Monday, June 27, 2022
spot_imgspot_img
spot_img
HomeOpiniPengaruh Mata Uang Kripto pada Perekonomian Indonesia

Pengaruh Mata Uang Kripto pada Perekonomian Indonesia

BERNASNEW.COM — Dewasa ini cryptocurrency telah menjadi fenomena global yang kebanyakan orang telah mengenalnya. Akan tetapi, kebanyakan orang, bank, pemerintah dan banyak perusahaan lainnya masih belum menyadari pentingnya cryptocurrency. Sebagian besar orang, termasuk bankir, konsultan, akademisi, dan pengembang, memiliki pengetahuan yang sangat terbatas tentang cryptocurrency. Mereka biasanya tidak mengerti dasar-dasarnya. Hanya sedikit orang yang mengetahuinya, tetapi cryptocurrency muncul sebagai produk sampingan dari penemuan lain. Satoshi Nakamoto, penemu Bitcoin yang tidak dikenal, cryptocurrency pertama dan tidak pernah dimaksudkan untuk menciptakan mata uang.

Dalam sebuah pernyataan tentang Bitcoin pada akhir tahun 2008, Satoshi Nakamoto mengatakan bahwa ia mengembangkan ‘Sistem uang elektronik Peer-to-Peer’. Tujuannya adalah menciptakan sesuatu, banyak orang gagal membuat uang digital. Mengumumkan rilis pertama Bitcoin, sistem uang elektronik baru yang menggunakan jaringan peer-to-peer untuk mencegah pengeluaran ganda. Ini benar-benar terdesentralisasi tanpa server atau otoritas pusat.

Tingkat perkembangan cryptocurrency dari tahun ke tahun dianggap sangat signifikan. Perkembangan cryptocurrency paling berharga saat ini, yaitu Bitcoin, tidak hanya tersebar luas di luar negeri, tetapi juga akan meningkat secara dramatis di Indonesia. Saat ini, sebagian besar pengguna cryptocurrency di Indonesia menggunakan mata uangnya untuk tujuan investasi, transaksi atau pembayaran, dan pengiriman uang. Namun, selain meningkatnya minat masyarakat Indonesia dalam investasi Bitcoin, ada beberapa kendala beberapa kendala yang berpotensi dalam menyurutkan minat masyarakat terhadap cryptocurrency.

Salah satu kendala terbesar terkait perkembangan cryptocurrency di Indonesia adalah Bank Indonesia yang tidak mengakui atau bahkan melarang semua transaksi Bitcoin karena Bitcoin bukan merupakan alat pembayaran yang sah di Indonesia. Dapat dilihat dari pengertian resmi pemerintah Indonesia mengenai mata uang menurut Pasal 1 Ayat 1 UU No. 7 Tahun 2011 yang menyebutkan bahwa, “Mata uang adalah uang yang dikeluarkan oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia yang selanjutnya disebut Rupiah”.

Selain hal di atas, terdapat beberapa tantangan lain saat berinvestasi di mata uang kripto, antara lain (1) tidak ada klasifikasi mata uang kripto yang jelas. Cryptocurrency tidak dapat didefinisikan sebagai mata uang atau hanya sebatas komoditas. (2) Adanya scam, yaitu penipuan yang mengubah kepercayaan orang terhadap sesuatu. Sebagai contoh, di Indonesia, masyarakat terbiasa percaya bahwa Anda bisa kaya dengan cepat melalui MLM atau multi level marketing, yang tidak jelas dan pada akhirnya harus berakhir dengan penipuan. Hal tersebut juga membuat orang skeptis tentang cryptocurrency. (3) Pemahaman masyarakat awam mengenai cryptocurrency yang masih kurang baik, sehingga menimbulkan penolakan terhadap cryptocurrency pada masyarakat Indonesia.

