Home Opini Pendidikan di Tengah Pandemi Covid- 19

Pendidikan di Tengah Pandemi Covid- 19

1641
0
Drs Djati Julitriarsa MM, Dosen STIM YKPN Yogyakarta

BERNASNEWS.COM – TANGGAL 2 Mei 2020 merupakan hari yang perlu diingat kembali oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia, karena tanggal itu kita memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Hardiknas merupakan salah satu tonggak sejarah bagi bangsa ini, dalam rangka mewujudkan kecerdasan bangsa lewat jalur pendidikan formal, sesuai dengan apa yang tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.

Hari tersebut merupakan hari kelahiran tokoh pendidikan nasional Indonesia, Ki Hajar Dewantara. Indonesia yang sudah merdeka selama 75 tahun dan sebentar lagi pada bulan Agustus 2020 kita rayakan, nampaknya tetap menyadari bahwa kualitas bangsa ini harus tetap bisa diwujudkan dan selalu dapat ditingkatkan, sesuai dengan slogan pemerintah yang dicanangkan pada peringatan hari kemerdekaan RI tahun lalu yakni SDM Unggul, Indonesia Maju.

Namun apa mau dikata, sekarang ini kita sedang mengalami peristiwa yang sangat mengganggu pelaksanaan atau pekerjaan di bidang pendidikan akibat pandemi Covid 19 yang melanda dunia, termasuk Indonesia. Bahkan boleh dikatakan bahwa proses pembelajaran pendidikan formal yang seharusnya diselenggarakan di bangku sekolah atau kuliah, harus dilaksanakan secara daring atau online, yang kemudian dikenal dengan istilah belajar di rumah saja lewat jaringan internet.

Itu semua ditujukan agar tidak terjadi adanya penyebaran virus Corona yang sangat meresahkan kehidupan manusia. Bahkan pemerintah selalu menyerukan adanya social distancing agar tidak terjadi kerumunan massa, seperti halnya bila pembelajaran tersebut dilakukan di bangku sekolah-sekolah ataupun bangku kuliah yang ada.

Berbagai cara pun telah ditempuh oleh pemerintah lewat kementrian terkait, yang kemudian membantu agar penyelenggaraan proses pembelajaran ini dapat terlaksana sesuai harapan. Termasuk pula langkah pemerintah yang kemudian meniadakan USBN bagi para pelajar yang duduk di bangku SD kelas 6, SMP kelas 9 dan SMA/SMK kelas 12.

Ini semua ditempuh pemerintah agar proses belajar mengajar tetap bisa terselenggara demi kepentingan anak-anak bangsa ini. Yah, tentu saja itu semua ada sisi positif dan negatifnya, namun diharapkan agar semua lapisan masyarakat melihat dengan sudut pandang positifnya saja.  

Memang Covid 19 merupakan virus yang menyerang seluruh dunia dan bila masyarakat tidak mematuhi anjuran dari pemerintah kemungkinan besar hal ini tidak segera berakhir. Dengan kata lain apabila masyarakat kemudian melanggar anjuran atau himbauan tersebut, justru akan semakin memperparah perekonomian dan juga bidang pendidikan bagi masyarakat Indonesia.

Berdasarkan prediksi dari Biro Pusat Statistik (BPS) bahwa lulusan SD dan SMP yang harus melanjutkan pendidikan setingkat lebih tinggi tahun 2020 ini sebanyak 4.973.548 untuk SD dan 4.222.501 untuk SMP. Sedang untuk SMA/sederajat ada sekitar 3.798.823 anak. Bayangkan kalau mereka kemudian tidak dapat melanjutkan pendidikan, apa yang akan terjadi.

Itulah sebabnya mengapa kemudian pihak pemerintah berupaya semaksimal mungkin agar proses pembelajaran tidak terganggu dengan adanya Covid-19 ini. Kita menyadari bahwa masa depan Indonesia akan sangat bergantung kepada generasi ini. Bahkan untuk mengantisipasi hal ini, pemerintah lewat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) membuat skenario bahwa model pembelajaran jarak jauh akan berlangsung sampai akhir tahun 2020, seperti dikemukakan oleh Pelaksana Tugas Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar dan Menengah, Muhammad Hamid, pada 24 April yang lalu.

Bahkan ia menyebutkan bahwa sampai dengan waktu tersebut sebanyak 97,6 persen sekolah telah melakukan pembelajaran jarak jauh dan sisanya 2,4 persen belum melakukan karena daerahnya belum (mudah-mudahan tidak akan) terjangkit Covid 19.

Dari 97,6 persen tersebut, 54 persen sekolah telah melakukan proses pembelajaran dari rumah. Sedang 46 persen dari sekolah yang ada, guru melakukan proses pembelajaran dari sekolah, sedang siswa tetap tinggal di rumah. Hal ini dilakukan karena masih ada sekolah yang mewajibkan guru tetap menjalankan piket di sekolah masing-masing.

 Itulah sekadar ilustrasi yang terjadi dan melanda dunia pendidikan di Indonesia tahun ini karena adanya Covid 19 yang benar-benar sangat mengganggu kelancaran proses belajar mengajar, terutama di Hari Pendidikan Nasional kali ini. Kita berharap pandemi ini segera berakhir dan menjadikan kehidupan masyarakat, terutama sektor pendidikan, segera pulih kembali sepeti semula. Semoga. (Drs Djati Julitriarsa MM, Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen YKPN Yogyakarta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here