Home Seni Budaya Pentas Budaya Manggarai di Jogja Sukses, Dua Wakil Bupati Mengapresiasi

Pentas Budaya Manggarai di Jogja Sukses, Dua Wakil Bupati Mengapresiasi

971
0
Wakil Bupati Sleman Hj Sri Muslimatun M.Kes (berkerudung) memukul gong membuka Pentas Budaya Manggarai 2019 di Lapangan Denggung Sleman, Minggu (27/10/2019). Foto : Yupiter Omi

BERNASNEWS.COM – Wakil Bupati Manggarai Barat (Wabup Mabar), Flores Barat, Provinsi NTT Drh Maria Geong PhD merasa bangga dan mengapresiasi atas digelarnya kegiatan Pentas Budaya Manggarai di Sleman, DIY, Minggu (27/10/2019).

Ia juga mengapresiasi pada panitia atas tema yang diangkat dalam pentas budaya ini yakni Cinta Budaya untuk Kejayaan Bhineka Tunggal Ika karena senada dengan semangat masyarakat Manggarai yang meski terdiri atas banyak etnik dan suku bangsa namun selama bersama dalam setiap kegiatan, hidup rukun dan berdampingan dengan baik.

“Saya berharap warga masyarakat Manggarai yang ada di Sleman, DIY agar selalu membawa kearifan, kebaikan dan selalu hidup berdamai dan berdampingan dengan semua orang, suku, etnik serta latar belakang yang berbeda-beda untuk kesejahteraan dan kejayaan NKRI,” kata Wabup Mabar dalam sambutannya pada pembukaan acara Pentas Budaya Manggarai 2019 di Lapangan Denggung, Kabupaten Sleman, DIY, Minggu (27/10/2019).

Sejumlah mahasiswa Manggarai yang tergabung dalam Ikamaya membawakan lagu-lagu Manggarai dalam Pentas Budaya Mangggari di Lapangan Denggung, Minggu (27/10/2019). Foto : Yupiter Omi

Pentas Budaya Manggarai 2019 ini berlangsung meriah. Ratusan bahkan ribuan masyarakat berbagai daerah hadir menyaksikan acara pentas budaya dengan menampilkan aneka seni tari dan seni suara dengan sajian utama tarian Caci, yang merupakan tari tradisional khas Manggarai yang sangat sakral.

“Kami bangga dan mengapresiasi tema Pagelaran Budaya yang diadakan oleh Ikamaya yakni Cinta Budaya untuk Kejayaan Bhineka Tunggal Ika. Karena tema ini senada dengan semangat masyarakat di Manggarai Barat yang terdiri atas banyak etnik dan suku bangsa, tapi selalu bersama dalam setiap kegiatan pentas budaya, hidup rukun dan berdampingan dengan baik,” kata alumni Fakultas Kedokteran Hewan UGM ini.

Melalui pagelaran budaya ini, Wabup Mabar Drh Maria Geong berharap agar terbangun tali silaturahmi antar pemerintah dan masyaralat Kabupaten Manggarai, NTT dengan Kabupaten Sleman, DIY. “Pentas budaya ini juga sebagai media untuk membangun kesadaran bersama dalam kebhinekaan, walau berbeda suku, etnik dan agama, tapi kita tetap satu, yakni Indonesia,” kata Maria Geong.

Pada kesempatan itu, Maria Geong mengatakan bahwa atas nama Pemerintah Kab Manggarai, Kab Manggarai Timur dan Kab Manggarai Barat mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kab Sleman melalui Bupati Drs H Sri Purnomo MSi dan Wakil Bupati Hj Sri Muslimatun M.Kes beserta jajaran, atas kesempatan yang telah diberikan kepada warga masyarakat Manggarai yang ada di DIY sehingga dapat menyelenggarakan pentas budaya Manggarai di wilayah Kabupaten Sleman.

Sejumlah penari mahasiswa Manggarai membawakan tarian penyambutan tamu pada Pentas Budaya Manggarai di Lapangan Denggung Sleman, Minggu (27/10/2019). Foto : Yupiter Omi

Wakil Bupati Sleman Hj Sri Muslimatun M.Kes yang hadir dan membuka Pentas Budaya Manggarai itu, mengatakan, pihaknya menyambut gembira atas pelaksanaan kegiatan budaya seperti ini. Ia pun berharap warga Manggarai dan masyarakat Indonesia pada umumnya agar dapat memupuk kembali kecintaan akan budaya nusantara.