Cryptocurrency merupakan uang virtual atau uang digital yang berada di dunia maya yang tidak memiliki benda konkritnya, berbeda dengan uang konvensional seperti rupiah, dollar atau yang lainnya. Menurut Altucher, pendahulu kita sudah melakukan beberapa kali perubahan bentuk mata uang. Mulai dari emas yang menggantikan sistem barter, yang kemudian digantikan dengan uang kertas. Maka tidak menutup kemungkinan jika mata uang digital seperti Cryptocurrency akan menggantikan uang kertas sebagai alat transaksi di masa depan.

Mengutip dari situs web CoinMarketCap, terdapat 1.568 cryptocurrency di seluruh dunia. Kuantitasnya masih terpantau terus bertambah, seiring terus adanya ICO (Initial Coin Offering) yang dilakukan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Tidak semua  populer, terutama di Indonesia. Jika melihat kapitalisasi pasar (market cap) terbesar, berikut adalah peringkat pendapatan Bitcoin yang terus memimpin pasar kripto:

Dampak penggunaan mata uang virtual atau cryptocurrency terhadap perekonomian Indonesia tidak bisa diremehkan. Saat ini, mengingat negara-negara terbesar yang membolehkan penggunaan uang virtual tersebut, memiliki keterkaitan perekonomian yang besar terhadap Indonesia. Kondisi depresiasi virtual currency saat ini perlu diwaspadai, karena akan berdampak pada perekonomian nasional. Negara pengguna terbesar adalah Jepang dan Korea Selatan. Jika mata uang mereka mengalami krisis cryptocurrency, maka Indonesia berpeluang terkena dampaknya. Transmisi efek samping dari krisis cryptocurrency memang masih panjang, dan bahkan masih jauh. Di antara indikator-indikator tersebut, nilai pasar cryptocurrency sangat kecil dibandingkan dengan indeks saham seperti seperti Jakarta Composite Index (JCI), South Korea Stock Exchange (KRX), dan Tokyo Stock Exchange (JPX).

Menurut statistik Bitcoinity.org pada 5 Februari 2018, kapitalisasi pasar cryptocurrency senilai US$153,36 miliar per 4 Februari 2018. Sementara kapitalisasi pasar market cap JPX sebesar US$5,12 Trilun, KRX US$1.33 Triliun, dan JCI Rp7.390,39 Triliun. Yang paling penting untuk dicermati adalah mengenai bahaya dari uang virtual, baik dari fungsinya sebagai alat pembayaran dan juga sebagai komoditas. Bank Indonesia (BI) kembali mengingatkan pengguna Bitcoin atau pemegang Bitcoin di Indonesia untuk berhenti menggunakan atau berinvestasi dalam mata uang virtual. tersebut. Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI menyampaikan bahwa spread dan fluktuasi nilai tukar Bitcoin yang lebih tinggi akan membahayakan stabilitas mata uang dan sistem pembayaran Indonesia.

Dalam hal stabilitas sistem keuangan, BI juga mengkhawatirkan volatilitas Bitcoin. Ini mirip dengan teori gravitasi: jika bola diangkat terlalu tinggi, maka saat dia jatuh akan sakit sekali rasanya. Kita tidak ingin krisis terulang lagi karena ada bubble. Begitu jatuh tiba-tiba, jika terjadi krisis, yang akan terkena dampaknya adalah masyarakat. Selain itu, ada juga risiko arbitrase peraturan, karena transaksi dari negara lain dapat dilakukan dengan persyaratan yang lebih menguntungkan.

Lebih rinci lagi, faktor yang paling berbahaya adalah proses penciptaan Bitcoin sebagai mata uang atau alat transaksi yang dianggap berlebihan, baik dari sisi nominal maupun nilai harga yang disepakati, terutama dalam konteks krisis ekonomi. Sebagai tempat lahir Bitcoin, teknologi blockchain merupakan salah satu cara pemerintah berbagai negara bersaing dengan negara lain dalam hal inovasi teknologi. Indonesia sudah ketinggalan jaman internet, sudah saatnya pemerintah mengikuti pembaruan dunia supaya tidak ketinggalan pada kemajuan teknologi selanjutnya. (Galih Puji Kurniawan, Universitas Gadjah Mada/ Peserta Pelatihan dari ISEI dan Bank Indonesia DIY)

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments