Home Pendidikan Pendekatan Virtual Reality dan BCI Lebih Obyektif Mengukur Rasa Takut di Ketinggian

Pendekatan Virtual Reality dan BCI Lebih Obyektif Mengukur Rasa Takut di Ketinggian

396
0
Jumpa pers secara virtual tentang pendekatan VR dan BCI hasil penelitian Yusuf Asyhari S.Kom M.Kom, Mahasiswa Konsentrasi Informatika Medis, Program Studi Informatika, Program Magister FTI UII, hari Jumat 26 Februari 2021. Foto : kiriman Jerri Irgo

BERNASNEWS.COM – Banyak orang merasa takut pada ketinggian tertentu, seperti di pesawat saat dalam perjalanan, di atas pohon atau pun dalam ketinggian tertentu. Mereka yang tidak kuat atau tahan dalam ketinggian tertentu bisa berakibat fatal, misalnya stress, gemetar, keringat dingin atau bahkan jatuh dan sebagainya.

Namun, hal itu bisa dicegah sejak dini dengan mengukur rasa takut seseorang pada ketinggian. Dengan mengetahui tingkat rasa takut tersebut maka seseorang bisa menghindari ketinggian tertentu untuk mencegah kejadian yang lebih fatal.

Yusuf Asyhari S.Kom M.Kom, Mahasiswa Konsentrasi Informatika Medis, Program Studi Informatika, Program Magister FTI UII, menemukan pendekatan Elektroensefalografi berbasis Antarmuka Otak-Komputer (brain-computer interface/BCI) untuk mengukur rasa taku seseorang pada ketinnggian tertenut atau Visual Height Intolerance (VHI).

Dikatakan, penelitian ini dilakukan dengan latar belakang banyaknya tragedi jatuh dari ketinggian yang juga dapat dipengaruhi oleh kurangnya ketahanan diri dalam menghadapi VHI. Dengan diagnosis atau identifikasi yang lebih dini, maka kualitas hidup dapat diperbaiki dan ditingkatkan.

“Langkah ini dilakukan agar siap menghadapi lingkungan dalam berbagai situasi dan kondisi, tidak gemetar dan berkeringat, mata tidak berkunang-kunang dan stres, jantung tidak berdegub kencang atau gejala di tempat tinggi lainnya,” kata Yusuf Asyhari dalam jumpa pers secara virtual, hari Jumat 26 Februari 2021.

Dikatakan, berbeda dengan pengukuran secara langsung seperti dilakukan Huppert dan koleganya pada tahun 2017 yang melakukan pengukuran berdasarkan kuesioner (VHISS) dengan jawaban berdasarkan pengalaman subyek, penelitian yang ia lakukan menggunakan Virtual Reality (VR) dan Brain-Computer Interface (BCI) sebagai alternatif pengukuran yang lebih obyektif.

“Penggunaan VR dan BCI menjadi solusi biaya yang tinggi, daftar tunggu yang lama, keengganan umum untuk mencari tahu dan akses diagnosis berbasis bukti,” kata Yusu Asyhari yang didampingi Dhomas Hatta Fudholi ST M.Eng Ph.D selaku Sekretaris Program Studi Teknik Informatika, Program Sarjana/ Dosen Pembimbing dan Izzati Muhimmah ST MSc Ph.D, Ketua Program Studi Teknik Informatika Program Magister FTI UII.

Dikatakan, pendekatan VR dan BCI telah banyak digunakan, namun masih sebagai alternatif dari pengukuran VHI dari metode VHISS yang belum banyak digunakan.

Menurut Yusuf, pendekatan Elektroensefalografi berbasis BCI dan VHI ini diperoleh melalui sebuah penelitian yang dilakukan selama 6 bulan di daerah timur Kabupaten Ngawi, Provinsi Jawa Timur. Daerah ini dipilih karena terletak cukup jauh dari pegunungan atau lingkungan yang cukup tinggi, dengan pertimbangan mayoritas subyek tumbuh dan berkembang di dataran rendah agar diperoleh subyek dengan tingkat kecemasan terhadap ketinggian yang lebih besar.

Dan hasil penelitian ini telah diimplementasikan di SMA Negeri 1 Karangjati sebagai salah satu inovasi dalam menunjang kualitas hidup siswa. Beberapa pertimbangan yang diharapkan antara lain mengetahui kemampuan siswa di tempat tinggi untuk mengukur karir dan pendidikan siswa selanjutnya.

Selain itu, untuk mengetahui metode belajar mengajar yang lebih tepat untuk guru olahraga dan pembina kegiatan sekolah lainnya dalam meningkatkan kesehatan mental dan fisik serta mengetahui batas kemampuan siswa dalam menghadapi lingkungan sekitarnya. “Sebab, lingkungan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas hidup,” kata Yusuf. (lip)


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here