terus bertahan menghadapi disrupsi dilakukan dengan menawarkan produk foto yang ‘baru’, inovatif, melalui tema, aspek artistik, sumber daya manusia, serta melalui ‘pencitraan’ studio atau fotografernya. Inovasi, sebagai akumulasi dari penguasaan hard skill, soft skill dan kreativitas merupakan kunci untuk menghadapi disrupsi. (lip)



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here