Thursday, August 18, 2022
spot_img
spot_img
HomeNewsPenghargaan Empu Kartun Subro dengan Pameran 300 Karya dan Lelang Kaos

Penghargaan Empu Kartun Subro dengan Pameran 300 Karya dan Lelang Kaos

bernasnews.com.  Pameran kartun karya maestro kartun Indonesia FX Subroto (Subro) digelar di Balai Budaya, Jalan Gereja Theresia No. 47  RT 7 RW 4, Gondangdia, Menteng, Jakarta, 24 – 30 Juni 2022. Perhelatan tersebut sekaligus untuk mengenang Subroto yang telah dipanggil Tuhan 18 Juni  2022. Sebanyak 300 karya kartun yang dipamerkan sebagian berasal dari kolektor Doni Blero dan arsip keluarga Subro. Selain itu diselenggarakan lelang kaos bergambar karikatur Subro yang ditandatangani para kartunis senior Indonesia.

Event Tribute to FX Subroto bertajuk Gojek Kere Ala Subro tersebut dihadiri oleh Kepala Balai Budaya Iskandar, owner Kampoeng Semar Prof. Chryshnanda Dwi Laksana, kartunis Anwar Rosyid, Sudi Purwono (Non-O), Itok Isdianto Iskandar, Yan Praba, Aisul, Ireng, Yere, Gatot  Eko Cahyono, Ifoed, Paulus Tobel, Johan, Faishal Rasyad M, dan para seniman.

“Saya mengenal karya-karya Pak Subro sejak saya masih sekolah dasar. Karyanya lucu, ada kata-katanya… kadang tanpa kata-kata. Yang unik, karya Subro spontan dan tak hanya melucu, juga memberikan pesan moral,” kata Crhyshnanda saat memberikan sambutan.

Menurut anggota Bhayangkara ini, idiom ‘Gojek Kere’ sebetulnya bukan makna sebenarnya, bukan bermaksud merendahkan. Melalui ikon budaya tersebut untuk menunjukkan bahwa Pak Subro dengan gaya kerakyatan mampu menampilkan sikap kritis yang membuat tertawa.

Isteri Subro, Ny Sumartiyah, didampingi putri bungsunya Monica Trias Wida (Ias) merasa senang dan bersyukur, bahwa ternyata banyak teman mencintai Pak Subro dan hasil karyanya. Keluarga Subro mengikuti agenda tersebut melalui  live streaming dari Yogyakarta.

Dialog tentang sosok dan karya Subro pun berlangsung menjelang pembukaan pameran. Para kartunis mengapresiasi karya Subro yang masih konsinten dan produktif berkarya hingga akhir hayat. Menurut mantan Ketua Persatuan Kartunis Indonesia (PAKARTI) Yan Praba, Pak Subro pantas dinobatkan salah satu ‘sebagai empu kartun Indonesia’.

“Saya merasa tersanjung, kedudukan kartunis dihargai masyarakat,” kata kartunis senior Non-O saat sharing

Dia mengenal sosok Subro sejak tahun 1976 sebagai kartunis yang jenaka, pribadi Subro yang serus, pendiam, kalem, santun, hati-hati dalam bertutur kata sangat kontras  dengan karya kartunnya
yang ceplas-ceplos. Ide-idenya sebagai pembebasan dari hal yang terkurung dalam norma-norma sosial, etika, sopan santun dalam masyarakat. Subro sangat peka terhadap fenomena sosial; yang serius dapat diolah dalam humor kartunnya, sehingga dapat dicerna oleh masyarakat. Karya-karya Subro dapat dikategorikan sesuatu yang masterpiece. Menurut Non-O, karya Subro sebagai karya jurnalistik, karya seni, dan karya sosial.

Hal tersebut juga dikuatkan pegiat literasi visual Itok Isdianto, bahwa Subro telah bergelut sekitar 39 tahun dalam bidang jurnalistik. Ketekunan Subro tidak mungkin berangkat dari ruang kosong dalam ber-kartun. Subro dapat mengristalkan kultur Jawa dalam masyarakat.

“Warisan Mas Subro semoga dapat menjadi pencerahan buat generasi mendatang, menjadi literasi tersendiri. Legacy (warisan) Mas Subro semoga dapat untuk kajian yang lebih dalam lagi bagi para dosen, mahasiswa dan masyarakat umum yang ingin mempelajari tentang kartun,” kata seniman Aisul.

Menurut seniman Ireng, kartunis adalah manusia yang cerdas. Persoalan yang diambil kartunis Subro adalah persoalan umum yang disajikan dengan gaya merakyat, dari pada persolan elit yang tidak sampai ke masyarakat.

Salah satu pendiri Paguyuban Kartunis Yogyakarta (PAKYO) Anwar Rosyid mengenang peristiwa pameran tahun 79-an, saat tersebut Subro membuat karakter semacam ondel-ondel sampai pagi. 

“Pak Subro aktif di Majalah Djaka Lodang. Romantika kartunis di daerah menikmati hasil dari situ…” kenang Rosyid  seraya tertawa.

Ifoed pernah bertemu dengan Subro dalam pertemuan kartunis di Ancol tahun 90-an. Dia mengoleksi kartun Subro yang dimuat di Majalah Kartini. Menurut  kartunis ini, dia suka mengembangkan ide gagasan kartun Subro dengan letupan humor yang berbeda.

Seniman Dodo Karundeng mengritisi; banyak yang merasa tahu Pak Subro, tetapi ironisnya tidak tahu banyak tentang karya Subro. Ia mengharapkan membuat diskusi tentang karya seni kartunnya. Diskusi tersebut ditimpali oleh Itok, kepekaan Subro mengangkat budaya Jawa, local wisdom, keragaman budaya dapat diangkat menjadi isu yang menarik. (Praba Pangripta, kartunis asal Yogyakarta)

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments