Home Opini Pemuda Bersatu, Bangkit dan Tumbuh

Pemuda Bersatu, Bangkit dan Tumbuh

94
0
Ben Senang Galus, penulis buku "Kosmopolitanisme Satu Negeri Satu Jiwa", tinggal di Yogyakarta)

BERNASNEWS.COM – Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan ku cabut Semeru dari akarnya. Berikan aku 10 pemuda maka akan ku guncang dunia--Ir Soekarno

SEJARAH mencatat peran pemuda Indonesia dari masa ke masa senantiasa berdialektika dengan semangat patriotik, idealisme, dan gagasan. Kini pemuda dihadapkan iming-iming konsumerisme digital dan kenyamanan hidup yang melenakan.

Pertanyaan esensial yang perlu dikemukakan ialah mengapa para pemuda (baca: mahasiswa) jarang sekali terlibat dalam sebuah gerakan atau aksi yang masif seperti mahasiswa generasi ‘66, ’74, dan ’98? Barangkali saat ini mahasiswa kita sudah mengidap penyakit hibernasi (istilah kedokteran) merujuk pada penurunan semangat (intelektual), loyo darah. Atau para mahasiswa cenderung menjadi martir-martir dari hingar bingarnya teknologi digital.      

Mereka lebih memilih mengisi waktu (sebagian besar) dipakai untuk otak atik hand phone, kegiatan karitatif, pesta pora, ulang tahun. Jika demikian halnya mahasiswa saat ini tidak lebih sebagai membership group atau crowd. Maka tidak heran pada saat ini dan pada kesempatan ini saya boleh mengatakan mahasiswa telah mengalami krisis kemampuan intelektual, jangkauan intelektualnya sebatang korek api

Pemuda (baca: mahasiswa) saat ini menganut ilmu pisang, sekali berbuah langsung mati. Cobalah menganut ilmu sumur, berjuta-juta kubik orang menimba airnya tidak akan pernah habis atau kering alias tidak pernah berhenti berinovasi, menulis, berdiskusi, berdialektika, dan sebagainya.

Adalah tidak cukup bahwa mahasiswa memahami ilmu agar pekerjaan akan meningkatkan berkah manusia, kecuali mahasiswa mengambil bagian dalam kehidupan riil manusia dan memecahkan masalah aktual yang dihadapi masyarakat. Inilah fungsi mahasiswa sebagai agent of social change, agent social of the future. Kepada para cendekiawan kampus: Karl Marx berujar “kalau para cendekiawan hanya sibuk dengan angka-angka, campuran kimia, dan makin bangga kepintarannya yang kian sempit, tetaplah yang paling utama adalah manusia dan masyarakat”.

Sejarah Indonesia adalah sejarah pemuda Indonesia, yang dimulai dengan Perhimpunan Indonesia di Belanda, Sumpah Pemuda, Revolusi Agustus 1945 hingga penggulingan Soeharto (1998-reformasi). Hanya sayang gerakan pemuda pascareformasi tidak melahirkan pemimpin, seperti gerakan pemuda tempo doeloe. Pemuda tempo doeloe, rela masuk penjara demi Tanah Air, ke mana-mana bahkan di dalam penjara sekalipun bekal mereka adalah buku, bolpoin, mesin ketik, bacaannya banyak, argumentasi dan narasinya tajam, jago menulis, keluar dari penjara kemudian menjadi pemimpin bangsa.  

Watak khas dan arah dari revolusi Indonesia pada permulaannya memang ditentukan oleh “kesadaran pemuda ini.” Mohammad Hatta, mengajukan pertanyaan retoris, “Apa sebabnya pemuda-pemuda, mahasiswa Indonesia, secara aktif ikut berpolitik?” Lantas ia jawab sendiri, “Kalau mahasiswa Belanda, Perancis, dan Inggris menikmati sepenuhnya usia muda yang serba menggembirakan, pemuda Indonesia harus mempersiapkan diri untuk suatu tugas yang menuntut syarat-syarat lain. Tidak ada jalan lain yang sudah siap dirintis baginya; tidak ada lowongan pekerjaan yang sudah disiapkan baginya. Sebaliknya dia harus membangun mulai dari bawah, di tengah-tengah suasana yang serba sukar, di tengah-tengah pertarungan yang penuh dendam dan kebencian. Perjuangan kemerdekaan yang berat membayang di depannya, membuat dia menjadi orang yang cepat tua dan serius untuk usianya” (Onghokham, 1991,111).

Pemuda tempo doeloe tidak haus kekuasaan dan harta. Beda dengan pemuda sekarang, setelah menjadi pemimpin, memegang kekuasaan, kemudian masuk penjara, karena kasus korupsi. Mereka (pemuda sekarang) sangat haus kekuasaan dan harta. Perjuangan pemuda sekarang-memang mereka sering berteriak, bakar ban di jalan, menjemur di panas mata hari- tapi ujung-ujungnya minta kekuasaan dan harta.

Jika Karl Marx memercayakan perubahan pada perjuangan “kelas” dan Max Weber mengalamatkannya pada “aliran kultural”, adalah Ortega Y Gasset yang memercayai kaum muda sebagai agen perubahan. Pandangan terakhir ini memperoleh perwujudan historisnya di Indonesia. Selagi rakyat masih banyak berselimut dengan kegelapan, kaum terpelajarlah yang membukakan matanya bahwa ia mempunyai hak atas hidup sebagai bangsa yang merdeka. Mahasiswa hidup di tengah-tengah masyarakat. Itulah sebabnya mereka mengerti dan memahami betul apa yang dirasakan dan dialami masyarakat. Jika ada yang mengatakan tidak boleh atau melarang aksi mahasiswa, mungkin ada yang tidak senang dengan aksi mahasiswa.