“Event pagelaran seni budaya seperti ini merupakan wadah komunikasi yang tepat antar anak bangsa yang kebetulan berdomisili di Kabupaten Sleman. Saya yakin melalui komunikasi yang terjalin baik dapat meminimalisasi gesekan-gesekan antar generasi muda yang seharusnya tidak perlu terjadi, sementara di sisi lain pagelaran budaya seperti ini mendorong generasi muda untuk terus mengembangkan nilai-nilai seni budaya daerah masing-masing,” kata Hj Sri Muslimatun.

Seperti diberitakan Bernasnews.com sebelumnya, Pentas Budaya Manggarai, Flores Barat, NTT yang diselenggarakan oleh Ikatan Mahasiswa Manggarai di Yogyakarta (Ikamaya) diisi dengan berbagai atraksi seni tari dan suara dari berbagai daerah, terutama dari Manggarai.

Dalam pentas budaya kali ini, antara lain ditampilkan Tari Danding (nengkung), Tari Tenun, Tari Kreasi, Tari Reno yang dipersembahkan oleh Sanggar Kembang Sore, dari Manggarai. Selain itu, juga ikut tampil tarian persembahan dari Merauke, Papua (Tari pagur Sagu) dan diakhiri dengan Tari Caci atau tarian perang yang sangat memukau penonton.

Selain dihadiri Wakil Bupati Sleman Hj Sri Muslimatun M.Kes yang sekaligus membuka acara dan Wakil Bupati Manggarai Barat Drh Maria Geong PhD, pentas budaya Manggarai ini juga dihadiri Forkompinda Kab Sleman, wakil dari DPRD Sleman, para sesepuh masyarakat Manggarai di Jogja maupun para mahasiswa dan masyarakat dari berbagai daerah, terutama dari NTT yang tinggal di Jogja.

Salah seorang peserta caci (kanan) terkena pukulan pecut (wado)hingga luka menganga di bagian punggung dalam Pentas Budaya Manggarai di Lapangan Denggung Sleman, Minggu (27/10/2019). Foto : Yupiter Omi

Prosesi penyambutan Wakil Bupati Sleman dilakukan secara adat Manggarai yang kemudian didaulat menjadi warga Kehormatan Masyarakat Manggarai, dengan sambutan Tarian Tiba Meka, di lapangan Denggung, Tridadi, Sleman itu.

Anggota DPRD Sleman asal Manggarai Ardi Sehami kepada media mengatakan bahwa Pentas Budaya Manggarai di Jogja ini antara lan untuk memperkenalkan budaya Manggarai kepada masyarakat luas. Sebab, setiap daerah memiliki keunikan budaya yang perlu diketahui dan dipahami masyarakat daerah lain.

“Saya berharap kegiatan ini tidak hanya sebatas mempromosikan budaya Manggarai, tetapi roh dan filosofi dari tarian Caci yakni mengajarkan sportifitas tertanam dalam pribadi-pribadi masyarakat Manggarai dan siapa pun yang menyaksikan sehingga menjadi pribadi-pribadi yang sportif,” kata Ardi Sehami.

Wakil Bupati Manggarai Barat Maria Geong (kelima dari kanan/baju hitam” foto bersama ibu-ibu di kediaman sesepuh Manggarai di Jogja, Mama Anton Jehadu, di Perumahan Jombor, Mlati, Sleman, Sabtu (26/10/2019) malam. Foto : Istimewa

Hal ini seperti terlihat dalam tarian caci di mana dua kubu saling menunjukan kebolehan dan saling serang, namun setelah itu tidak ada dendam, bahkan saling memberi hormat, meski salah satu atau bahkan dua-duanya terkena pukulan pecut yang terbuat dari larik (kulit kerbau yang kering) hingga luka menganga di badan. “Semoga tradisi tarian Caci ini mewariskan sikap sportifitas, untuk saling menghargai kelebihan dan kekurangan masing-masing dalam bingkai persaudaraan sebangsa dan se Tanah Air,” kata Ardi Sehami. (lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here