Home News Penulisan Aksara Jawa Papan Nama Kemantren Kraton, Menjadi Perbincangan Warga

Penulisan Aksara Jawa Papan Nama Kemantren Kraton, Menjadi Perbincangan Warga

1847
0
Gedung Kantor Kemantren Kraton, Jalan Rotowijayan, Yogyakarta. Rabu (27/1/2021). Foto: Tedy Kartyadi/ Bernasnews.com.

BERNASNEWS.COM — Membahas soal Budaya Jawa yang berkenaan dengan bahasa maupun penulisan huruf atau aksara Jawa di era kekinian tentu menjadi suatu hal yang menarik, terlebih yang teribat dalam pembahasan itu ada juga generasi milinealnya.

Seperti telah diketahui berdasar perubahan nomenklatur yang dirancang lewat Peraturan Gubernur (Pergub) no. 25 Tahun 2019 tentang Pedoman Kelembagaan Urusan Keistimewaan pada Pemerintah Kabupaten/Kota dan Kelurahan yang ditetapkan tanggal 4 April 2019.

Papan nama Kemantren Kraton. Foto diambil Rabu (27/1/2021). Foto: Tedy Kartyadi/ Bernasnews.com.

Salah satu perubahan nomenklatur adalah penyebutan Kecamatan untuk di Kota Yogyakarta disebut dengan Kemantren dan untuk 4 Kabupaten di DIY disebut Kapanewon. Perubahan itu juga diikuti seluruh perubahan administrasi, dari papan nama setiap kantor hingga kop surat.

Pemasangan papan nama Kemantren oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta telah dilakukan sejak awal Januari 2021 lalu. Setiap papan nama juga dilengkapi dengan penulisan nama kemantren berupa huruf (aksara) Jawa lengkap dengan sandangan dan aksara pasangan.

Sementara penulisan huruf Jawa pada papan nama Kemantren Kraton menjadi perbincangan cukup hangat oleh warga sekitar dalam sebuah grup whatsapp forum kampung. Sebab menurutnya penulisan tersebut dinilai tidak sesuai dengan kaidah penulisan aksara Jawa yang semestinya. Juga sangat menyayangkan, mengingat keberadaannya sangat dekat dengan letak Kraton Yogyakarta.

Kemantren Kraton dalam aksara Jawa yang ditulis oleh R H. Rahardjo, SE penggiat kesenian budaya Jawa. (Tedy Kartyadi/ Bernasnews.com)

Pengkal boten pareng ing tengah (Pengkal tidak boleh di tengah, red). Yen menika maosipun (kalau ini bacanya) Kamantrane Krataon,” ungkap R H. Rahardjo, SE penggiat seni budaya Jawa, sembari menuliskan aksara Jawa yang benar, saat dikonfirmasi Bernasnews.com, Selasa (26/1/2021).

Menurut Rahardjo yang juga pengrajin gamelan ini, bahwa aksara atau huruf pasangan bisa terletak di bawah atau sejajar dengan huruf lainnya tergantung model/ gayanya. “Seharusnya tidak ada tanda penghubung apabila tulisannya Kemantren Kraton. Karena di papan itu penulisannya terdapat sandangan pangku (pengkal) sehingga dalam huruf latin menjadi Kemantren(.)Kraton,” terangnya.

Kemantren Kraton yang ditulis oleh Drs. H. Abdullah Purwodarsono Mantan Pemred Majalah Djaka Lodang. (Tedy Kartyadi/ Bernasnews.com)

Hal serupa juga disampaikan oleh Drs. H. Abdullah Purwodarsono, Wartawan Senior Mantan Pemimpin Redaksi Majalah Bahasa Jawa Djaka Lodang yang menyatakan bahwa penulisan aksara Jawa pada papan Kemantren Kraton itu lepat (salah).

“Penulisannya itu menurut urutan huruf Latinnya. Tren, ditulis aksara Ta di-cakra, taling dan Na di-pangku. Semestinya, aksara taling Ta di-cakra dan aksara Na di-pangku,” jelas Abdullah yang pernah mengelola majalah berbahasa Jawa hampir setengah abad itu, saat dikonfirmasi Bernasnews.com.

Sebenarnya program atau aplikasi penulisan huruf Jawa sudah tersedia, lanjut Abdullah, harganya tidak terlalu mahal. Sehingga dengan adanya aplikasi tulisan Jawa itu cukup memudahkan. “Kalau sampai salah dikarenakan penulisnya tidak paham. Seperti contoh tadi, menulis aksara Jawa diurutkan seperti halnya menulis Latin,” ucapnya.

Menurutnya, karena itu kesatuan nama bukan Kemantren sendiri dan Kraton sendiri (satu kata). Kalau dipisah itu berarti koma sebab tanda pangku itu sama artinya koma. “Kecuali halau disambung dengan huruf yang berpasangan,” imbuh Abdullah. (ted)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here