Pemimpin Bumi

Peringatan Sumpah Pemuda ke-93 kali ini mengambil tema Bersatu, Bangkit Dan Tumbuh. Di tengah kita sedang menatap dunia, sadar atau tidak kita sedang mengalami keprihatinan yang mendalam terhadap dua hal.

Pertama, hari ini kita disuguhi fenomena baru tentang berubahnya pola relasi kemasyarakatan kita akibat arus modernisasi dan kemajuan teknologi informasi. Pesatnya perkembangan teknologi informasi ibarat pisau bermata dua. Satu sisi ia memberikan jaminan kecepatan informasi sehingga memungkinkan para pemuda kita untuk peningkatan kapasitas pengetahuan dan skill.

Pada sisi yang lain membawa dampak negatif. Informasi-informasi yang bersifat destruktif mulai dari pornografi, narkoba, pergaulan bebas hingga radikalisme dan terorisme juga masuk dengan mudahnya tanpa dapat kita bendung dengan baik.

Lahir generasi baru yang memiliki pola pikir serba cepat, serba instan, lintas batas, cenderung individualistik dan pragmatik. Betapa sering, akhir-akhir ini kita disuguhkan kasus-kasus kekerasan dan pembunuhan yang melibatkan anak-anak muda kita. Setelah ditelusuri, kasus-kasus tersebut bermula dari interaksi di sosial media. Social media telah menjelma menjadi tempat favorit berkumpulnya anak-anak muda lintas negara, lintas budaya, lintas agama. Interaksi mereka di media sosial berjalan real time 24 jam. Tidak mudah bagi  orangtua, guru, lembaga pendidikan termasuk negara untuk dapat mengontrolnya.

Keprihatinan kedua adalah terkait fenomena pengelolaan Sumber Daya Alam kita yang belum sesuai dengan konsep pembangunan berkelanjutan atau sustainable development. Kita menyaksikan di layar kaca televisi dan media sosial lainnya, di berbagai daerah sering terjadi banjir bandang, tanah longsor, kelaparan, penyakit menular. Itu semua karena pembangunan kita tidak memperhatikan daya dukung lingkungan dan keseimbangan ekosistem alam.

Oleh sebab itu, dalam kesempatan kali ini, kita menggugah semangat kepeloporan pemuda untuk Bersatu, Bangkit, dan Tumbuh mengambil bagian dalam penanggulangan musibah tanah longsor, banjir, gerakan membersihkan kota, sungai, pantai dan juga gerakan menjaga keseimbangan iklim melalui pengelolaan Sumber Daya Alam yang bertanggungjawab dan berkelanjutan, misalnya jangan membuang sampah di sembarang tempat.   

Salah satu ikrar penting dalam Sumpah Pemuda 1928 adalah “satu tanah air, tanah air Indonesia”. Poin ini memberikan tekanan yang sangat kuat kepada para pemuda akan pentingnya menjaga tanah dan air sebagai bagian penting dari komponen bumi yang kita pijak ini demi keberlangsungan masa depan generasi penerus kita. Bencana alam yang terjadi sebagian besar karena ulah tangan manusia.

Sumpah Pemuda hendaknya dijadikan momen penting  menjadi earth leader ( pemimpin bumi) yang baik, adil dan bertanggung jawab. Hanya dengan menjaga dan merawatnya kita bisa menjaga keberlangsungan bumi hingga masa yang akan datang seiring dengan pembangunan peradaban kita.

Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 membuat kita bangga, bahwa Pemuda Indonesia telah mengawali sebuah perubahan besar untuk negeri ini. Tekad dan keberanian pemuda telah menginspirasi dan menguatkan persatuan dan kesatuan bangsa jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia dideklarasikan. Sungguh, sebuah momentum sejarah yang patut untuk terus kita kenang, kita refleksikan, kita pelajari, kita teladani dan kita semaikan spiritnya demi kebangkitan para pemuda Indonesia. 28 Oktober 1928, tahun yang cukup jauh sebelum Indonesia mencapai kemerdekaanny

Pemuda kita sudah memiliki kesadaran yang sangat tinggi, bahwa tanpa persatuan dan kesatuan seluruh elemen bangsa, Indonesia sebagai sebuah bangsa dan negara tidak akan pernah bisa terwujud. Kobaran semangat kesatuan, persatuan dan cinta tanah air lah, yang membuat hati para pemuda saat itu dari seluruh penjuru negeri, berkumpul dan berikrar suci demi cita-cita luhur tegaknya Indonesia. Mereka, para pemuda itu tidak mempedulikan apa latar belakang agama, suku, ras dan golongan mereka. Mereka hanya peduli dengan satu identitas saja, yaitu Indonesia.

Melalui Revolusi Mental yang telah dicanangkan Presiden Jokowi Widodo, kita berharap lahir generasi muda Indonesia yang tangguh, berkarakter, mandiri dan rela berjuang untuk kepentingan bangsa dan negaranya. Rela berkorban menanggalkan ego sukunya, ego agamanya, ego kedaerahannya, ego kelompoknya dan ego pribadinya demi kepentingan yang lebih besar yaitu Indonesia, seperti yang pernah dilakukan oleh para pemuda pendahulu kita. Inilah tanah air kita, inilah bumi kita, inilah masa depan kita. (Ben Senang Galus, pemerhati masalah sosial, tinggal di Yogyakarta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here