Home Pendidikan Pemimpin Sukses Tak Sekedar Menyenangkan Orang Lain

Pemimpin Sukses Tak Sekedar Menyenangkan Orang Lain

109
0
Rektor Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta Prof Dr. Edy Suandi Hamid, MEc. (Foto: Dok. Humas UWM)

BERNASNEWS.COM — Pemimpin yang dikategorikan suskes berani mengambil risiko atas kebijakannya, bukan sosok yang sekedar ingin menyenangkan orang lain. Itulah pemimpin substantif.

Hal itu disampaikan Rektor Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta Prof Dr. Edy Suandi Hamid, MEc, Sabtu (11/12/2021), di hadapan peserta Musyawarah Besar Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum UWM.

Profesor ekonomi pembangunan tersebut menyatakan, bahwa pemimpin yang berhasil bisa menunjukkan jalan kepada masyarakat menuju ke arah situasi yang lebih baik, bisa meyakinkan gagasan atau kebijakannya kepada warga, dan memiliki gaya kepemimpinan tertentu.

“Pemimpin itu tidak sebatas tanda tangan surat, menghadiri acara-acara seremoni tertentu dengan kepala kosong, tidak mengerti apa yang harus disampaikan ke masyarakat. Pemimpin demikian masuk kategori pimpinan formal saja, sekedar menjadi pimpinan,” ujar Prof Edy.

Pemimpin substantif dalam memutuskan dan menjalankan kebijakan harus berani untuk mengambil risiko. Sikap demikian sangat penting bagi pemimpin untuk menunjukkan apakah dirinya memiliki komitmen dan kompetensi.

“Kemudian pemimpin juga mampu bersikap demokratis. Pemimpin ya perlu meghargai orang lain, menerma pendapat, saran yang berbeda-beda dari warga dalam mencapai tujuan,” tegas Rektor UWM yang hobi gowes.

Mencapai kategori pemimpin substantif, menurut Edy Suandi Hamid, terjadi bukan secara alamiah dan dilahirkan. Siapapun bisa menjadi pemimpin besar, yang mampu mengelola kebijakan, menghadirkan solusi atas berbagai persoalan, melalui pelatihan-pelatihan kepemimpinan.

“Saya menjadi pemimpin seperti rektor di berbagai universitas bukan lantaran dilahirkan. Itu saya mencapai melalui berbagai latihan kepemimpinan. Jalan yang saya tempuh adalah menjadi aktivis kampus. Jadi saya menjadi pemimpin karena saya menjadi aktivis kampus,” ujarnya.

Dengan pelatihan kepemimpinan, siapapun bisa kompeten menjadi pemimpin. “Agar seorang bisa menjadi pemimpin, itu bisa dididik. Hasilnya apakah dia menjadi pemimpin kuat atau lemah, itu terjadi dengan proses,” menurut Prof Edy.

Sementara itu, Dekan Fakultas Hukum UWM Dr. Kelik Endro Suryono, SH, M Hum menyatakan, bahwa eksistensi lembaga kemahasiswaan sekelas BEM sangat strategis bagi mahasiswa dan fakultas. Dengan menjadi pengurus dan anggota BEM, mahasiswa telah maju selangkah untuk melatih dirinya sebagai pemimpin.

“Sebagai calon pemimpin maupun penegak hukum, menurutnya, pelatihan kepemimpinan, menjadi aktivis, praktik komunikasi, menyampaikan pendapat terbuka di hadapan publik atau menguasai soft skill sangat bermanfaat bagi masa depan dan karir mahasiswa,” terang Kelik Endro.

Pihaknya juga mengingatkan mahasiswa perlu menjadi aktivis untuk mendapatkan atribut ketrampilan non akademik. Peran demikian perlu diimbangi dengan disiplin waktu kuliah. Mahasiswa menjadi aktivis tidak berarti boleh lulus melebihi batas waktu yang disepakati dalam perkuliahan.

“Mahasiswa yang aktif di kemahasiswaan itu jangan menjadikannya alasan boleh lulus melebihi waktu empat tahun. Mahasiswa sukses bisa memadukan kegiatan akademik dan kegiatan ekstra kampus disertai tetap berprestasi secara akademik,” ujarnya.

Soal keberadaan BEM, Kelik Endro, menyatakan, sangat membantu tugas fakultas dalam melancarkan komunikasi dengan mahasiswa dan elemen-elemen kemahasiswaan di fakultas dan universitas. (Nuning)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here