Pentas Musisi Jalanan Menambah Syahdunya Selasa Wage di Malioboro

    46
    0
    Performance music acoustic di depan Gedung DPRD DIY Jalan Malioboro Yogyakarta, Selasa Wage (5/11/2019). Foto : Febriana Lindiawati)

    BERNASNEWS.COM — SETIAP bulan, tepatnya pada hari Selasa Wage, Malioboro bisa sedikit bernafas lega. Sebulan sekali Malioboro tidak melakukan ‘aktivitas’ seperti biasa alias istirahat. Kendaraan bermotor dilarang lewat, kecuali bus Trans Jogja dan sepeda. Seluruh pedagang di ruas jalan paling terkenal di Jogja ini juga tutup. Ya Selasa Wage adalah Car Free Day di Malioboro sampai malam. Biasanya para pedagang dan stakeholder di Malioboro kerja bakti pada Selasa Wage.

    Maka tak heran banyak orang datang ke Malioboro setiap Selasa Wage. Mereka ingin menikmati Malioboro yang bebas polusi dan bebas dari pedagang. Sebaliknya, banyak acara seru yang disediakan di sana mulai dari music performance, pantomim, pameran fotografi, mocopat-an, baca buku gratis, live music dangdut, hingga flashmob.

    Performance music acoustic di depan Gedung DPRD DIY Jalan Malioboro Yogyakarta, Selasa Wage (5/11/2019). Foto : Febriana Lindiawati)

    Seperti halnya pada Selasa Wage bulan ini (5/11/2019), kemeriahan performance music acoustic di depan Gedung DPRD pun menambah syahdunya nuansa Jogja di Malioboro. Beberapa lagu kenangan tempo dulu dari Kla Project yang menceritakan tentang indahnya Jogja mereka lantunkan dengan penuh kerinduan, sehingga penonton pun turut larut dalam menikmati euphoria Selasa Wage di kawasan Malioboro ini.

    Banyaknya pertunjukan yang dapat dinikmati oleh masyarakat semakin menambah daya tarik Yogyakarta yang terkenal sebagai salah satu destinasi pariwisata di Indonesia. Sebagai kota yang dikenal dengan budaya yang masih terjaga dengan kearifan lokal dan kehangatannya hingga saat ini, Yogyakarta tidak hanya menampilkan keramahan namun juga keistimewaan.

    Salah satu sudut Malioboro pada Selasa Wage (5/11/2019). Foto Febriana Lindiawati)

    Tradisi Selasa Wage di kawasan Malioboro ini diharapkan mampu menambah daya tarik wisata Jogja yang tak hanya menyuguhkan tentang wisata alam, namun juga dapat menarik perhatian wisata lokal maupun asing untuk singgah menikmati budaya khas Jogja ataupun untuk sekadar rileks dari hiruk pikuknya kehidupan metropolitan.

    Hal diharapkan dapat mendorong pemerintah Jogja untuk lebih mengembangkan lagi keistimewaan Jogja baik budaya, keramahtamahan warganya maupun wisata alamnya. (Febriana Lindiawati, Mahasiswa Prodi Public Relations ASMI Santa Maria)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here